Dimanakah ketentraman bisa ditemukan diantara berjuta manusia jika setiap segenggam nasi yang masuk mulut harus dibayar dengan martabat “mereka”? Akan teruskah dibiarkan sebuah bangsa yang pernah mengukir keluhuran, keagungan di abad-abad lampaunya, merosot menjadi rombongan tukang catut, pencopet, pencuri, penipu, dan menghabiskan sisa sejarahnya seperti kawanan srigala, saling mengakali dan saling menelan.

Ceritakan pada semua orang tentang kemakmuran! Jangan pernah lupa, kisahkan pada mereka tentang keadilan! Bisakah kita sebut tempat mana di negeri ini yang rakyatnya puas dengan keadaan? Tanyakan pada rakyat kecil di sekitar kita dimana ada pengadilan yang bisa memenuhi keadilan? Bertanyalah pada mereka dimana pimpinan rakyat itu tinggal? Selama ini apakah mereka dibela kepentingannya oleh wakil rakyat? Apakah mereka bangga dengan presiden dan para menterinya? Akankah mereka mengagumi partai politik yang kini ber-iklan dimana-mana? Beberapa orang tidak yakin mereka akan bisa menjawab dengan rasa bangga. Beberapa orang tidak percaya mereka akan menjawab dengan kekaguman yang luar biasa. Mereka pasti kecewa. Mereka sedih. Sayangnya mereka merasa tak tahu harus berbuat apa?

Bagaimana dengan kita mahasiswa? Apa yang mahasiswa kini bisa perbuat?

Kita harus berpikir sejenak. Victor Serge pernah menulis satu pesan untuk kita, kita mahasiswa. Pesan untuk Mahasiswa, “kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menjaga sistem agar berjalan baik dan tak berlaku kejam?

Kita juga harus sadar dan membaca dengan hati kalimat dari orang-orang ini. Tom Brokaw pernah berkata, “pahlawan adalah orang yang membantu pada saat bantuannya dibutuhkan, lalu menepi diam-diam”. Memang kita bukan pahlawan kemerdekaan yang berperang dengan sebilah bambu melawan penjajah demi kemerdekaan tanah pertiwi. Tapi ingat, makna pahlawan lebih dari perjuangan mereka yang dulu pernah mempertahankan hidup dengan sebilah bambu. Perjuangan kita lebih berat kawan. Jadi mahasiswa dan menjadi pemuda bangsa ini sangatlah berat.

Advertisement

Ada kalimat yang luar biasa yang dapat menjadi renungan kita bersama, “bila anda ingin mempertahankan rasa hormat anda terhadap diri-sendiri, lebih baik membuat orang lain tidak senang dengan melakukan hal-hal yang anda ketahui benar, daripada untuk sementara membuat mereka senang dengan melakukan apa yang anda ketahui salah”. Mari kita renungkan bersama lagi, tunjuk hidung kita dan bertanya, “bagaimana dengan saya? Berapa banyak kalimat yang kita ungkapkan hanya untuk membuat orang lain senang padahal kita ketahui itu salah? Ingat lagi kawan, jadi manusia memang tak mudah! Berbuat kebenaran tak semudah kata-kata bohong yang sering kita ucapkan. Kita juga mungkin sering merasa benar, tapi cobalah menelisik lebih jauh di berbagai sisi barangkali kita salah. Lagi lagi ingat, kita tak selamanya benar!

Hal-hal di atas dapat kita jadikan beberapa asupan untuk kepala kita sendiri agar sadar dan menyadari, siapakah dirimu mahasiswa? Tak perlu dulu kita memikirkan masalah bangsa yang dituliskan di awal tulisan ini. Cobalah kita ingat, ingat saja dulu, kita mahasiswa, atau jangan-jangan kita juga tak tahu apa itu mahasiswa? Atau kita juga tidak tahu, apa yang membedakan kita mahasiswa dengan yang lainnya? Cobalah kita definisikan diri kita sendiri. Apa kita terlalu terlena dengan rentetan kegiatan kampus dan lupa dengan fungsi kita yang sebenarnya? Ya , KITA MAHASISWA tunjuk lagi hidung kita masing-masing dan katakan AKU MAHASISWA! Jika kita sudah ingat, coba kita renungkan lagi, sadari setiap kalimat di awal tulisan ini.

Salam ingat kawan.