Sayang…

Bolehkah panggilan itu kusematkan untukmu? Tapi, sayangnya aku tak sempat memanggilmu sayang secara langsung. Itu hanya harapan yang mungkin menjadi kabut mimpi. Tapi setidaknya di surat ini, aku bisa memanggilmu sayang dan menjadikanmu satu-satunya milikku, kesayanganku. Walau kenyataannya kamu kesayanganku, namun bukan milikku.

Apa kabarmu? Apa kamu masih menyesap kopi di sore hari ditemani alunan suara bang Is, sama seperti terakhir kali kita bertemu? Masih menghisap rokok dengan tagline “Pria Punya Selera"? Masih sibuk dengan segudang jadwal dan aku harus membuat janji jauh-jauh hari denganmu jika ingin ngopi bareng? Masih senang mengembara untuk melihat indahnya indonesia dari ketinggian? Masihkah?

Aku selalu berharap kamu baik-baik saja. Terkadang aku sedikit memaksa Tuhan agar kamu tak apa-apa. Hasil dari menjelajah di beberapa media sosial milikmu, kamu terlihat baik-baik saja. Setidaknya, dari sana aku tahu bagaimana keadaanmu. Tanpa memandang wajahmu maupun mendengar suaramu yang kuhapal di luar kepala.

Sayang, aku memang tidak pandai dalam berbasa-basi. Sudah lama kita tidak berdialog hingga dini hari. Jangankan itu, bertegur sapa melalui lini masa saja sudah jarang. Bahkan dapat dihitung menggunkan jari dalam sebulan terakhir. Kamu tahu? Semenjak itu, jam tidurku semakin kacau. Maaf, ya! Aku belum bisa menepati janji untuk tidur sehat.

Advertisement

Our little, stupid conversation means more to me than you think.

Ada yang ingin kutanyakan padamu. Aku cerewet ya? Kamu tahu kenapa aku cerewet padamu? Kamu tahu, sebenarnya aku sebal ketika aku sudah terlalu peduli dengan siapapun itu, termasuk kamu? Kamu tahu, aku benci khawatir saat kamu tak mengabari? Aku tak suka bertanya-tanya. Itu jawabnya.

Masih bolehkah aku rindu denganmu? Aku rindu berdialog berbagai hal denganmu. Jika sudah berdialog, kita sering lupa daratan layaknya orang yang sedang kasmaran. Nyatanya kita adalah dua orang tuna asmara yang saling membutuhkan dan menguatkan. Kamu kerap mengejekku dengan kalimat "Sabar, ya jomb!". Hei! Kamu kan juga jomblo!

Tidak hanya itu, seringkali kamu melontarkan jokes garing bahkan sampai hal-hal di luar batas bagi kaum tuna asmara seperti kita ini. Kamu ingat tentang filosofi dari selfie? Pertanyaan sederhana yang kamu lontarkan di tengah malam namun aku harus mikir keras untuk menjawabnya di jam-jam rawan.

Dalam diamku, ada ridu yang tak terungkap.

Aku rindu. Ya, aku rindu itu semua! Sebenarnya aku bukanlah wanita yang mudah jatuh hati. Tapi, sayangnya aku mudah rindu. Berulang kali kamu mampir dalam mimpi. Gengsi? Aku memang gengsi untuk mengutarakan itu semua. Terlebih aku masih menjunjung istilah “Masak cewek duluan, sih?”. Tapi tidak denganmu. Aku si pengecut ini memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang dirasakannya.

Kamu, lelaki yang pandai memperlakukan wanita dengan baik dan tahu bagaimana harus bersikap. Kamu yang selalu menjadi pengingat agar aku rajin menjamah tugas akhir, ketika si malas sedang menggelayut manja di tubuh. Kamu yang selalu menemani hingga pagi menjelang, ketika aku bermesraan dengan proposal tugas akhir. Kamu yang mengingatkanku bahwa hari sudah pagi, waktunya kita untuk istirahat.

Saat pagi tiba, kita berlomba untuk bilang “Aku bangun pagi, loh!”. Jelas-jelas tidak ada yang bisa bangun pagi di antara kita. Lucu, ya? Beberapa waktu lalu, kamu sempat mengajakku untuk melihat indahnya Indonesia. Masihkah itu berlaku? Jika ya, kapan kita ke mana bos? Aku mengekor saja padamu. Yang terpenting, aku bisa melihat senja bersamamu.

Diam-diam, aku masih merapal namamu dalam doa. Aku berharap semesta menuntun arah langkahmu ke manapun kamu pergi agar selalu memetakan jalan pulang. Kamu tahu? Akhir-akhir ini aku sedikit memaksa Tuhan untuk memenuhi beberapa pintaku tentangmu.

Rasa kita tidak pernah salah. Mungkin waktu yang bermasalah.

Sebenarnya ada kabar baik dariku, untuk diriku sendiri. Ini bukan tentang ABG mlethek yang baru saja mendapatkan pujaan hatinya atau apapun yang bisa saja menjadi topik ocehan kita. Tapi kabar bahagia ini berhubungan dengan perasaanku. Perasaan yang 4-5 bulan terakhir ini dipenuhi tentang kamu.

Intinya, aku sudah menemukan cara untuk melupakanmu. Bukan dengan menyesap kopi bercangkir-cangkir hingga aku lupa. Bukan dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaanku hingga aku tertidur atau membenturkan kepalaku ke dinding agar aku melupakanmu. Tapi lebih mencari kesibukan sendiri yang membuatku (setidaknya mencoba) lupa padamu. Bagus, kan?

Mitosnya, kamu akan sulit tidur kalau kamu ada di mimpi seseorang. Setelah ini aku melupakanmu dan kamu gak perlu lagi begadang karena hal itu.

Dengan surat ini, aku menyampaikan kalau aku (pernah) benar-benar menyukaimu. Menyukai gelas-gelas kopi milikmu, menyukai caramu tersenyum, menyukai suaramu yang sudah kuhapal di luar kepala, dan menyukaimu sepenuh hatiku tanpa terkecuali. Ada bagian dari tulisan ini fiksi. Aku tidak akan memberitahukan padamu. Biar kamu terka sendiri bagian mana.

Menapak jalan, berjalan lebih jauh, menuju antah berantah, dan mencoba untuk tidak lagi menyukaimu. Yah, walaupun sebenarnya tidak mungkin.

Aku yang (pernah) menyukaimu,

Anggap saja tulisan ini sebagai kado ulang tahunmu hari ini.