Hidup seperti angin yang bergemeriuh. Menghempas lalu menyambar segalanya. Aku di sudut kota dengan keramaian melirih di sekitar, memandang, mengamati lalu berlari. Terlihat kegaduhan satu persatu datang, menyerukan ketidakadilan, kekejian, kejahatan, kepada sesamaku. Aku mungkin hanya bisa menatap dari kejauhan apa yang terjadi di jauh-jauh tempat sana. Keganasan para adam yang seperti (binatang) kepada sesamaku (Perempuan).

Lalu, apa yang salah sama negeriku? Apa yang salah dari keelokan yang diciptakan dari nusantaraku? Aku terenyuh, tertunduk melihat segalanya. Aku malu, aku takut melihat diriku. Terbayang terus dan selalu membayangi dalam hati tatkala segala kekejian tak ada berkurang. Dalam renungan terbersit kata "kenapa aku harus dilahirkan sebagai seorang perempuan? di mana kejahatan selalu akan datang di belakangku, di sampingku, bahkan di depanku, Aku takut.."

Setiap langkah yang aku jalani, tak ada sedikit rasa damai yang memelukku. Ketakutan, kecemasan, kegundahan lalu merapatkan diri menghimpit raga yang mulai melemah. Rasa curiga datang, ketika sepi mulai menghujam waktu yang aku lalui. Perasaan yang ingin memberontakkan, hanya mampu terdiam dan menyiksa batin. Air mata tangisan hanya menjadi jawaban dikala kami (perempuan) tak mampu menjawab ketakutan kami.

Aku, mungkin hanya menulis bait sembari berdoa.kepada Pelindung ku. Aku mungkin lemah, kekuatanku adalah keteguhanku dan perjuangan yang aku jalani dalam hidup. Entah, apakah senyuman dan keramahan mampu membalikkan kejahatan menjadi sebaliknya. Semoga saja iya, karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mendekap diriku.

Kepada kamu wahai adam, maukah kalian menjagaku, kami, para perempuan di negeri ini? Menjaga dengan tulus, dengan kasih sayang, dengan kelembutan seperti Ibu yang menjaga dan berkorban untuk kalian. Jika kalian menyayangi Ibu kalian, apakah kalian juga bisa menyangi ku, kami, perempuan di negeri ini? Tolonglah, dengarkan rintihan ketakutan kami yang tulus dari hati. Bukankah kita diciptakan untuk saling menjaga dan mengasihi satu sama lain?

Advertisement

Aku percaya, tidak ada diantara kita yang tidak berhati mulia. Semuanya, aku, kami,kalian pasti ada ketulusan hati yang terjaga dalam diri. Hanya saja, tak banyak orang diantara kita yang menyadari ketulusan itu. Semua tertutupi dengan keadaan yang menggelapkan jiwa. Tapi, terimakasih dari aku, kami, perempuan di negeri ini kepada kalian, wahai adam. Mungkin tanpa kalian, hidup kami bahkan hidup kita tidak akan seperti pelangi yang berwarna. Terimakasih karena telah menjadi bagian dalam hidup kami.

Namun sekali lagi, maukah kalian menjagaku, kami, para perempuan di negeri ini? Tolong, hilangkan rasa ketakutan ini..