Sementara kita tiduran sambil scrolling timeline, di Rembang, Kulonprogo, Karawang, Majalengka dan Langkat, petani-petani tua itu tak pernah bisa tidur dengan nyenyak lagi. Tidak dengan menahan perih dari luka yang membuatnya merintih. Tidak juga dengan suara gedor pintu dari aparat dan bising mesin alat berat suruhan perusahaan keparat.

Kisah petani tua Rembang, Kulonprogo dan Karawang sudah mulai meredup. Seredup kehidupan keluarga petani yang sudah dipecundangi dan digusur di sawahnya sendiri. Sejujurnya, Ini bukanlah kisah baru. Sebelumnya telah ada kisah-kisah pilu petani tua Mesuji, Sragen, Indramayu, Bima, Takalar, Ogan Komering Ilir Banggai, Merauke dan masih banyak lagi kisah serupa.

Kini, giliran ribuan petani tua Majalengka, Jawa Barat dan Langkat, Sumatera Utara yang akan terampas tanahnya.

| 17 November 2016 |
Majalengka pagi ini meninggalkan luka. Dua ribu aparat gabungan lengkap dengan setelan sabhara namun tidak dilengkapi “surat perintah” menggempur warga yang menolak adanya pengukuran lahan sebelum proses pembebasan lahan selesai .Petani dan warga enggan sawah dan tanah mereka disulap menjadi Bandara Internasional Jawa Barat. Negosiasi di pematang sawah tak membuahkan hasil. Akhirnya tameng, pentungan dan gas air mata yang ditembakkan berkali-kali sukses menghalau petani seperti saat petani menghalau burung-burung hama.

Tiga petani ditangkap, belasan luka-luka dan puluhan wanita dan anak-anak trauma.

Advertisement

Satu hari pun berlalu..

| 18 November 2016 |
Langkat kasusnya pun ikut terangkat. Kekerasan terhadap petani pun masih terus berlalu. Sejumlah 1500 aparat gabungan Polres Langkat dan TNI LINUD Raider dan puluhan alat berat meluluh lantakkan lahan dan pemukiman petani di desa Mekar Jaya, Wampu, Langkat, Sumatera Utara. Seluruh desa mencekam dikepung dan diisolasi oleh aparat. Mirisnya aparat terhormat ini dikirim oleh PT Langkat Nusantara Kepong yang merupakan perusahaan asing milik Malaysia. Cukup nasionalis bukan?

Puluhan petani mengalami pemukulan, mulai dari anak kecil hingga nenek-nenek tak luput dari pentungan aparat.

Seperti layaknya film uttaran yang diputar berkali-kali, kasus konflik agraria pun berkali-kali ditayangkan di benak masyarakat. Lagi, lagi, dan lagi. Bosan. Karena tak pernah ada solusi. Miris. Karena sang protagonis akan selalu dipecundangi pada setiap akhir episode ini.

Namun, ada pertanyaan yang hingga episode ke-sekian ini belum terjawab.

Dimana mahasiswa? Mahasiswa pertanian? Mahasiswa fisipol? Mahasiswa hukum? Atau bahkan Mahasiswa teknik? Aah mungkin mereka sedang fokus dengan laporan praktikumnya, dengan tugas makalah, dengan draft presentasi, dan segudang tugas akademik lainnya. Atau mungkin sedang sibuk bekerja paruh waktu untuk membiayai uang kuliah tunggal yang bahkan kita tak pernah tau itu digunakan untuk apa saja.

Pada akhirnya, hanya bisa berfantasi membayangkan saat mahasiswa kembali ke jalan, sehingga petani kembali ke sawah dan tentara kembali ke barak~

AW Fatkhurrochman
Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM