Kali ini gue mau share pengalaman ‘get lost’ in Bali. Iya, Bali memang bukan tempat yang baru untuk berpetualang tapi sebetulnya banyak destinasi wisata di Bali yang ga mainstream dan ga boleh kita lewatkan.

Bali emang terkenal dengan wisata alamnya. Misalnya Pantai Kuta sebagai salah satu wisata alam yang jadi icon Bali yang ga bakal pernah bikin bosen. Selain itu, Bali juga terkenal dengan wisata budayanya. Tari kecak, wayang orang dan gamelan khas Bali, Pura-Pura megah nan eksotis jadi daya tarik Bali terutama buat wisatawan mancanegara yang rela ngabisin seluruh liburan tahunannya di Bali.

Nah kunjungan gue ke Bali kali ini emang buat explore Bali dari sisi budayanya. Sebenernya ini karena rasa penasaran gue soal pertentangan antara tradisi dengan modernisasi. Ya kita tau lah ya kalo tradisi biasanya bertolak belakang dengan modernisasi. Tapi ternyata Bali beda, dia bisa jadi peradaban yang modern tanpa meninggalkan tradisi yang diwariskan turun temurun.

Singkat cerita gue sampe di Dusun Merita, sebuah dusun yang terletak di kaki Gunung Agung. Hal unik dari dusun yang dihuni sekitar 400 jiwa ini memiliki mata pencaharian mayoritas sebagai produsen arak Bali. Yes, arak is the world famous liquor from Indonesia.

Ternyata arak Bali diproduksi dengan cara yang sangat mempertahankan tradisi. Meski begitu, mereka berkomitmen untuk hanya memproduksi arak Bali terbaik. Seperti yang kita tahu, arak di Bali bukan cuma pelengkap suka-cita atau rekreasional belaka, tapi juga merupakan instrumen dalam ritual-ritual adat dan keagamaan di sana.

Bukan cuma penggunaannya yang sarat dengan nilai luhur budaya Indonesia. Dalam pembuatannya juga kental dengan nuansa budaya. Misalnya di Merita ini, para pembuat arak sangat percaya dengan kekuatan Dewa Arak atau yang biasa disebut ‘Ida Bhatara Arak Api’ yang ber-stana di ‘Njung Pura’.

Saking dihormatinya dewa ini, tiap purnana keenam menurut kalender Bali (sekitar bulan Desember) selalu dilaksanakan upacara ‘Ngusaba Dangsil’ dan “Ngusaba Ayu’. Pada upacara itu, ‘Ida Bhatara Arak Api’ diundang ke Pura Desa di mana para pembuat arak mempersembahkan sesajen khusus yang dimaksudkan untuk memohon berkah dan perlindungan agar produksi arak tetap lancar.

Warga Bali juga punya tradisi dalam menikmati arak. Upacara minum arak dilakukan dengan cara berkelompok di mana mereka duduk melingkar dan minum dengan menggunakan satu gelas kecil bergantian. Biasanya terdapat dua kelompok yaitu kelompok orang tua dan kelompok remaja. Kelompok orang tua diberikan kehormatan untuk minum terlebih dahulu.

Pemilik hajat memiliki kewajiban moral untuk minum bersama para tamu. Masyarakat Bali menganggap jika tuan rumah tidak ikut minum merupakan hal yang dianggap melanggar norma kesopanan. Bahkan lebih jauh dari itu, dapat dituduh telah memasukan cetik (racun dalam Bahasa Bali) ke dalam minuman yang disuguhkan.

Kalo banyak orang yang berpikir bahwa minuman beralkohol menyebabkan perkelahian dan tindakan kriminal. Hal tersebut tidak terjadi di masyarakat adat Bali. Sebaliknya mereka yakin bahwa minum bersama adalah cara paling efektif untuk merekatkan kekerabatan bahkan acara minum arak merupakan cara untuk menyelesaikan konflik.

So guys.. minum atau ga minum semua terserah lo.. yang pasti, kalo lo mau minum harus disertai tanggung jawab biar ga merugikan diri sendiri dan orang lain.

Ini catatan perjalanan gue di Bali kali ini. Gue percaya Indonesia kaya akan budaya. Salah satunya adalah budaya produksi dan konsumsi minuman beralkohol yang ditemukan di hampir semua peradaban lokal.

Tunggu cerita perjalanan gue selanjutnya.