Tidak terasa tahun depan akan menjadi ujian bagi mereka yang sudah berada di tingkat akhir sekolah,entah itu SD kelas 6,SMP kelas 3,atau SMA dan SMK kelas 3. Tapi aku yang berada di jalur yang berbeda dengan teman-temanku sering bertanya-tanya bagaimana mereka yang berada di SMA.

Mereka selalu bercerita begitu banyak Les yang harus mereka jalani,belum lagi tugas-tugas yang menumpuk,dan lagi sepulang sekolah ada pula yang menjalani Bimbingan Belajar alias Bimbel.

Pendidikan yang ada di mata masyarakat selalu tertuju dengan Sekolah Menengah Atas karena di anggap suatu hari akan ada 2 golongan yang terlahir,yang menjadi Pimpinan atau yang menjadi Penemu. Rasanya pola ranah pendidikan yang di pilih oleh orang tua masih saja tertuju sesuai dengan masa lalu mereka.

Pola didik SMA benar-benar berbeda dengan apa yang aku dapat di Sekolah Menengah Kejuruan yang namanya lebih familiar STM di masa mama papa kita. Setiap anak dikarunia bakat yang berbeda,keingin-tahu-an yang berbeda. Ada kalanya ada anak yang berpikir untuk menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung biaya Bimbel maupun perkuliahan terhadap orang tuanya.

SMK terasa seperti wadah yang berbeda karena memiliki berbagai jurusan yang berbeda.
Lulusan nya selalu memiliki peluang pilihan yang dominan lebih banyak seperti ingin kuliah atau ingin bekerja atau malah ingin ber-wirausaha / menjadi seorang Entrepreneur?

Advertisement

Kadang kala aku bertanya-tanya "Mengapa anak SMK tidak butuh bimbel?" atau "Mengapa anak SMK tidak terlalu khawatir dengan Ujian Nasional atau yang dikenal dengan UN?"
Ternyata yang menjawabnya adalah perbedaan orientasi atau tujuan.

Semua yang berada di SMA tertuju pada Ujian Nasional,mati-matian belajar,ikut bimbel dan ber-prestasi di bidang akademik demi kelulusan. Karena nilai nya bergantung pada hasil UN mereka.

Sedangkan yang berada di SMK,kehidupan nya jauh lebih padat terlebih lagi sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 seperti di SMK Negeri 13 Bandung. Kehidupan yang dikejar nya adalah mampu memenuhi tuntutan materi per materi praktik di pelajaran produktif.

Anak SMK jauh lebih di tuntut mampu menghasilkan suatu produk atau minimalnya mampu melakukan sesuai dengan instruksi yang sudah ada. SMK mampu berinovasi dan juga jauh lebih mandiri.

Well,pilih yang mana? Itu pilihan masing-masing. Karena setiap pendidikan memiliki keunggulan masing-masing dan menghasilkan pola masing-masing.
Siapa bilang anak SMK akan selalu jadi pekerja? Siapa tahu beberapa dari mereka malah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain kan 🙂