Berdoa memang sederhana, ringan dan tak perlu banyak bantuan seseorang. Cukup kita berdua dengan-Nya, bermesra, berasmara. Maka di situlah rasa syukur atas nikmat-nikmat bergelora, atas lisan yang masih mengucap, hati yang masih tertambat, dan tangadah yang masih sempat.

Berdoalah, meski mungkin kamu tak tahu kapan senandungmu itu datang menjemputmu. Berdoalah, meski mungkin yang tiba tak seperti yang kamu pinta. Berdoalah, selagi masih diberi ilham untuk mengingat-Nya, selagi Dia belum mengambil kesempatan yang kamu punya. Berdoalah meski tak ada rasa mesra, setidaknya kamu masih terus membutuhkan bantuan-Nya.

Untuk keluargamu, meski hari ini tak sedikitpun ada di sisimu. Untuk saudaramu, mungkin yang tadi hanya sekedar memberi secangkir kopi. Untuk gurumu, yang hari ini mungkin tak cukup memberimu banyak ilmu. Untuk istrimu, yang ketika lelahmu ingin merebah, justru omelan datang membuatmu payah. Untuk mereka yang masih saja terus di terbengkalaikan oleh dunia, panjatkanlah, naikkanlah.


Mungkin kamu tak mengenal mereka, tapi doa tak pernah pandang bulu untuk siapa.


Untuk seorang yang hadir dalam hidupmu, berdoalah dalam kesenyapan kepada mereka. Sebab, sebaik-sebaiknya doa adalah yang diam-diam kamu rapalkan untuk saudaramu. Berbahagialah, jika kesempatan berdoamu masih diberi. Kesempatan berdoamu masih memberi arti. Sebab kita tak pernah tahu, kapan akhir dari doa kita. Sebab kita tak akan pernah tau, kapan doa kita berhenti terbang. Menembus langit, melesat tinggi, menuju arsy-Nya yang luas tak terbilang.

Advertisement


Berdoalah, selagi kamu sempat. Apapun, kepada siapapun, untuk apapun. Sebelum terlambat, sebelum doamu tercekat.