Kala pepatah mengatakan "guru terbaik adalah pengalaman",maka gue belajar dari hal sederhana yang membuat terinspirasi tuk menuliskannya. Mungkin buat yang membawa kendaraan bermotor dan kendaraan roda empat pernah nggak sih mengalami saat-saat dimana kita melihat anak jalanan yang ngamen di samping kita,atau mungkin saat kita melihat anak jalanan tadi ngamen tepat di samping kaca mobil kita.

Lalu ketika ada yang ngamen apasih yang kita lakuin? Kita kadang menolak memberikan uang kecil yang nggak seberapa, padahal yang kita kasihin tuh bukan uang seratus ribu tapi loh kenapa ya kadang kita menolak buat ngasih ke mereka. Dan kalaupun kita ngasih ke mereka uang, pernah nggak sih kita kepikiran gimana dengan nasib anak yang ngamen ke motor atau mobil sob?

Tapi bener loh sob ini apa yang gue rasakan,bahwa gue kepikiran kenapa anak-anak jalanan ini yang usianya rata-rata SD dan SMP malah mau putus sekolah demi memperjuangkan hidup mereka bahkan diantara mereka banyak yang menjadi tulang punggung keluarnya. Benar-benar miris melihat kondisi ini dan membuat gue merasa. Dan hal ini mengingatkan gue terhadap pengalaman ketika berada di perempatan lampu merah soekarno hatta yang ada di Bandung tepatnya di depan samsat.

Saat itu gue melihat ada anak kecil laki-laki yang dia ini meminta segelas air minum kecil yang kita tahu harganya itu cuma lima ratus perak.Tapi saat dia nyari ke warung kecil itu ternyata nggak ada. Terus dia lari-lari,dan gue melihat ada tiga anak perempuan kecil mengelilingi salah satu anak laki-laki kecil yang menangis. Gue kira tidak kenapa-napa, tapi ternyata anak tersebut seluruh tubuhnya ada bintik-bintik merah dan juga dia terus-menerus menangis.

Gue bener-bener nggak tega,gue hanya kepikiran bagaimana cara menolong anak kecil tersebut, tapi yang jauh lebih tega mungkin orang-orang yang ada di dekat sana namun benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi. Maka dari itu, dari pengalaman ini gue belajar bahwa kita tidak bisa selalu simpatik atau ingin dipedulikan oleh orang lain, terkadang kita merasa kekurangan perhatian, tapi pernahkah kita belajar untuk berempati?

Advertisement

Untuk mempedulikan orang lain,sekadar beraksi bukan berbicara saja. Nggak perlu hanya Pemerintah kota aja,masyarakat sekitar aja yang peduli dengan anak-anak jalanan ini,tapi kita juga perlu. Karena kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.

Maka dari itu mulai sekarang kita harus ber-empati karena jika kita ingin dipedulikan oleh orang lain maka kita harus belajarlah peka dan peduli terhadap orang lain.Di mulai dari hal yang sederhana aja.Nggak ada salahnya jika kita mengadakan kegiatan sosial dari sekolah untuk anak-anak jalanan kan ? 🙂

Bukan diri mereka yang menginginkan untuk menjadi anak jalanan,untuk mencari nafkah,untuk menggantikan sosok orang tua maupun dipaksa untuk bekerja. Stop pekerja anak! Pemerintah dan Kita harus jauh lebih peduli guys! 🙂