Kita nggak akan bisa memilih akan bagaimana kita mengarungi hidup di dunia, kita juga nggak akan bisa memilih akan lahir di keluarga yang seperti apa perekonomiannya, budayanya, suku bangsanya dan agamanya. Kita hanya diberi keyakinan untuk percaya bahwa orangtua dan keluarga kita adalah yang terbaik bagi kita.

Masa kecil yang kita lalui sangat terasa indah, bukan hanya karena kita mendapatkan kasih sayang dari mereka, namun karena kita masih bisa menggunakan kepolosan kita secara 'logis', kita bebas berteman dengan siapa saja, teman-teman sebaya menjadi teman sepermainan kita. Mereka tak hanya orang-orang yang memiliki kesamaan suku, agama, ataupun kulit yang sama dengan kita.

Kita bisa dengan sangat baik memperlakukan mereka dengan cinta sesungguhnya dari seorang bocah yang sungguh-sungguh belum mengenal benar atau salah. Mulai memasuki usia remaja, berbagai hal-hal terjadi, diluar dugaan kita. Tidak melulu indah seperti keinginan. Sudah mulai bisa membedakan mana hal yang salah dan mana yang benar untuk dilakukan. Pertemanan sudah mulai 'disaring', sudah mulai memasukkan hal-hal yang sebenarnya bukan esensial sebuah syarat pertemanan sejati.

Semakin bertambah usia, muncul hal lain yang baru. Sudah mulai bisa menentukan siapa yang menjadi panutan dalam hidup, mulai mengidolakan seseorang yang biasa kita lihat di media sosial atau media cetak. Memilah-milih sesuatu secara subjektif, ketika asyik duduk di depan televisi, kita melihat ada seorang penyanyi yang memiliki suara aduhai, mulai menjadi penggemarnya, mencari tahu tentang si penyanyi tadi melalui internet, sampai akhirnya kecewa sendiri, karena si penyanyi tak memiliki keyakinan yang sama dengan kita. Dengan berat hati pun, mulai mengurangi kecintaan pada suara si penyanyi.

Begitu pun ketika kita memiliki seorang kenalan, kita mulai mencari tahu apa agamanya, lalu mulai menjaga jarak ketika tahu si teman yang sebenarnya baik tadi yang bisa saja menjadi sahabat baik kita kedepannya nanti karena keyakinan, latar belakang ekonomi atau sukunya berbeda dengan kita. Bahkan ketika kamu memiliki kesempatan untuk memasuki dunia kerja, hal itu pun kerap terjadi.

Advertisement

Mungkin kita lupa, bahwa perbedaan itu diciptakan supaya dunia memiliki harmoni yang indah. Bayangkan saja, ketika dunia diisi dengan orang yang sama dengan orang yang lainnya, bukankah akan membosankan? Dan tak ada hal baru yang bisa kita petik jika tak ada keragaman? Ketika dunia hanya diisi dengan satu profesi saja, lalu siapakah yang akan mengisi bidang lainnya? Bagaimana ketika hanya satu alat musik saja? Tak akan ada jenis musik yang bisa membuat hati dan pikiran kita berubah sesuai alunan musiknya. Sama halnya ketika kita dipaksakan hanya makan dengan satu jenis makanan yang sama setiap harinya? Pasti tubuh kita juga akan menolak, karena selain bosan, tubuh kita butuh penyeimbang dengan makanan lainnya yang tak kalah penting dengan makanan tetap yang kita makan.

Berbeda itu wajar, yang tak wajar adalah ketika kamu dan saya mulai membedakan orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Saya bangga dengan Indonesia, saya bangga dengan kebudayaannya, saya bangga dengan keanekaragaman suku dan agama di Indonesia, saya bangga dapat belajar memiliki rasa toleransi karena perbedaan itu. Berhenti jadi orang dewasa yang sok merasa paling dewasa, kita harus sisipkan cinta sesungguhnya dari seorang bocah, karena Indonesiaku rindu dengan cinta sang bocah tersebut.