Latihan Dasar Kepemimpinan atau LDK adalah sebuah pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan (Wikipedia). Dan latihan kepemimpinan merupakan salah satu metode atau cara yang tujuannya untuk mencetak calon-calon pemimpin. Sedangkan pendakian ke gunung merupakan kegiatan yang dilakukan dengan kesadaran penuh untuk dapat membuktikan atau melatih kemampuan diri.

Kedua kegiatan tersebut mempunyai manfaat yang sama, yaitu manfaat untuk diri kita sendiri. Biasanya, hasil pada LDK adalah orang-orang yang dipersiapkan untuk tujuan tertentu. Biasanya, tujuannya untuk mencetak calon-calon penerus suatu organisasi. Sedangkan pada kegiatan pendakian kita dapat menerapkan langsung dan belajar langsung kepada alam (bukan manusia). Artinya apa? Kegiatan LDK sudah pasti sangat jelas tujuannya dan poin yang akan disampaikan ke peserta pasti terencana, sedangkan kegiatan pendakian tujuan serta poinnya diserahkan kepada alam atau terhadap pendaki itu sendiri.

Dari penjelasan mengenai dua kegiatan tersebut, Latihan Dasar Kepemimpinan sebenarnya sangat mirip dengan kegiatan pendakian ke gunung. Hanya saja, metode yang digunakan untuk mencapai tujuannya saja yang berbeda. Tapi mengapa minat pendakian gunung sangat meningkat sedangkan minat untuk mengikuti LDK malah sedikit? Jawabannya adalah karena “pasar”.

Kita sebagai manusia sangat terpengaruh sekali dengan lingkungan. Apapun yang terjadi dengan lingkungan di sekitar kita, pasti akan berdampak terhadap diri kita. Begitupun dengan cara pandangan lingkungan kita terhadap dua kegiatan ini.

Cerita pendakian gunung pasti akan selalu menarik diceritakan, bahkan bangga untuk diceritakan. Selain bisa membuktikan kemampuan diri karena sudah bisa melakukan pendakian ke sebuah gunung, juga keindahan alam yang luar biasa. Dan itu membuat banyak sekali orang-orang yang tertarik untuk mencobanya. Sedangkan cerita-cerita mengenai LDK pasti sangatlah terbalik.

Advertisement

Pandangan terhadap kegiatan LDK pasti akan menakutkan dan sangat sedikit yang dapat bangga telah mengikuti kegiatan LDK tersebut. Pandangan terhadap LDK dari setiap orang memang berbeda, namun kebanyakan beranggapan buruk, bahkan kebanyakan calon peserta LDK sudah ketakutan terlebih dahulu. Ini terjadi karena pandangan terhadap LDK itu sendiri sangat berbeda jauh terhadap tujuan dari LDK.

LDK merupakan kegiatan yang direncanakan dan dilakukan oleh panitia sebagai pelaksananya. Sedangkan pendakian, tidak dapat direncanakan dan alam sebagai pelaksananya. Kemampuan manusia yang terbatas dan kemampuan alam yang mempunyai kekuatan tersendiri inilah yang menjadi titik perbedaan mengapa LDK akan terkesan menakutkan.

Kegiatan pendakian juga lebih mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang ingin melakukan pendakian?

Menakutkannya dari pendakian adalah berasal dari alam. Berbeda dengan menakutkannya dari kegiatan LDK yang berasal dari manusia. Rasa menakutkan yang berasal dari manusia, tentu akan berdampak dendam terhadap manusia yang memberikan rasa menakutkan tersebut. Sedangkan rasa menakutkan saat pendakian, apakah kita akan dendam terhadap alam karena memberikan rasa menakutkan kepada kita?

Risiko yang dihadapi peserta LDK dengan pendaki juga tentu berbeda, karena kemampuan manusia yang terbatas, maka risiko terhadap peserta LDK pun akan terbatas dan tentu dapat dikontrol. Sedangkan pendakian, tentu sangat beresiko dan terkadang tidak ada yang dapat mengontrolnya. Pendakian ke gunung tidak selalu menyenangkan. Ini bergantung kepada mental pendaki tersebut. Apabila pendaki menikmati pendakiannya, maka pendakian tersebut pasti akan terasa menyenangkan. Begitupun pada kegiatan LDK, jika peserta melakukannya dengan cara menikmati acara tersebut, tentu kegiatan tersebut akan terasa menyenangkan.

Sudut pandang terhadap pendakian bisa sangat menakutkan. Begitupun sudut pandang terhadap kegiatan LDK. Itu hanya karena masih terdapat keraguan terhadap diri kita sendiri.