Lidah itu lebih tajam daripada pisau. Kata-kata yang ditulis/diucap/diketik lebih mampu menorehkan luka.

Ada kalanya kata-kata seseorang dilontarkan begitu saja. Tanpa maksud untuk menyinggung apalagi melukai. Tapi taukah jika mengatakan seseorang bodoh, jelek, tolol dan kata-kata kasar lainnya meskipun hanya bercanda mampu meninggalkan luka dan membekas begitu lama?

Jaman digital yang menjaminkan kemudahan berkomunikasi dengan orang yang tidak kita kenal , tidak kita ketahui ceritanya menjadi salah satu pemicu Bully di dunia maya. Tapi pantaskah kita menyalahkan media sosial yang memberi bantuan begitu banyak untuk kita berkomunikasi? Maukah kita untuk menelaah sedikit , mungkin kita yang salah?

Memang lebih mudah menyudutkan orang lain , daripada menyadari bahwa tidak ada yang sempurna.

Bagi beberapa orang , mengomentari orang lain atau menyudutkan seseorang karena satu kesalahan adalah hal yang menyenangkan. Memang , mengomentari seseorang adalah hal mutlak yang secara sadar atau tidak sadar pasti dilakukan mayoritas orang.

Tapi jika komentar itu di lontarkan di dunia maya , yang mana mereka mempunyai waktu untuk memikirkan baik-baik kata yang dipilih untuk mewakili perasaan mereka terhadap tingkah laku seseorang , apakah itu masih merupakan sebuah tindakan spontan yang bisa diterima akal sehat? Bagian mana yang menyenangkan dari menyakiti perasaan orang yang kita beri komentar kurang baik?

Advertisement

Tidak semua komentar yang kurang baik adalah komentar yang buruk. Beberapa dari komentar itu bisa dibilang membangun , memberikan perspektif baru pada cara pandang seseorang. Tapi haruskah komentar membangun itu ditambah dengan kata-kata buruk yang merendahkan harga diri seseorang?

Memiliki pendapat yang berbeda adalah hal biasa. Tapi haruskah disangkut pautkan dengan kejadian yang kita tidak tahu kebenarannya?

Kita hidup di zaman yang memiliki kebebasan penuh untuk berpendapat. Baik atau buruk , itu adalah hal yang dipercaya oleh masing-masing induvidual. Kebebasan berpendapat bukan berarti kita memiliki kebebasan untuk berkomentar tentang hal yang kita sendiri tidak tau kebenarannya.

Alangkah baiknya jika memang kita ingin tau kebenarannya yang pasti , jika hal itu berhubungan erat dengan kehidupan kita , kita bisa mengandalkan fitur chat pribadi di berbagai media sosial untuk mengutarakan pendapat. Kita mendapatkan kabar pasti tentang hal yang kita mau tahu , dan mereka yang menjadi narasumberpun tidak perlu merasa dihakimi sebelah mata oleh orang yang tidak peduli pada cerita asli.

Banyak orang yang memilih untuk berhenti menjadi diri sendiri hanya karena 'keras'nya komentar yang diberikan oleh orang lain di dunia maya. Tapi lebih banyak orang yang memilih untuk masa bodoh dengan 'keras'nya komentar yang mereka berikan untuk orang lain di dunia maya.

Menyenangkan memang menjadi alasan orang lain untuk berubah. Masihkah menyenangkan jika mereka berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup?

Mereka yang menerima komentar kurang baik terkadang tidak memiliki wadah untuk mengutarakan perasaan kurang menyenangkan yang disebabkan oleh komentar 'keras' itu sendiri. Lantas mereka memilih mengasingkan diri , menutup diri dari orang-orang yang berpotensi menyakiti hati. Jika boleh bertanya , pantaskah kita yang masih sama-sama manusia 'menghadiahi' orang lain dengan kata-kata yang kurang baik?

Jika diijinkan , maukah kita bertukar tempat dengan mereka? Akan panaskah hati kita membaca komentar yang disusun kata per kata dan menghasilkan satu kalimat bahkan kadang satu paragraf penuh kebencian, ditambah lagi dengan rangkaian kata-kata buruk yang semakin merendahkan harga diri seseorang?

Menjadi pembully bukanlah hal yang membanggakan. Banyak cara yang baik yang bisa dipilih untuk memberikan komentar. Berada di posisi yang di bully bukanlah akhir dari segalanya. Saring komentar yang baik , dan tutup mata akan komentar yang kurang baik. Meskipun rasanya seperti ada yang diam-diam menyilet hati , jangan membalas. Jika bukan kita yang memutus rantai bully ini , lantas siapa lagi ?