Aku tidak meminta jadi anak bungsu juga tidak pernah ingin jadi anak bungsu. Tapi takdir menentukan aku menjadi anak bungsu. Kita tidak bisa memilih posisi kita dalam keluarga karena itu jadi ketentuan Allah.

Sudah lama aku ingin menulis tentang anak bungsu ini, tapi entah kenapa baru saat ini bisa terwujud. Saat kebanyakan orang berpikir anak bungsu itu manja dan tidak mandiri, disitu lah aku berkeinginan untuk menulis tentang anak bungsu semakin kuat.

Kebanyakan orang menganggap bahwa yang namanya anak bungsu itu pasti bersifat manja. Kalau aku bilang, tidak semua anak bungsu seperti itu karena semua orang pasti punya keinginan untuk dimanja dalam dirinya, hanya kadarnya saja yang berbeda.

Apakah aku manja? Kalau kalian mengenalku di dunia nyata mungkin kalian bisa menilaiku secara langsung. Jika kalian berpikir aku manja, silakan dan itu sah-sah saja, asal tidak berpikir negatif tentang kemanjaan itu.

Kenapa sifat manja sering identik dengan anak bungsu? Terkadang itu tidak adil, karena sifat manja bisa terjadi kepada siapa saja. Menurutku hal ini tergantung cara mendidik dalam keluarga. Jadi kenapa banyak anak bungsu bersifat manja? Aku yakin hal itu karena sejak kecil dia memang selalu dimanjakan oleh keluarganya dengan selalu memenuhi keinginannya, hingga jadi kebiasaan.

Advertisement

Sekali lagi aku sebagai anak bungsu tidak pernah meminta terlahir sebagai anak bungsu. Kelahiranku sudah jadi kehendak Sang Pencipta. Tapi tidak dengan nasibku, nasib aku banyak diatur oleh semua pihak keluarga. Aku tidak niat membandingkan, tapi anak pertama. Apakah dia juga banyak diatur? Dia bebas memilih menentukan jalan hidupnya sendiri. Dari mulai sekolah, cita-cita, bekerja atau tidak dan lain sebagainya. Alternatif terakhir seorang anak pertama akan diberi wejangan oleh ayah ibunya. Tapi dia bebas menentukan hidupnya, mencoba ini itu. Sekarang lihat anak bungsu, pasti harus minta izin dari sang kakak, ayah ibu dan semua pihak keluarga. Dilarang ini itu, harus pilih ini itu karena itu lebih baik.

Aahh padahal yang punya hidup aku. Tapi kenapa banyak orang mempunyai standar untuk anak bungsu. Yaitu, harus lebih baik seperti kakaknya. Anggapan yang sangat mengusik si bungsu. Memang tujuannya baik, tetapi alangkah lebih baiknya si bungsu menjadi dirinya sendiri.

Aku sebagai anak bungsu. Lihat aku gak pernah meminta untuk dilahirkan bungsu. Jadi, apa salah ku? Kenapa aku tidak bisa seperti anak pertama, yang bebas memilih ini itu untuk menentukan pilihan hidup ku. Dan pada akhirnya aku menemukan jati diri ku dan kehidupan yang ku inginkan. Tidak semua hal yang sang kakak inginkan itu sama dengan yang diinginkan oleh anak bungsu juga. Bukankah itu suatu hal yang berbeda? Bukankah si bungsu berbeda dengan kakaknya?

Aku memang tidak sepandai kakakku. Aku terlahir dengan keterbatasan. Aku dan kakakku dua manusia yang berbeda. Maka dari itu tidak perlu menuntutku sesempurna kakakku. Beri aku waktu untuk menjadi diri sendiri. Beri aku luang untuk berbahagia dengan caranya sendiri. Pada akhirnya aku bisa membahagiakan kalian (ibu dan bapak).