Ketika puluhan tahun lalu Obbie Mesakh berlindung pada payung hitam ketika hujan turun, tak sama dengan aku yang kini membiarkan hujan terus menjilat-jilat sekujur tubuhku hingga basah. Sejenak kunikmati bersama desahan alam yang kian menerpa hingga aku kedinginan. Tidak, aku sama sekali tidak butuh apa pun selain pelukmu. Iya, pelukmu yang menyatu bersama dekapan hujan. Pelukmu, just it.

Apakah kau merasakan rindu sama yang aku nyanyikan melalui hujan? Tidakkah kau ingin bersenandung bersamaku, bersama hujan yang kini membebaskan sesak nafasku dari jerebu-jerebu rindu yang senantiasa mengekangku setiap malam. Peluk aku, dekap aku dengan rindu yang juga kau rasakan. rapatkan pundakmu untukku sejenak berkeluh kesah tentang kerinduan ini. Sejak pertama pun, pundakmu adalah tempat teraman bagiku untuk menangis.

Aku sudah hancur, Bodoh! Kepergianmu telah membuat aku tak lagi sempat untuk bernapas lega. Keberduaanmu dengan ‘dia’, tak mampu lagi membuat mataku mengering. Basah, selalu saja saat keheningan malam mulai menghantui gelapnya duniaku kini—tanpamu. Semburat rindu yang menggoyahkan batinku setiap kaliku membalikkan bayangmu dalam pikiranku. Aku rindu kau, titik! Tiada lagi yang bisa kau katakan pada hujan selain “rindu”.

Aku tahu kau tak rindu padaku, aku tahu kau bahkan tak ingin menoleh ke arahku lagi. Ketahuilah kelak, ketika kau mulai jenuh dengan pacar barumu, saat itulah aku akan tunjukkan bahwa aku bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik darimu. Apa? Kau ingin ngajak balikan? Kau ingin katakan ‘rindu’—yang sempat kau bunuh dariku itu—lagi?

Maaf, aku sudah menemukan sisa rindu yang kuharapkan abadi dalam memberikan hujan di hariku kelak.

Advertisement

Bandung, 24 Oktober 2015.