Bicara tentang pendekatan atau PDKT, tentu bicara tentang seseorang yang sedang kamu idamkan untuk ada di sebelah kamu. Jika dianalogikan dengan proses memasak, PDKT ini adalah proses mengenal bahan makanan dan cara memprosesnya sehingga menjadi sesuatu yang lezat seperti apa yang kita harapkan. Dengan kata lain, proses PDKT adalah langkah paling penting yang akan dilalui pertama kali oleh setiap orang dalam memilih pasangan.

Kembali ke analogi awal memasak tadi, bagaiamana kamu bisa menghasilkan sesuatu yang lezat jika tidak tahu bahan dan cara mengolahnya?

Dalam PDKT, bagaimana kamu bisa membuat ujungnya indah dan membahagiakan kalau kamu tidak tahu cara yang benar?

Masuk akal bukan? Siapa sih yang tidak mau PDKT berakhir membahagiakan seperti apa yang diharapkan? saya pikir tidak ada yang mengharapkan kegagalan. Semua ingin prosesnya mulus dan berujung jalan bersama.

Sayangnya fakta tidak mengatakan demikian. Sering kali kita jumpai bahkan mungkin merasakan sendiri, PDKTberakhir pada hal yang sangat menyayat hati. Lebih menyakitkan daripada ditolak mentah-mentah. Apa itu? Yap benar...! berakhir dengan FRIENDZONE!

Advertisement

Berikut 3 contoh kalimat penolakan dari gebetan kamu yang menandakan kamu terjebak FRIENDZONE:

"kamu sudah kayak kakak aku sendiri…"

"kamu terlalu baik buat aku…"

"kamu sudah ku jadiin sahabat baikku sendiri…"

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa seseorang bisa terjebak pada FRIENDZONE ini? Mungkin akan ada banyak jawaban dari kepala yang berbeda juga, tapi disini akan disampaikan hal mendasar saja yang paling seringmenjebak kamu didalamnya.

Berikut 3 alasan kenapa kamu terjebak dalam FRIENDZONE:

1. Terlalu nyaman bermain di zona nyaman.

Di dalam kepala banyak orang, mungkin termasuk kamu yang membaca tulisan ini kemungkinan besar pernah terbesit pikiran "yang penting nyaman dulu, kalau sudah nyaman pasti dia mau sama aku". Namun benarkah demikian? Jawabannya adalah tidak benar!. Proses PDKT tidak hanya memerlukan kenyamanan, ada hal penting lain yang kamu butuhkan.

Kamu lupa ada banyak quote di luar sana yang menyanggah pernyataan dalam pikiran kamu itu. Kamu pasti tidak asing dengan quote klasik ini "zona nyaman membunuhmu", "yang nyaman belum tentu jadian" dan masih banyak lagi. Tentu, saya setuju dengan pernyataan-pernyataan tersebut.

Lihatlah sebelah kanan dan kiri kamu saat ini, berapa banyak yang terjebak FRIENDZONE meskipun mereka sudah terasa nyaman. Hentikan cara lama tersebut, lakukan cara yang lain yang dapat menciptakan suasana lebih mendalam. Tunjukan ketertarikan untuk menjalani hubungan dari awal dan lihat responnya. Jika dia menunjukkan ketertarikan pada kamu, kalian bisa mecoba mengenal satu sama lain lebih jauh.

Jika kamu ditolak di awal, setidaknya kamu tidak perlu membuang waktu, pikiran, tenaga dan materi lebih banyak. Kamu bisa lebih mudah move untuk mencari calon lain yang lebih baik.

2. Terlalu mendengarkan apa yang ia katakan.

Sudah hal yang wajar saat mengenal pasangan maka akan saling mengatakan harapan dan pasangan yang ia impikan. Tapi percayalah, apa yang gebetan katakan saat itu tidak 100% benar! Seperti yang dibahas pada point pertama, mungkin gebetan kamu yang mengatakan “aku sih yang penting nyaman dulu baru bisa menjalin hubungan”.

Kemudian kamu bergerak dan berusaha membuatnya nyaman, sampai dia menunjukkan bahwa ia sudah nyaman. Setelah ia nyaman kamu menyatakan cinta padanya, tapi berujung penolakan yang menyakitkan. Berujung pada tanggapan “kamu terlalu baik buat aku” atau mungkin kalimat yang lain.

Saat proses PDKT, kamu tidak perlu 100% percaya pada apa yang ia katakan, fokus pada diri sendiri dan lihat reaksinya. Yap benar…, lihat reaksinya, bukan dengarkan tanggapannya.

3. Memperjuangkan orang yang salah.

Kamu tau dia menolakmu di awal, tapi tetap ngotot dan berharap dia akan berubah. Artinya kamu sedang menjebak dirimu untuk berjalan menuju lubang terjal yang akan membuatmu menderita. Jika dia memang tertarik padamu, dia akan memberikan respon secepatnya setelah kamu memutuskan untuk tidak mengejarnya lagi. Sesederhana itu.

Sebagian dari kamu akan mengatakan "Tapi kalau cinta itu harus diperjuangkan”. Pernyatan tersebut tidak salah, tetapi menjadi tidak sehat jika ditelan sepotong seperti itu. Coba ganti menjadi “cinta itu harus diperjuangkan, jika dia juga memperjuangkanmu”. Jika dia memperjuangkanmu juga, maka ia layak untuk kamu perjuangkan.

Tapi jika kamu memang hobi berjuang tanpa mengharap hasil karena kamu sudah setulus itu, maka silahkan. “Kamu memang kakak yang baik….”

Jika kamu terjebak FRIENDZONE dan nekat memperjuangkannya, itu seperti berjudi dengan kemungkinan kalah 95%. Yakin mau lanjut? ~Gun Abraham