Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang kerisauan akan hadirnya momongan didalam sebuah pernikahan. Tak dapat dipungkiri hadirnya momongan adalah hal yang diidam-idamkan oleh pasangan yang telah menikah. Namun ada baiknya juga tidak untuk terlalu dirisaukan apalagi untuk kamu yang belum menikah.

Terkait hal ini saya ada beberapa teman yang mengalami “kendala” belum hadirnya momongan dalam pernikahan mereka. Ada yang memiliki usia pernikahan 4 tahun, 5 tahun, dan ada pula yang hampir 20 tahun. Meski saya tidak begitu tahu persis bagaimana kehidupan rumah tangga mereka, namun saya sedikit melakukan pengamatan bagaimana mereka menyikapi “kendala” tadi.

Hasil dari pengamatan saya tersebut, rata-rata yang memiliki usia pernikahan relatif muda masih berupaya bagaimana caranya agar Tuhan mengamanahkan momongan kepada mereka. Tak jarang mereka terlihat stress dan tampak ada tekanan. Upaya mereka masih bersifat medis, namun ada pula yang sudah sampai tahap spirituil. Dengan mendatangi “orang pintar”, meminta doa, atau melakukan ritual tertentu. Sedangkan mereka yang memiliki usia pernikahan yang sudah “uzur” lebih sumeleh menghadapi cobaan itu.

SEBUAH TAKDIR

Sebenarnya Tuhan sendiri menerangkan dalam kitab suci agama yang saya anut (maaf bukan menafikan keyakinan lain) menerangkan bahwa kehadiran anak laki-laki, perempuan, laki-laki dan perempuan, atau tidak hadirnya anak dalam sebuah pernikahan adalah mutlak sebuah kehendak dari-Nya yang tidak semestinya untuk dirisaukan apalagi sampai terlalu bersedih hati. Dan seperti keyakinan kita bahwa sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita didalam kehidupan. Maka hadir atau tidaknya momongan dalam sebuah pernikahan adalah sebuah bentuk takdir dari-Nya yang murni merupakan sebuah misteri. Yang pastilah ada suatu makna mendalam yang terkandung dalam kehendak-Nya itu.

Advertisement

Teknologi kedokteran telah memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk dapat mendeteksi penyebab dari belum hadirnya momongan. Maka biasanya akan dapat diketahui apakah penyebab medis dari hal ini, bisa jadi salah satu diantaranya (laki-laki atau perempuan) atau bisa juga karena keduanya.

Jika sudah demikian maka upaya akan dapat lebih terarah. Setelah diketahui penyebabnya, maka kadangkala terjadi sebuah penyalahan yang terlontar atau tersimpan didalam hati. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa kehadiran momongan adalah murni “Hak” Tuhan. Upaya apapun. sebelum Ia berkehendak maka upaya hanya akan menjadi upaya. Memang tak lupa pasti doa akan menyertainya.

Tapi bukankah Tuhan lebih mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambanya. Jadi pastilah hanya Ia yang tahu jawaban atas doa-doa tersebut. Sehingga tidak ada fungsinya sebuah penyalahan, jika tidak dalam proporsi yang tepat hanya akan menimbulkan permasalahan yang tidak sederhana.

Upaya seperti apapun dapat dilakukan sebenarnya asalkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut. Teknologi bayi tabung atau inseminasi buatan adalah salah satu solusi yang disuguhkan dunia kedokteran dan menjadi oase harapan bagi mereka yang belum momongan. Biasanya ini menjadi alternatif terakhir dalam dunia medis setelah berbagai upaya dilakukan dan belum tampak sebuah keberhasilan. Tapi memang selain membutuhkan biaya yang relatif banyak, ada kemungkinan kegagalan dalam upaya ini. Meski demikian tidak sedikit pula yang berhasil. Sebut saja penyanyi dangdut kondang Inul Daratista yang berhasil setelah sekian kali upayanya melakukan bayi tabung. Ada juga teman yang berhasil mendapat momongan 3 (tiga) anak sekaligus dalam upayanya melakukan bayi tabung dalam satu waktu.

SUMELEH

Selalu akan ada jalan dalam sebuah permasalahan. Maka berfikir dan bersikaplah dengan “Sumeleh”. Artinya tenang dalam menghadapinya dan serahkan semua pada-Nyanamun meski tetap berupaya dan berdoa. Berpikir “Sumeleh” justru seringkali memberikan dampak yang tidak kita duga. Pengalaman dari seorang teman, bahwa ketika pada akhirnya dia “Sumeleh”, Tuhan menganugerahkan momongan kepadanya. Memang tidak semudah diucapkan dan membutuhkan proses. Namun percaya tidak percaya, pemikiran yang tenang mempengaruhi metabolisme serta membuat tubuh lebih sehat.

Ada juga alternatif mengadopsi anak. Kalau kata orang jawa, saat mengadopsi anak kadangkala “menjadi pancingan” dan percaya atau tidak di beberapa kasus setelah mengadopsi anak mereka lantas dikaruniai seorang anak. Meski tidak sepenuhnya terjadi demikian. Inti dari adopsi ini adalah tidak ada pihak yang merasa keberatan. Baik itu suami, istri, orang tua, keluarga besar serta tentu saja orang tua si anak. Sehingga perlu dipikirkan matang-matang. Karena meski anak adopsi, seorang anak harus mendapat perlakuan adil. Artinya jika pada saatnya nanti Tuhan memberi karunia seorang anak, maka anak adopsi tadi harus tetap mendapat kasih sayang dan pendidikan yang sama.

Yang menarik adalah saudara saya sendiri yang sudah memiliki usia pernikahan yang ‘uzur’, hampir 20 tahun. Menariknya adalah, mereka adalah pribadi-pribadi sumeleh yang tetap tegar dan bahagia saat Tuhan belum menghadirkan momongan. Jawaban sederhana yang saya dapatkan adalah bahwa kebahagiaan sejatinya tidak dapat diukur dari hal-hal semacam itu. Kebahagiaan hakiki adalah saat kita mensyukuri apapun yang Tuhan takdirkan kepada kita. Dan saya takzim pada jawaban itu.

Maka beruntunglah bagi yang dikaruniai momongan. Janganlah sampai menyia-nyiakan anugerah tersebut. Rawat dan didiklah anak-anak dengan baik dan sungguh-sungguh seoptimal mungkin. Karena kesempatan itu benar-benar tak datang kepada semua orang.