Hampir seminggu ini kita lewati dengan canda tawa. Ku tak pernah absen melihat notif dari telefon genggam ku melihat kan ada kabar dari darimu. Entah itu semangat kecil untuk sebrek kegiatan ku. Juga kadang perhatian-perhatian mu tentang jadwal perut ku yang lalai untuk ku isi. Seolah kita hanya hidup berdua saja. Walaupun kamu sibuk dengan “project miliar mu” kamu tak pernah lupa untuk merengek kepada ku untuk mememani mu dalam project mu itu. Jujur, terkadang aku senang dan juga menyebalkan di saat yang bersamaan.

Lambat laun,aku dan kau mulai terbuai dalam indahnya kisah ini. Mulai mengenal dirimu,dunia mu dan semua yang berhubungan dengan mu membuat aku tau bagaimana dan siapa kau. Sejumlah jadwal jalan-jalan dan makan yang selalu engkau tewarkan setelah menjadi orang sibuk. Hahaha aku paham maksud mu. Namun, yah, akhirnya berakhir dengan kegagalan jadwalmu yang penuh. Tak apa aku selalu paham.

Sampai aku sadari aku tak bisa membohongi diriku sendiri di depan mu. Bahwa, aku tak bisa terus seperti ini bersama mu aku merasakan nyaman disuatu waktu aku merasa ini semua harus berakhir. Karna tak bisa aku pungkiri aku masih memikirkan “dia yang aku campakan” dan aku menyesal membuang dia dengan mudah dan seenak nya juga aku ingin mengulang kembali momen bersama dia. Jujur aku wanita yang plin-plan dalam urusan ini. Namun jauh-jauh dilubuk hatiku aku ingin bersama dia bukan bersama mu. Maaf kan aku..

Perlahan aku dengan tegas memgambil keputusan jahat untuk menyingkirkan kau yang sudah “nyaman” dengan ku. Aku dengan tega memutus hubungan yang hangat antara kita demi egois ku. Tapi sejahat-jahat nya diriku aku mohon mengertilah. Aku hanya tak ingin membuat hatimu yang mengembang indah menjadi mengempis dengan sayatan luka olehku. Tolong maafkan aku sekali lagi. Setelah kejadian itu kau dengan beruntun mencariku di semua dunia maya untuk meminta jawaban dan kejelasan mengapa aku memutus hubungan”itu” dengan mudahnya.

Hanya maaf yang bisa aku berikan kepada mu. Dan jika kau menganggap aku adalah wanita yang jahat silahakan aku tak pernah melarang hal itu. Terima kasih untuk mau singgah sementara dalam hidupku dan memberikan kenangan yang hangat buat ku. Aku yakin Tuhan akan memberikan orang baik seperti mu penggantiku “yang jahat” jauh-jauh lebih baik.