Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah membuat sebagian besar manusia hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Malah tak jarang ada yang menganggap dunia maya adalah dunia nyata mereka. Facebook masih menjadi media sosial paling diminati pengguna internet meski aplikasi-aplikasi lain banyak bermunculan.

Pada hakikatnya Facebook hanyalah alat. Ia merupakan media yang cenderung bersifat netral. Penggunanya lah yang menentukan apakah ia akan memberi dampak positif atau negatif. Maka, menjadi pengguna media sosial (khususnya facebook) yang baik adalah sebuah keharusan yang semestinya terus diupayakan. Bersikap baik di dunia maya tidak kalah penting dengan bersikap baik di dunia maya.

Lantas, apakah mengumbar kemesraan dengan kekasih (pacar, gebetan, pacar orang, gebetan orang, dsb) di facebook merupakan sikap bermedia sosial yang baik? Mari kita kupas permasalahan ini setajam silet.

Media sosial dan kebebasan berekspresi

Indonesia adalah negara demokrasi. Setiap negara demokrasi identik dengan kebebasan berpendapat. Namun demokrasi yang kita anut bukanlah demokrasi liberal ala barat. Demokrasi yang kita gunakan adalah demokrasi Pancasila. Demokrasi yang berasaskan nilai-nilai ke-Indonesia-an yang Bhineka Tunggal Ika. Kebebasan yang diberikan oleh pemerintah bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Maka muncullah hukum positif dalam wujud undang-undang yang mengambil peran untuk mengawal kebebasan berpendapat di ibu pertiwi tercinta ini.

Advertisement

Tidak ada larangan bagi kita untuk berekspresi seperti apa dan bagaimana selama tidak keluar dari koridor yang sudah ditentukan oleh undang-undang. Misalnya, apa yang kita ekspresikan tidak boleh memuat unsur pornografi, isu SARA, maupun konten kekerasan tertentu. Akhir-akhir ini berita hoax muncul sebagai musuh utama internet sehat di Indonesia. Hal ini selayaknya patut diatur dan diberi regulasi yang jelas oleh pemerintah.

Sejauh ini ekspresi yang berisi kemesraan dengan pasangan, baik berupa foto, caption maupun video, tidak menyalahi regulasi yang ada. Kecuali kalau foto atau video yang diupload adalah foto tidak senonoh. Tapi jika kemesraan yang masih dalam kategori biasa tentu masih bisa diterima. Maka, dalam persepektif hukum dan regulasi, mengumbar kemesraan dengan pasangan di facebook tidak menyalahi satupun aturan yang berlaku.

Sebaiknya kemesraan jangan diumbar

Meski mengumbar kemesraan di media sosial tidak melanggar aturan namun ada baiknya hal tersebut dihindari. Berikut beberapa alasan mengapa sebaiknya Anda tidak melakukannya.

Nihil esensi

Apa tujuanmu mengumbar kemesraan di media sosial? Biar semua orang tahu kalau kamu punya pasangan? Atau biar semua orang tahu bahwa si A adalah gebetanmu? Lantas kalau memang begitu untungnya buat Kamu apa? Kamu pikir orang-orang yang melihat kemesraanmu akan mengagumimu? Mungkin bagi pengguna media sosial yang masih remaja bisa saja mengagumi, namun bagi pengguna media sosial yang sudah berfikir dewasa hal tersebut menjadi sesuatu yang nihil esensi. Hanya orang-orang alay yang melakukannya. Apakah kamu bagian dari orang-orang alay tersebut? Bukankah semakin dewasa seseorang semakin nyaman ia dengan hubungan yang tak banyak orang tahu.

Pasanganmu hari ini belum tentu jodohmu

Tidak ada yang bisa menjamin kekasih kita saat ini akan menjadi pasangan hidup kita kelak. Jodoh itu rahasia Tuhan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri menjadi pasangan terbaik untuk si tulang rusuk. Apakah kamu sepakat dengan pernyataan ini? Lantas jika kelak kau putus dengan pasanganmu yang sekarang, dan di akun facebook mu ada ratusan foto kebersamaan kalian, bejibun caption alay nan menjijikkan, saling tag satu sama lain dalam status demi status. Niscaya banyak foto yang harus kau hapus apalagi kalau ternyata dia menikah dengan orang lain. Kan malu kalau foto kemesraan pasangan sah orang lain masih berseliweran di media sosial kita. Kalau kamu nggak mengumbar kemesraan dengan pasanganmu dan ternyata dia bukan jodohmu paling tidak kamu nggak perlu menghabiskan tenaga untuk menghapus satu persatu kenangan tak sampai tersebut.

Statusmu, harimaumu

Di era sosial media dewasa ini terkadang kedalaman hati seseorang bisa teridentifikasi dari status yang mereka buat. Orang yang suka belajar statusnya akan lebih berbobot. Orang yang nyaman berasyik masyuk dengan dunia percintaan statusnya pasti tak jauh dari hal tersebut. Orang yang islami dan religius statusnya pasti tentang dakwah-dakwah menuju hijrah. Maka, kembali saya ingin mengetuk pintu hati kita semua bahwa sikapmu di dunia maya menggambarkan sikapmu di dunia nyata.

Maka demi nama baik, integritas, dan kebaikanmu di masa yang akan datang di mata para netizen, berfikirlah seribu kali dulu sebelum memutuskan mengumbar kemesraan. Tak banyak manfaat yang kau dapatkan. Dan lagian masih banyak hal-hal yang lebih urgen dan strategis untuk dibagikan dengan kawan-kawan media sosial lainnya dari pada sekedar kemesraan semu sebelum ijab-qabul pernikahan.

Semoga kita bisa menjadi warga dunia nyata dan dunia maya yang baik dengan konsisten. Amin