Tak seberapa lama kita bersama. Sekalipun sebenarnya kumulai semuanya denganmu tanpa rasa, tak sadarkah kamu bahwa wanita mudah lemah di hadapan cinta? Jutaan perhatian kamu benamkan dalam hatiku. Tapi saat cinta mulai tumbuh, dengan tega kamu merenggut semuanya. Aku merasa tak percaya. Saat aku yang sebelumnya paling kamu minta, kini pintu dibukakan begitu lebar bagiku untuk keluar dari sana.

Andai kamu di tempatku! Sadarkah kamu seberapa terguncangnya aku saat mulutmu yang sebelumnya selalu menelurkan kata-kata manis bagiku, kini berubah bagai liang malapetaka? Ternyata aku bukan satu-satunya. Ada dia sebelum aku. Dia yang ternyata telah memiliki tambatan hati. Kamu kecewa dengannya, lalu memutar haluanmu padaku.

Kamu bercanda! Aku hanya alternatif ternyata. Padahal telah kujadikan kamu satu-satunya, bahkan sesekali kumohon pada Tuhan semoga dizinkan menjadikanmu yang terakhir. Tapi saat dia pada akhirnya memutuskan untuk lebih memilihmu, kamu pun menyingkirkanku. Aku tak menyangka ternyata selama ini, denganku kamu hanya bercanda.

Entah apa sebenarnya isi kepalamu. Kamu pemain drama yang luar biasa. Tak pernah terlihat sedikitpun kepura-puraanmu di hadapanku. Tak perlu kamu jelaskan apa-apa kalau hanya untuk membandingkanku dengannya. Aku mungkin memang tak sesempurna dia. Aku mungkin juga tak sedewasa cara berfikirnya. Tapi bukankah wanita dewasa yang baik tak akan pernah merebut milik orang lain?

Jadi tak perlu banyak bicara. Semoga kelak karma itu jadi milik kalian berdua.

Advertisement

Kubanting pintu saat memintamu pergi meninggalkanku. Bersama itu, aku telah menutup hatiku serapat mungkin darimu atau apapun yang berkaitan denganmu. Maka kini, kumohon menjauhlah dariku. Aku tak akan menahanmu. Berhentilah menawarkan persahabatan bagi hubungan kita setelah ini. Bagiku, kamu hanya sepenggal cerita buruk dalam hidupku yang tak layak untuk aku pertimbangkan kembali.

Ini hanya sementara. Sekalipun kulalui beberapa malam penuh air mata setelah berakhirnya kita, bukan berarti selamanya aku tak akan bahagia. Kupetik pelajaran berharga bahwa tak perlu menghabiskan waktuku untuk orang yang tak layak kujadikan bagian utama. Selain itu, aku mungkin bisa sedikit bernafas lega karena menemukan satu fakta bahwa tak selamanya pria yang datang dalam hidupku seperti malaikat akan berakhir dalam akad.

Dalam doa kulantunkan setiap luka yang mengiringi langkahku, yang berusaha menjauh darimu. Inilah air mata yang menetes karena sayatan pada hatiku telah kamu buat sedemikian sempurna. Masih mungkinkah aku mendoakan yang terbaik bagimu? Entahlah! Yang aku tahu, Dia yang menerima setiap doa tidak pernah tidur. Semoga Tuhan adil padaku dan kalian juga.

Apapun yang terjadi nanti, kumohon jangan pernah kembali! Aku berharap tak akan pernah melihatmu lagi setelah ini. Juga wanita yang ada di balik kisah kita.Kuharap dia sesetia yang kamu ingini. Kupastikan padamu bahwa aku akan akan baik-baik saja. Kini aku hanya perlu membiasakan diri tanpa kamu setelah sebelumnya aku telah dibuat terbiasa bersamamu.

Dulu aku baik-baik saja. Hari ini aku baik-baik saja. Selamanya aku baik-baik saja. Sekalipun bukan lagi kamu yang mengisi buku hidupku, aku tetap harus membuka halaman berikutnya. Masih ada harapan menantiku di sana. "Selamat tinggal!" kuucapkan bagimu dan dirinya, yang bahkan belum sempat kukenal. Kumohon berbahagialah agar kelak aku tak perlu menertawakan kalian. Menertawakanmu yang pernah bangga menyandingnya untuk menggantikanku.

Dariku,

Yang sempat dibahagiakan olehmu.