Belakangan ini beredar tulisan seseorang mengenai pemikirannya tentang Agama yang di anggap sebagai warisan, gaya penulisannya yang apik membuat pembacanya terbuai seakan paragraf-paragraf itu merupakan suatu standar kebenaran yang orang lain lupakan saat ini. namun benarkah agama itu sebuah warisan?

Setiap dari kita mempunyai kapasitas dan keahlian dibidang masing-masing, orang yang layak mendiagnosa sebuah penyakit adalah dokter berdasarkan keilmuan yang telah dipelajari, begitu juga dengan seorang pengacara dengan keilmuan hukumnya, seorang akuntan dengan ilmu akuntansinya, namun ketika menyangkut tentang agama, seakan-akan semua ahli dalam bidang ini. bukankah ulama dengan keilmuannya lebih pantas?

Penyelewengan pemikiran mungkin saja terjadi jika kita berbicara atau mengomentari sesuatu yang (bahkan) bukan kapasitas dari keilmuan kita, saya akan berikan contoh tentang perbedaan pandangan jika semua hanya di dasarkan pada opini tanpa keilmuan dan saya menggunakan opini pribadi saya untuk memberikan contoh bagaimana timbulnya perbedaan pandangan.

1. Warisan : "setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku dan kebangsaan kita. setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri"

My Opinion: ras dan suku tidak ditentukan beberapa menit setelah lahir, itu bahkan ditentukan oleh Tuhan sejak kita belum ada dan itu adalah takdir yang tidak bisa kita rubah yang melekat pada identitas kita, kita akan menghargai satu sama lain jika mempunyai perbedaan dan itu wajar. sedangkan sebuah kebangsaan atau hubungan hukum antara seseorang dengan Negara itu dapat dipilih dengan status kewarganegaraan, anda dapat memilihnya dengan menjalani persyaratan yang ditentukan. kemudian Agama, setelah kita lahir memang orang tua kita mengajarkan agama yang mereka anut kepada kita, kenapa? karna kita tidak bisa mempelajarinya sendiri saat masih bayi dan kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya, tapi tentu saja saat kita dewasa kita bisa mempelajari agama lain bahkan kita bisa memilih untuk memeluk agama yang kita inginkan. dan jika membela mati-matian tentu saja itu wajar, karna jika kita melakukan pembelaan berarti ada sesuatu yang mengusik diri kita, dan yang patut disalahkan bukan aksi pembelaan, melainkan aksi pengusikan. tapi jangan lupa untuk tetap memaafkan.

Advertisement

2. Warisan: "bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama"

My opinion: menurut saya masyarakat Indonesia (kita) tidak menarik satu sama lain untuk berpindah agama, setiap dari kita melaksanakan agama yang kita anut masing-masing "Lakum diinukum Waliyadiin" untukmu agamamu dan untukku agamaku, semuga indah dan berjalan berdampingan.

3. Warisan : "Bayangkan jika masing masing umat agama tak henti saling beradu superioritas"

My Opinion: umat mana yang saling beradu superioritas? jika merasa superioritas mungkin iya, tapi kalo beradu? saya rasa Tidak ada. beradu argumen tentu ada wadahnya seperti kontes debat, dan itu sah sah saja. karna akan ada orang lain yang ingin mengetahui perbandingan antara kedua hal yang diperdebatkan contohnya debat pilgub, masyarakat ingin tau program mana yang lebih baik, begitu juga debat agama, akan ada orang yang menjadi yakin tentang agama yang dipilihnya dan meninggalkan keragu-raguannya.

4. Warisan : " manusia berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sekali mencoba jadi tuhan. Usah melebeli orang masuk surga atau neraka sebab kitapun masih menghamba."

My Opini: saya setuju manusia berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan namun di dalam ayat-ayat Tuhan terdapat lebel atau ciri-ciri orang masuk surga atau neraka. lantas bagaimana? ayat-ayat tuhan yang mencirikan penghuni surga atau neraka ini boleh kita sampaikan atau tidak? jika tidak boleh berarti kita tidak berhak menyampaikan ayat tuhan? karna Jika boleh maka tidak apa-apa kita menyampaikan ciri-ciri orang masuk surga atau neraka, asalkan dalam kondisi atau situasi yang pantas dan tidak memaksa orang lain.

5. Warisan : "latar belakang dari semua perselisihan adalah karna masing-masing warisan mengklaim Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya. Lantas pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, bahkan atheis dan memelihara semua sampai hari ini?

My Opinion: tentu setiap dari kita mengklaim atau meyakini bahwa pilihan agama kita adalah yang benar dan terbaik, karna tidak mungkin kita meyakini atau mengimani suatu agama dengan meyakini dan mengimani juga agama lain. karna hal itu bertentangan. dan itu bukanlah sebuah sumber perselisihan karna kembali lagi kita menjalani keyakinan masing-masing dan tidak memaksakan orang lain meyakini keimanan kita. semua berjalan damai tanpa ada overlaping satu sama lain.

Tuhan menciptakan manusia dan menjaga manusia di dunia hingga hari ini, tapi manusia sendiri yang memilih untuk menjadi Muslim, Nasrani, Yahudi atau atheis dengan segala konsekuensi yang akan ditanggung, dan konsekuensi itu bukan di dunia tentunya. dan setiap diri kita menanggung konsekuensi pribadi masing-masing.

sebagai catatan Tuhan tidak hanyak menciptakan kebaikan dan kebenaran, tapi juga keburukan dan kesalahan. kemudian manusia diberi kekuatan untuk memilih. jika hanya kebaikan yang dikehendaki Tuhan kenapa harus ada dunia? karna didunia ada bunga tapi ada juga pisau, ada kesehatan dan ada juga kesakitan, dsb.

6. Warisan: "Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu aja kehancuran Indonesia kita.

My Opinion: golongan mana yang mau menuntut agama dan kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara? saya kira di Indonesia ngga ada dan ngga perlu dibayang-bayangkan. apalagi membayangkan kehancuran Indonesia. Indonesia ini di dirikan oleh pejuang-pejuang kita, tapi jangan lupakan juga mayoritas pejuang-pejuang kita adalah ulama dan santri dengan semboyan Jihadnya, apakah anda yakin? jika tidak ada Jihad ulama dan santri apakah Indonesia akan merdeka tahun 1945? dan kita semua tau, jika pancasila itu intisarinya diambil dari AlQuran

jangan sampai para pejuang kemerdekaan kita menangis karna melihat kita sebagai anak cucunya justru meninggalkan nilai-nilai leluhur Indonesia yang dulu diperjuangkan dengan mengorbankan nyawa.

Tulisan diatas merupakan opini saya dimana itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan dengan orang lain

Oleh karna itu saya sarankan jika ingin mendapatkan pencerahan dengan benar merujuklah kepada ahlinya. jika dalam hal ini kita membicarakan Agama maka pergilah ke Ulama.