Apa yang membuatmu tetap hidup? Pertanyaan ini kita jadikan kalimat pembuka dalam obrolan tentang kehidupan. Mungkin kita bukan lah orang yang ahli dalam menganalisa hidup. Tapi, apa yang kita rasakan juga pernah dialami oleh sebagian orang. Apa tujuan hidup kita? Apakah kita menjalani kehidupan ini hanya sebatas lahir, tumbuh dewasa, sekolah, bekerja, menikah dan punya anak? Jika kita teliti lebih dalam, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjalani hidup ini agar terasa lebih berwarna dan benar-benar hidup.

Dalam hidup banyak sekali tujuan yang harus dicapai. Mari kita ibaratkan tujuan hidup dengan pertanyan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran, hati dan jiwa kita. Mengapa demikian? Pertanyaan adalah hal yang dilakukan dengan proses panjang untuk mendapatkan sebuah jawaban.

Begitu juga dengan hidup. Apa tujuan hidupmu? Pertanyaan demikian terdengar sepele, tapi kita akan berpikir sekian jam untuk menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Sebagian dari kita masih ada yang belum tahu apa tujuan hidup nya.

Ingin sukses? Apa yang sudah mereka lakukan untuk sukses? Ingin menikah? apa yang sudah mereka persiapkan untuk menikah? Ingin kaya? Apa yang sudah mereka korbankan untuk mendapatkan kekayaan itu? Tanpa tahu apa yang ingin kita capai, maka kita tidak akan mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidup kita?

Bertanyalah pada diri sendiri. Dengan demikian kita akan menyadari apa yang harusnya kita lakukan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Dengan bertanya kepada diri sendiri, kita sadar sejauh mana usaha kita dalam menikmati hidup. apakah kita sudah benar-benar menikmati hidup ini. Masih banyak diantara kita yang bingung dan ragu tentang hidupnya. Sehingga mereka hanya diam berdiri ditempat tanpa ada kemajuan. Bagaimana kita bisa bahagia, jika kita masih tidak mengerti dan sadar apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kebahagian tersebut.

Advertisement

Saya pernah menanyakan banyak hal ke diri saya sendiri, tentang masa depan yang penuh dengan misteri. Salah satunya, akan menjadi apa saya 5 tahun kedepan? Mungkin bagi kita yang punya cita-cita dari kecil akan mudah menjawab. Menjadi guru, polisi, jurnalis, bahkan presiden. Tapi semakin dewasa, kita baru menyadari bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Maka, untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu melakukan proses panjang dimulai dari menuntut ilmu. Belajar, belajar, dan belajar.

Saya percaya, Tuhan sudah menyediakan apa yang kita impikan. Karir, rezeki, pasangan hidup atau kebahagian. Tugas kita yaitu menelusuri proses tersebut untuk mendapatkannya. Saya mengibaratkan cita-cita seperti buah mangga.

Tuhan sudah menyediakan mangga manis disebuah pohon untuk hambanya. Kita perlu memanjat pohon itu untuk mendapatkanya. Tergelincir, mungkin saja. Tapi apakah kita menyerah begitu saja? Semut yang menjadi halangan, mungkin saja. Apakah kita akan berhenti? Tentu tidak…

Mulailah untuk tidak ragu pada kemampuan diri, dunia terlalu luas untuk orang yang meragukan kata hatinya sendiri"