Dear tersayang,
Semoga saat kau membaca tulisan ku ini, kau bisa kembali mengingat senyumku yang konyol.
Merasakan kembali betapa hangatnya pelukanku.
Semoga dikeningmu sekarang terasa ada bibir yang mengecupmu penuh rasa.

Selamat kembali di duniaku.
Aku dengan senang hati merentangkan tanganku untuk mendekapmu.
Ini adalah tempat yang sudah usang karena tak ada yang merawatnya.
Gelap karena kehabisan lilin untuk dibakarnya.
Kotor karena tidak ada yang mengisinya.
Maaf sepertinya ini, ini bukan tempat ternyaman untuk kau kembali.

Aku tidak tahu, dalam rangka apa engkau membaca tulisanku ini.
Mungkin, kau sedang mencariku.
Untuk meminta ku kembali memanjakan mu,
Atau untuk mengomeli mu karena tak ada kabar dari mu di handphone ku.
Oh oke, mungkin harus aku sederhanakan kata-kataku.
Mungkin kau mencari aku karena Rindu.

Sudah berapa lama kita tidak barter kabar?
Sehari?
Seminggu?
Sebulan?
Setahun?
Oh tidak. Lama juga kita tak bersapa.

Oh iya, ada apa engkau mencariku?
Apakah ada yang ketinggalan disini?
Hemm..
Sebentar, aku akan mengeceknya.

Advertisement

Apakah dompet pink dari mama mu ini yang kau maksud?
Jika ia, ini silahkan kau ambil.
Mungkin ini lebih pantas dipakai wanita kecilmu itu sekarang.

Hemm apa lagi?
kenapa kau tidak kembali pergi?
kenapa kau masih membaca tulisanku?
Masih ada yang ketinggalan?
Oke, akan aku cek kembali.

Apakah kado ulang tahunku yang berisi jam tangan mungil ini?
Oh kalau ini, aku harus menukar batrenya dahulu.
Karena jam ini sudah mati ketika kamu pergi.
Serius, aku tidak mengarang. Detiknya berhenti saat engkau berhenti mempertahankanku.

Kenapa kau masih diam disitu?
Apakah masih ada yang tertinggal di diriku?
Oke aku akan kembali mengeceknya.

Oh iya, aku lupa.
Ternyata aku menemukan baju, blezer, kerudung, dan flat shoes ini. Apakah ini?
Jika ia, silahkan ambil.
Mungkin ini bisa menjadi pundi rupiah untuk mengembalikan uangmu dulu.

Hei..
Kenapa kau masih terdiam?
Masih ada yang ketinggalan sehingga kau tak beranjak?

Kenapa kau melihat ke handphone ku?
Oh ini handphone baru ku, aku menggantinya agar tidak ada foto kita lagi.
Upps.. Maaf..
Maksudnya foto aku dan kamu.
Iya, aku menjualnya karena males menghapus foto kita, banyak banget.
Huftt.. salah lagi.
Maaf bukan kita maksudnya, tapi aku dan kamu.

Memang, bisa saja aku instal ulang agar bisa terpakai lagi handphonenya.
Jika begitu, nanti aku tidak bisa berbohong.
Karena instal ulang bisa saja menghilangkan semua bukti kenangan,
Tapi tidak bisa membawa pergi suatu rasa yang tertinggal.

Hei laki-laki ku (dulu)..
kenapa detak jantungmu terdengar olehku?
apakah ada rasa yang membakar hatimu?
Kenapa engkau masih melihat handphone ku?
Apakah engkau ingin menyamar menjadi guru BP saat ini?

Oh NO…!!!
Handphone ku hanya berisikan melodi galau.
Tidak ada chat dari laki-laki lain, atau history aku dan kamu.
Galeri ku juga hanya fotoku.
Foto aku dan kamu waktu di Kebun Raya Bogor, Ragunan, Taman Mini, nongkrong di Mall,
Sudah tidak ada. Sudah hilang. Tapi lebih tepatnya dihapus.

Lelaki Tampan..
kenapa kau menunduk?
Cobalah mendengak kembali.
Hei..
Kenapa wajahmu memerah?
Kenapa ada genangan air disudut matamu?
Are you oke ??

Oke..
Aku mengerti apa yang kamu rasa.
Kalau kau ingin, aku siap dipelukmu kembali.
Peluklah aku, aku akan membelai rambutmu.

Apakah kau sudah mulai tenang?
Tenanglah aku masih disini bersamamu.
Tapi dalam hitungan ketiga, kau harus melepaskan pelukanmu yaa..
Satu.. Dua.. Tiga..

*Bersambung*

http://majidahrana.blogspot.co.id/2016/01/aku-hilang.html