Saya menuliskan hal ini ditengah kesibukan menulis skenario, bukan skenario perselingkuhan. Ini skenario film dalam rangka tugas akhir saya. Saya menyadari dalam kesibukan saya, ada keganjalan perasaan yang terus membelenggu. Saya terus dibayangi rasa bersalah, akibat apa? Ya, perselingkuhan. Mungkin bagi perempuan, perselingkuhan adalah hal yang tidak lumrah. Hal menyakiti adalah tugas laki-laki.

Sedangkan hal merasa tersakiti adalah urusan perempuan. Namun, perselingkuhan bukan hal lumrah bagi seluruh manusia, semua tipenya. Apakah perselingkuhan itu salah? Ya, jelas. Saya tidak membela siapa pun untuk hal yang bersangkutan dengan perselingkuhan.

Dalam perselingkuhan, pelaku yang memulai atau pun menerima tetap salah. Apa pun yang terjadi akuilah kesalahanmu. Meski semua alasanmu tidak dapat diterima, karena apa? Alasan yang kamu berikan akan tetap salah. Para penentu keadilan akan mengatakan “Apa salahnya berkata jujur, kalau bosan, kalau tidak suka, kalau sudah tidak cocok, dan apa salahnya yang lain”.

Yang sebenarnya adalah, para penyelingkuh tau bahwa dari tatapan pertama mereka sudah salah. Pertemanan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang murni. Percikan dari rasa-rasa manis yang menjalar pada hati akan memuncak dan menciptakan benih-benih cinta lalu merusak semua yang telah dibangun dan jaga dengan pasangan selama ini. Sadari, itu tidak terjadi begitu saja, senyummu tidak begitu saja mengembang karena pujian atau kekonyolannya, bukan?

Lalu bagaimana? Jika sedang berfikir, hentikanlah. Beri ruang hatimu dan pikiranmu untuk tidak lagi memikirkan hal itu. Ciptakan suasana baru. Tatap pasanganmu, bayangkan apa yang terjadi bila kehilangannya, bagaimana bila wajahnya menangis mengetahui bahwa bukan dirinya lagi yang jadi alasan senyummu mengembang, dan sudah sampai di mana kalian berjalan, sudah seberapa lama perjuangan yang telah dilakukan sampai ditahap ini.

Bagi yang sedang melakukan perselingkuhan, ini akan menyulitkan. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya memahami posisi kalian. Posisi diri yang berselingkuh tetap salah. Namun sudahi kesalahan itu lebih cepat akan lebih baik, bukan? Karena sehebat-hebatnya tupai meloncat toh akan jatuh juga. Sepintar-pintar kalian menyembunyikan kebohongan toh nanti juga akan ketahuan, entah caranya bagaimana.

Sadari, apapun alasanmu berada diposisi ini sekarang adalah tetap salah. Bagaimana nasib dari hubunganmu kembali lagi pada keputusanmu untuk memilih. Berhenti mendengarkan pendapat orang lain yang membenarkan sikapmu atau menghakimimu, hanya dirimu yang tau jawaban terbaik untuk dirimu sendiri. Kepada siapa pun akhirnya pilihanmu berlabuh, akui dahulu kesalahanmu.

Kejujuranmu akan membantu pasanganmu menerima kesalahanmu, ketahuilah ketika mereka tau bukan darimu maka kemurkaan tidak bisa lagi dihindari. Menyiapkan hati yang lapang, menerima kenyataan bagaimana tanggapan dari pasanganmu. Langkah pertama yang bisa dilakukan, akui dulu bagaimana perasaanmu kepada dirimu sendiri, jujur kepada diri tentang apa yang mengganjal dalam hati kepada pasangan terdahulu, dan ketika sudah menemukan titik terangnya, silahkan diungkapkan. Apa pun yang terjadi ikan tidak bisa berenang di air keruh, bukan?

Dan, yang sudah melewati masa perselingkuhan, bagaimana kabar kalian? Sudah memutuskan kehidupan selanjutnya akan dibawa kemana? Masih menangisi kesalahan? Atau masih dipenuhi rasa bersalah? Berdamailah. Semua orang pernah melakukan kesalahan, kita masih manusia. Kesalahan akan terus salah ketika tidak di perbaiki. Berdamailah dengan hatimu. Mundur satu langkah tidak akan buatmu tertinggal jauh.

Beristirahatlah dahulu, siapa pilihanmu kamu pernah berada di jalan yang salah. Terus berada di jalan itu akan buatmu penat, menjauh dan tutuplah matamu sejenak. Tarik nafas dan hembuskan perlahan, yakini bahwa keputusanmu adalah pilihan yang terbaik untuk dirimu, sekarang. Waktu akan menyembuhkan kesakitanmu. Jauhi berbagai pendapat yang menyalahkanmu, kamu tau jelas kesalahanmu. Tidak, kamu tidak perlu pembenaran apa pun. Yang kini kamu perlukan adalah kembali siap menghadapi duniamu.

Perbaiki sikapmu, siapkan hati untuk kembali menjalin hubungan dengan siapa pun. Jika memang kembali kepada pasangan terdahulu, yakinkan dirinya bahwa itu tidak akan terjadi lagi. Putuskan sikapmu dengan dirinya yang menjadi teman “lebihmu”, berterimakasih lah, karena dirinya pernah membuatmu tersenyum, pernah menghiasi hidupmu, namun tegaskan dirimu bahwa kesalahan itu tidak bisa diteruskan.

Hidupmu, hidup pasanganmu, dan hidup dirinya tidak bisa dijalankan bersamaan. Bila memilih hidup bersama pilihan keduamu, yakinkan juga bahwa kamu tidak akan berselingkuh kepada siapa pun lagi. Akhiri kisahmu dengan yang sebelumnya, akui kesalahanmu dan biarkan ia memberi tanggapan akan sikapmu, terima lah. Hidupmu akan terus berlanjut dengan siapa pun kamu berjalan. Berdamailah!