Tiba-tiba, aku bersiap dengan segala kata. Mungkin juga paragraf tentang cinta. Namun rasanya kelu saat mulai kubaca satu demi satu rentetan artikel tentang sebuah hubungan. Betapa cinta menyakitan penikmatnya. Hidup sebagai seorang masochist yang menerima diri menderita dan merana atas nama cinta. Duhai kau para pecinta, sadarlah cinta tidak seperti itu. Memang benar hidup adalah sebuah keseimbangan. Ada bahagia, pun sebaliknya. Ada kecewa, pun sebaliknya.

Ada dusta maupun jujur. Ada pengkhianatan, juga tentang setia. Seperti tak ada habisnya jika bicara mengenai cinta ataupun hubungan. Namun sebaliknya, jika kau tanyakan padaku apa itu cinta, maka inilah aku yang juga tak pernah punya jawaban pasti tentangnya.

Coba pikirkan kembali tentang konsep cinta yang kau punya dalam alur pemikiranmu. Ketika dunia terlihat berbunga-bunga meskipun sedang tak ada bunga yang merekah, senyummu tersungging ceria. Betapa cerah aura wajahmu mengalahkan sinar matahari (oh, maaf yang ini sepertinya berlebihan). Kau bersiap dengan segala hal baik untuk mendeskripsikan perasaanmu. Kau siap menceritakan dahsyatnya euforia perasaan yang menghinggapi relungmu.

Hingga barangkali, tak ada kata yang pantas untuk mewakilkannya. Maka jadilah cinta begitu luar biasa. Kau mengagumi perasaan itu. Bersemailah ia dalam hatimu. Membawa kedamaian, juga ketenangan yang bahkan tak kau jumpai dalam pasrahmu terhadap Tuhan. Maka ketika satu kondisi yang tak kau inginkan mengunjungimu, wajahmu menjadi pias. Kau tertabrak gamang dan sesekali kau rasa hambar.

Saat itu, sepertinya matamu tertunduk lalu mengalirlah tetes demi tetes yang membanjiri pipimu. Maka apa itu berarti satu episode telah selesai? Belum. Terlalu pagi untuk menulis The End.

Advertisement

Inilah bagian luar biasanya. Di mana para pecinta, seperti tanpa sadar menjadikan dirinya siap mengahadapi segala hal yang sesuai kesepakatan entah oleh siapa. Bahwa selalu ada ujian dalam cinta. Entah berupa pengkhianatan, entah berupa pengacuhan, atau entah berupa apa lagi. Satu konsep terbentuk yakni jika kita siap berdiri atas nama cinta, maka juga harus siap pula dengan segala penerimaan.

Halo, saudara… Penerimaan bukan berarti membiarkan diri disakiti berulang kali. Jika hatimu masih lebam tak berdaya dan menangis tersedu sepanjang malam, maka itu bukan penerimaan. Penerimaan itu jika hatimu dapat berdamai dengan keadaan tak ada sisa lebam di sana. Tak ada raungan tangisan di sana. Baiklah, maafkan jika aku terbawa arus Gemas saat menuliskan ini. Tapi, ayolah sama-sama membuka mata beda antara Masochist dengan menjadi ikhlas.

Tidak apa-apa kalau aku tersakiti. Aku mencintainya dan aku ikhlas menerimanya.

Setelah mengatakan itu, hatimu perih tak terperi dan air matamu menganak sungai hingga tak terbendung. Maka, maaf seperti itu bukan menerima pun juga ikhlas. Ikhlas itu jika hatimu sudah tak sakit hati, sudah tidak marah, atau meledak-ledak. Itulah yang kemudian orang sebut menerima. Penerimaan yang baik. Sudah ya, mulai sekarang kau tahu dua hal itu berbeda. Jangan terjebak lagi dengan istilah ikhlas dan menerima.

Mari kembali dengan pengertian cinta yang masihlah bias pada tulisan ini. Tentu saja aku sadar, sudah bicara ngalor ngidul, ngetan ngulon masih saja tidak ada definisi tentang cinta bukan? Kita kembali pada saat kau merasa sedang jatuh cinta dan betapa warna-warni duniamu. Lalu sekarang, mari bicara hal sebaliknya. Di mana warna-warni duniamu saat rasa itu tak bertahan lama. Di mana rasa yang kau agungkan itu saat satu kondisi yang tidak kau inginkan menghinggapimu.

Sungguh kali ini kau siap dengan segala caci, mungkin juga maki. Tetapi ada juga yang bersiap dengan rontahan. Kalimat yang kalian siapkan sungguh menyayat hati. Menciptakan sikap empati bagi pembacanya, mungkin juga motivasi bagi lainnya. Tapi, kabar bahagianya adalah tidak ada yang sia-sia ketika kita berbagi. Tentang bahagia, pun sebaliknya. Pilihannya untuk membagi yang mana, tergantung pada pribadi masing-masing.

Tidak bermaksud menghakimi atau mencela perasaan yang menjelajahi relung kalian. Ini hanya sebuah opini saja, di mana mencoba membandingkan apa yang terjadi pada diri kita saat jatuh cinta dan sebaliknya. Tetapi, barangkali tulisan ini tak cukup mewakili apapun.

Tidakkah terpikir barangkali rasa yang kita yakini sebagai cinta itu barangkali hanya rasa ingin memiliki, rasa ingin selalu bersama, rasa ingin dijadikan nomor satu, rasa ingin selalu diperhatikan, dan rasa-rasa yang lain mungkin? Jika ia tempat hati kita berlabuh dan tak sesuai dengan apa yang kita bayangkan, maka siaplah kita dengan kecewa. Jika ia tak seperti yang kita inginkan, maka terciptalah perdebatan panas nan panjang yang berakhir saling menyakiti dengan kata.

Jika ia yang kita lihat tak seperti pasangan yang lain, maka jemulah segala rasa. Maka apakah itu cinta? Jika kita masih membandingkan diri dengan orang lain, membandingkan cinta milik kita dan pasangan lain, ini barangkali saja…

Barangkali itu hanya perasaan ingin memiliki. Kita masih belum siap dengan cinta. Hanya barangkali saja.