Cinta memang tak pernah disangka kehadirannya. Tak pernah disengajakan akan jatuh pada hati siapa. Mengalir begitu saja, tetapi saat kita merasakan jatuh cinta, sadarkah kita bahwa itu adalah salah satu kebesaran Allah SWT? Bersyukurkah kita pada-Nya atas keindahan cinta yang Allah selipkan pada hati kita? Sudahkah cinta membuat kita semakin dekat pada-Nya? Sudahkah kita memaknai dan menempatkan cinta dengan sebenar-benarnya?

Ada sebuah kisah yang insya Allah bisa menginspirasi diri kita masing-masing, tentang betapa dahsyat-Nya kekuatan cinta yang tumbuh karena Allah. Cinta yang tumbuh di atas agama-Nya dan cinta yang tumbuh atas keridhoan-Nya. Tiada satupun yang dapat menentang jika takdir Allah sudah ditetapkan.

“Di antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan di antara kebahagiaan manusia adalah keridhoannya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya” (HR. Imam Ahmad).

Abdullah Khairul Azzam dan Anna Althafunnisa. Pelajar di Cairo University of Saudi Arabia. Meskipun di universitas yang sama dan sama-sama berasal dari Indonesia, tetapi keduanya tidak saling mengenal.

Dikisahkan pada saat itu, Anna sedang menyelesaikan tesis S2-nya. Anna adalah salah satu pelajar terbaik di Cairo University. Anak seorang kyai pemilik pesantren dari Solo. Akhlak dan kepandaiannya begitu luar biasa. Tak heran banyak lelaki yang ingin meminangnya, namun Anna masih ingin menyelesaikan dulu kuliah S2-nya.

Advertisement

Abdullah Khairul Azzam, yang juga seorang pelajar di Cairo University terpaksa harus kuliah sambil berdagang tempe. Ia juga pandai memasak. Tak heran, ia sering menerima banyak orderan dari beberapa agency Indonesia di Arab Saudi untuk menghidangkan kuliner-kuliner khas Indonesia pada beberapa event acara.

Azzam, begitu ia sering disapa, harus membanting tulang untuk membantu keluarganya di Solo selepas kepergian ayahnya. Ia adalah bungsu dari empat bersaudara. Ia harus menyukseskan ketiga adik perempuannya, karena tanggung jawab yang diembannya itu, Azzam terpaksa mengesampingkan hal lain selain kuliah dan bekerja. Termasuk mengesampingkan urusan menikah.

Hingga salah seorang sopir dari sebuah pemilik agency, di mana agencynya sering meng-order masakan Azzam, menyarankan Azzam untuk segera menikah. Pak Ali namanya. Pak Ali ini sudah kenal dekat dengan Azzam dan tahu persis bagaimana Azzam.

Pak Ali ingin mengenalkan seorang wanita yang dianggap Pak Ali sangat cocok untuk Azzam. Wanita itu adalah Anna Althafunnisa, Pak Ali menyarankan Azzam untuk melamar Anna melalui Ustadz Mujab, salah satu keluarga Anna yang juga sedang berada di Mesir. Kebetulan Azzam juga mengenal Ustadz Mujab karena istri beliau sering memesan tempe pada Azzam. Dari informasi dan cerita Pak Ali tentang Anna, Azzam merasa tertarik dengan Anna.

Awalnya, Azzam merasa rendah diri dan pesimis. Mana mungkin orang seperti dia, yang hanya kuliah sambil berjualan tempe, bisa mendapatkan Anna yang notabene anak seorang kyai besar. Tetapi akhirnya Azzam pun memberanikan diri untuk bersilaturahmi ke rumah Ustadz Mujab dan menyampaikan keinginannya untuk melamar Anna. Namun lamarannya ditolak dengan halus oleh Ustadz Mujab.

"Waduh Zam, ini berat ini Zam. Susah bagiku untuk membantumu. Anna Althafunnisa itu sudah dikhitbah oleh temanmu sendiri. Furqan. Sudahlan Zam, kamu cari gadis yang lain saja. "Kan masih banyak gadis Indonesia yang kuliah di Cairo ini Zam.

Dan bagaimana mungkin kamu ini mantep melamar Anna Althafunnnisa, sedangkan kamu ini belum pernah melihat orangnya. Lantas, ukuran apa yang kamu jadikan standard?

Nikah itu tak hanya butuh modal firasat saja Zam. Sekarang ini Anna Althafunnisa sedang mengajukan proposal S2-nya. Menurut kamu, calon suami yang pantas untuk Anna itu yang seperti apa?

Paling tidak, Anna menginginkan calon suami yang strata intelektualitasnya sebanding dengan dia atau mungkin lebih baik. Seperti Furqan misalnya. Dia masuk dalam kriteria Anna. Dia kandidat master dan akan menyelesaikan kuliah S3-nya.

Penolakan Ustadz Mujab membuat Azzam tersadar kembali. Siapa dia berani-beraninya melamar perempuan dengan kulaitas intelektual tinggi seperti Anna. Namun Azzam tak lantas sedih berlarut-larut. Ia semakin gigih bekerja dan menyelesaikan kuliahnya.

Hingga suatu hari, saat Azzam membeli bahan untuk membuat tempe, ia bertemu dengan 2 orang perempuan. Perempuan satunya menanyakan di mana letak sebuah toko buku, lalu Azzam pun memberitahukan lokasinya. Perempuan yang menanyakan lokasi toko buku itu adalah Anna Althafunnisa, namun Azzam tak mengira bahwa itu Anna karena mereka tidak saling memperkenalkan diri.

Tak disangka, ketika pulang dari membeli bahan tempe, Azzam bertemu lagi dengan Anna dan temannya. Kali ini, Anna dan temannya sedang terkena musibah kecopetan dan buku yang sudah mereka beli tertinggal di bus. Azzam pun membantu mereka menunggu bus yang mereka tumpangi tadi.

Azzam: "Bagaimana sudah ketemu kan bukunya?"

Anna: "Alhamdulillah masih lengkap. Terima kasih banyak mas".

Azzam: "Saya rasa, saya harus segera kembali karena ada yang harus saya kerjakan. Di sini sudah dekat dengan rumah kalian kan?"

Anna: "Iya mas. Terima kasih banyak".

Azzam pun kembali pada taksi yang mengantarnya pulang.

"Maaf Mas, namanya siapa ?" tanya Anna setengah berteriak.

"Abdullah" jawab Azzam.

Dari pertemuan itu, tak disangka menimbulkan perasaan lain di hati Anna.

Singkat cerita, akhirnya Anna dan Azzam bisa kembali ke Indonesia setelah lelah berjuang menyelesaikan studi mereka. Sepulangnya dari Mesir, Azzam terus mencoba untuk membuka sebuah usaha dibantu dengan adik-adiknya. Tak lupa, Azzam juga berikhtiar untuk segera mendapatkan jodoh dan menikah, tetapi takdir belum berpihak kepadanya. Setiap lamaran yang ia ajukan pada wanita pilihannya, selalu saja tidak berakhir baik. Azzam pun memilih untuk fokus lagi pada usahanya dan pasrah untuk urusan jodoh.

Sedangkan Anna sedang mempersiapkan diri untuk mempertimbangkan lamaran Furqan, sebelum akhirnya ia menerima lamaran tersebut. Segala persiapan untuk pernikahan sudah dilakukan, termasuk membagikan undangan dan hari ini, Anna berniat memberikan undangan kepada sahabatnya, Ayyatul Husna yang tak lain adalah adik kandung Azzam. Azzam pernah menghadiri seminar sidang proposal Anna saat di Cairo. Dari situlah ia mengetahui sosok Anna, setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi. Dan ketika Anna menyambangi rumahnya untuk memberikan undangan pernikahan kepada Ayyatul Husna, Azzam dan Anna sama-sama kaget bukan main.

"Abdullah" kata Anna terkejut saat melihat Azzam.

Azzam pun hanya bisa diam dan salah tingkah.

"Kenalkan mbak, ini kakak saya yang dulu pernah saya ceritakan sedang kuliah di Cairo seperti mbak Anna" kata Husna.

"Kalau ini saya kenal, tapi namanya Abdullah bukan Azzam " kata Anna.

"Iya Nduk. Namanya Abdullah Khairul Azzam" kata ibu Azzam.

Azzam yang sedari tadi hanya diam. Ada rasa tak enak yang ia rasakan saat tahu Anna akan menikah dengan Furqan.

Saat hari bahagia Anna dan Furqan, Azzam menyempatkan diri untuk datang. Sebagai sahabat dari kedua mempelai. Azzam mengucapkan selamat kepada Furqan dan Anna.

Dan setelah beberapa bulan menikah, Anna merasa ada yang tak biasa dari pernikahannya dengan Furqan. Tak pernah sekalipun Furqan menyentuh tubuhnya, padahal ia sudah halal menjadi istrinya. Hingga akhirnya, Furqan jujur mengatakan dirinya terkena HIV. Mengetahui hal itu, Anna langsung meminta cerai dari Furqan.

Begitu sakitnya hati Anna memikirkan semua ini. Bagaimana bisa cinta dibangun di atas kebohongan. Bagaimana bisa Furqan tega membohongi Anna dan keluarganya.

Kedua orang tua Furqan dan Anna kaget mendengar kabar perceraian anak mereka, sedangakan Azzam, ia telah menemukan tambatan hatinya. Dan sebentar lagi ia akan menikah. Ibu Azzam ingin agar ketika Azzam menikah nanti, K.H Luthfi Hakim yang tak lain adalah ayah Anna Althafunnisa berkenan memberikan tausiyah.

Azzam dan ibunya pun memohon agar pak kyai bersedia, namun ternyata pak kyai menolak permohonan mereka. Bagaimana mungkin ia memberi tausiyah kepada orang yang akan menikah, sedangkan menikahkan anaknya saja ia sudah gagal. Di perjalanan pulang dari rumah pak kyai, Azzam dan ibunya mengalami kecelakaan yang menyebabkan nyawa sang ibu tak dapat tertolong lagi dan Azzam mengalami kelumpuhan pada kakinya. Tidak hanya itu, Azzam terpaksa batal menikah karena orang tua dari calon istrinya tidak bersedia menunggu kepulihan Azzam.

Kembali takdir tak berpihak lagi padanya untuk urusan cinta. Ia hanya sabar dan pasrah terhadap ketetapan Tuhan-Nya. Ia meyakini segalanya pasti akan baik-baik saja. Segala yang ditakdirkan untuknya, pastilah yang terbaik. Itu yang ia yakini.

Azzam akhirnya meminta Kyai Luthfi untuk mencarikan calon istri untuk dirinya. Ia menyerahkan cincin yang dulu pernah ia berikan pada perempuan yang akan dinikahinya kepada Kyai Luthfi. Siapapun pilihan Kyai Luthfi, Azzam akan menerimanya, lalu Kyai Luthfi bercerita kepada Azzam.

"Ada seorang gadis yang sangat halus hatinya. Patuh dan bakti pada orang tuanya. Gadis yang sholihah. Insya Allah. Dia sangat takut pada Tuhannya, cinta pada nabinya dan bangga pada agamanya.

Suatu hari, gadis itu dilamar dan dinikahi oleh seorang pemuda yang dianggapnya bisa memberikan kebahagiaan. Orang tuanya merestui. Bulan demi bulan orang tuanya beranggapan putrinya mendapat kebahagiaan, tapi ternyata yang didapat adalah sebaliknya. Enam bulan pernikahan, lelaki itu tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Gadis itu masih suci. Pemuda itu lalu menceraikannya.

Sekarang pertanyaanku, mau kamu menikah dengan gadis itu?"

"Jika Pak Kyai menjamin, insya Allah saya mau".

"Kamu tidak ragu?"

"Jika Pak Kyai merasa saya pantas untuk dia, dan dia pantas untuk saya, insya Allah saya tidak ragu".

"Kalau begitu, nanti salatlah maghrib di sini. Insya Allah ba'da maghrib aku nikahkan kamu dengan dia. Saksinya masyarakat dan para santri. Maharnya adalah cincin ini".

"Kalau boleh tahu, darimana gadis itu berasal Pak Kyai? Dan siapa namanya?"

"Gadis itu asli dari sini. Namanya Anna. Anna Althafunnisa putriku".

"A… Anna Pak Kyai? Anna Althafunnisa?

Azzam senang sekali mendengarnya, hingga tak kuasa menahan rasa bahagia. Ia mengucapkan alhamdulillah dan Allahu Akbar begitu tahu ia akan dinikahkan dengan Anna Althafunnisa, gadis yang selama ini ia kagumi, gadis yang harus ia relakan untuk menikah dengan sahabatnya sendiri. Gadis yang pernah ia lamar, tapi tertolak dan ia cintai dalam diamnya selama ini.

Anna yang sedari tadi mendengar pembicaraan ayahnya dan Azzam pun tak kuasa menahan rasa bahagianya. Ia langsung sujud syukur begitu mendengar ayahnya akan menikahkannya dengan Azzam. Laki-laki yang dulu ia kagumi, laki-laki yang juga ia cintai dalan diamnya.

Anna yang telah dibohongi oleh Furqan dalam pernikahannya. Anna yang ternyata tidak berjodoh dengan Furqan, lelaki yang menikahinya. Anna yang telah berbesar hati mengikhlaskan segala yang terjadi padanya.

Azzam yang telah berusaha keras membanting tulang dan menimba ilmu di negeri orang, demi kesuksesan dirinya dan kehidupan ibu serta ketiga adiknya. Azzam yang telah kehilangan ibu dan ayahnya. Azzam yang berkali-kali ditolak lamarannya oleh perempuan pilihannya. Azzam yang harus batal menikah karena musibah kecelakaan yang membuatnya lumpuh sementara. Azzam yang masih terus tetap berbesar hati, bersabar, dan berpasrah diri pada Allah.

Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Allah uji mereka dengan berbagai cobaan. Allah tunjukkan bahwa Allah tak pernah ingkar pada janji-Nya. Allah berikan ganjaran yang sebaik-baiknya pada orang yang mau bersabar dan berpasrah diri setelah usahanya.

Anna dan Azzam yang saling mencintai dalam diam, akhirnya Allah satukan mereka. Segala kesabaran mereka menjadi jembatan atas bersatunya hubungan mereka dalam ikatan suci pernikahan.

Kisah Anna dan Azzam mengajarkan pada saya khususnya, dan para pembaca sekalian bahwa takdir Allah tak pernah salah. Takdir Allah itu baik bagi hamba-Nya. Diri kita sebagai hamba hanya wajib untuk percaya dengan Allah. Pasrahkan segala sesuatu di tangan Allah setelah kita berusaha dan berdoa kepada Allah.

Termasuk urusan jodoh. Tak perlu dirisaukan, Allah sudah siapkan teman hidup yang sesuai dengan diri kita, Allah sudah siapkan yang terbaik untuk kita. Jodoh adalah cerminan diri kita. Jika ingin jodoh yang baik, jadilah baik. Terus pantaskan diri dan mendekat pada Allah. Keep Hamasah & Istiqomah.