Dunia akademis dengan dunia kerja adalah dua hal yang saling berkaitan namun sangat berbeda. Di dunia akademis (kuliah), kita mendapat porsi lebih banyak untuk mengenal suatu bidang kerja secara teori, nah dalam dunia kerja kita mendapat porsi lebih banyak untuk mengaplikasikan teori tersebut dalam mengerjakan sesuatu secara nyata.

Sampai di sini, mari sepakat bahwa, AKADEMIS adalah TEORI, dan KERJA adalah PRAKTEK.

Namun saya mau katakan bahwa segala sesuatu di dunia kerja atau perusahaan sangat dinamis, bermacam problematika akan muncul tanpa diduga, bahkan banyak teori yang tidak kita temui bukan karena kita membolos kuliah tapi betul-betul tidak diajarkan, muncul menjadi masalah di dunia kerja.

Oleh karena itu, sebagai seorang professional, karyawan dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan baik dan memuaskan, pilihannya hanya ada dua, belajar lagi atau belajar lagi.

Satu hal yang perlu diperhatikan perbedaan antara mahasiswa dan karyawan adalah tanggung jawab.

Advertisement

Sebagai mahasiswa kita bertanggung jawab kepada orang tua atau siapapun yang menjadi investor biaya kuliah kita, hal itu bukan masalah besar, karena intensitas jadwal kuliah relatif tidak seketat di dunia kerja, oleh sebab itu dapat kita lihat, jauh lebih banyak mahasiswa yang kerja part time daripada karyawan yang mengambil kuliah malam.

Kemudian, sebagai karyawan, pertanggung jawaban kita kepada banyak pihak, dari bawahan, rekan sesama karyawan, maupun atasan. Sanksi sebagai karyawan lebih jelas dan lebih tegas (dibanding sanksi dari orang tua).

Sedikit saja kita bermain-main dengan tanggung jawab, taruhannya adalah reputasi dan jabatan, bahkan bisa pulang membawa stomp map berisi surat pemutusan hubungan kerja. It is not easy genk , sure !

Jadwal kuliah seorang mahasiswa juga termasuk ringan dibanding karyawan yang jadwal kerjanya telah diatur oleh para perumus peraturan di Senayan sana, bahwa jam kerja seorang karyawan adalah 40 jam/ minggu.

Jika kuliah antara hari Senin-Jumat, maka boleh dicontohkan di jadwal yang sama, karyawan harus masuk kerja pukul 08.00, dan pulang pukul 17.00, termasuk jeda istirahat 1 jam. Setiap senin-jumat. Belum lagi jika diminta lembur, harus rela menyisihkan waktu istirahatnya untuk mengerjakan tugas kantor yang mungkin pula dengan deadline yang mencekik.

Parahnya lagi, banyak perusahaan termasuk perbankan yang “melemburkan” karyawan hingga pulang larut malam tak dihitung sebagai lembur yang sebenarnya (tak diberi upah lembur), dengan alibi target, loyalitas, atau kesepakatan di kontrak kerja. Game a jerk what kind of this !

Menjadi mahasiswa, “gaji” dari orang tua akan datang teratur, jadwal kuliah yang tak terlalu mengekang, memiliki teman-teman seusia, dengan problematika yang hampir sama, tentunya adalah surga fana bagi penikmat dunia.

Kenyamanan yang tak murah, maka untukmu yang masih di kursi kuliah, jangan sia-siakan peristiwa itu, jangan pula beberapa tahun kemudian bergumam “coba waktu itu aku begini.” atau “harusnya waktu itu aku begitu….”,

Juga harus siap bahwa cepat atau lambat kalian akan meninggalkan zona nyaman itu, untuk sekedar mengembangkan diri, mencari kemana perahu mendayung menuju gumpalan ketidakpastian dunia ini.

Bahwa sementara duduk di kursi kerja, kau telah menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawabmu dengan baik, di awal bulan senyummu akan lepas menerjang hamparan badai kesedihan, dengan lantang mengatakan bahwa kau memang berharga, pantas untuk mendapatkan apa yang telah menjadi milikmu.

Berulang-ulang, hingga kembali ke kalimat di atas, bahwa hidup ini dipenuhi dengan semangat untuk belajar lagi, dan belajar lagi.

Maka, setelah tertib penuh keikhlasan menjalani setiap proses, aku pastikan kau tak perlu mencari kemana perahu mendayung, tapi perahu itu yang akan menghampirimu, dengan senang hati mengajakmu ke ujung dunia, mengatakan bahwa dunia ini pasti, milik orang yang mau terus belajar.