Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan teman kuliah di kota yang sama dengan tempat kuliah kami. Kebetulan saat itu saya sedang ada pekerjaan disana, sedangkan teman saya tersebut memang bekerja di kota tersebut. Singkat cerita beberapa hari lagi dia akan melangsungkan pernikahan. Kalau istilah nge-trendnya MBA, Married By Accident. Menikah karena telah melakukan seks di luar nikah dan akhirnya hamil.

Indonesia memang bukan penganut seks bebas. Rambu-rambu dari norma agama dan aroma kultur yang sangat kental memberi stigma negatif bagi para pelaku seks bebas. Tak jarang banyak diantaranya yang melakukan jalan pintas seperti aborsi, dengan alasan malu pada masyarakat atau tidak diterima dalam keluarga. Padahal selain medis, alasan apapun tidak dapat menghalalkan tindakan ini.

Bagaimanapun aborsi adalah tindak pidana yang tidak dibenarkan. Tindakan menggugurkan kandungan atau aborsi sama saja membunuh seseorang yang tidak bersalah, apalagi seseorang itu adalah darah daging sendiri. Bukankah hal itu memang amat keji? Dan lagi tindakan ini memiliki resiko yang sangat besar, dapat berujung pada kematian.

Seks tidak seindah dan senikmat yang dibayangkan. Bahkan kamu akan lupa bagaimana rasanya begitu kamu selesai melakukannya. Jika dibandingkan dengan resiko yang mungkin terjadi, kalau kata orang pintar, tidak apple to apple. Nikmat sesaat dengan resiko besar besar yang menghadang. Kehamilan, Penyakit Seksual Menular, cemoohan orang, dan satu hal lagi mungkin dapat menjadi pertimbangan kamu. Tidak ada jaminan pasti kamu bakal menikah dengan pasangan kamu itu.

Bagaimanapun aktifitas seksual sebenarnya bukanlah hal yang bisa dianggap biasa. Bagi pasangan suami istri adalah hal yang sangat lumrah bahkan ‘wajib’ karena ada bentuk tanggung jawab disana. Aktifitas seksual melibatkan penerimaan secara kontekstual. Penjelasannya seperti ini, saat terjadi dalam masa pacaran maka penerimaan kekurangan dalam diri seseorang melibatkan fisik, karakter namun tak disertai komitmen. Kalaupun iya maka tidak mungkin berjalan secara kontinyu. Dan tidak pula disertai bentuk pertanggungjawaban. Sedang hubungan suami istri menjawab semuanya.

Advertisement

Sederhananya saat berhubungan seksual maka mau tidak mau semua kekurangan fisikmu akan ‘ketahuan’ pasangan kamu. Entah itu selulit, lemak, tahi lalat, si dia akan tau semuanya. Dan bisakah kamu menjamin kalau pasangan kamu itu kelak tidak akan menceritakannya pada orang lain? Atau yakinkan si dia bakal menjadi suami kamu? Pikirkan lagi keputusanmu untuk ‘mengumbar’ kekuranganmu saat masih pacaran. Karena bisa jadi setelah tau kekuranganmu, bukannya suka si dia malah kabur atau lebih parahnya cerita ke orang lain. Faktanya saat pacaran pasanganmu dapat meninggalkanmu sewaktu-waktu, menyakitkan bukan?

Dalam konteks suami istri komitmen yang dibentuk akan lebih kuat. Bagaimanapun pernikahan adalah janji sakral yang diucapkan dibawah naungan kitab suci. Keutuhan bahtera rumah tangga akan menjadi tanggung jawab bersama, sehingga masing-masing akan saling menjaga.

Bagi sebagian orang definisi dari pacaran adalah upaya untuk belajar ‘membina’ sebuah hubungan yang dilandasi rasa suka sama suka. Dan tidak bisa munafik, aktifitas seksual menjadi hal yang amat wajar dan lumrah akhir-akhir ini. Namun benarkah harus demikian? Atau kamu dapat mengubah pola pikir kamu bahwa aktifitas pacaran kamu bukanlah sebuah hal yang harus ‘mainstream’. Misalnya saja kamu dan pacar kamu memiliki passion yang sama. Kalian bisa saling memberi semangat untuk menjalaninya. Sepertinya terasa lebih fun. Dan bisa saja gaya pacaran kalian diikuti oleh temen-temen kamu yang lain, dan kalian menjadi mainstream tentu saja.

Saya melakukan riset kecil pada teman-teman saya yang memang sebagian menjalani seks di luar nikah. Rata-rata dari mereka yang menjalaninya, akan menganggap ‘miring’ pada diri sendiri. Penerimaan pada diri sendiri akan menurun dikarenakan pelanggaran terhadap norma agama, serta kentalnya asumsi miring pada pelakunya di mata masyarakat. Anehnya, saat melewati rentang usia 27/28 ke atas, maka kecenderungan akan mengalami tekanan dalam kehidupan seseorang menjadi lebih besar. Baik dari diri sendiri maupun dari orang sekitar. Pada akhirnya yang terjadi adalah sebuah perasaan bersalah serta depresi. Apalagi jika pada akhirnya tidak dapat menikah dengan pasangannya, maka biasanya timbul sebuah penyesalan. Dan hal ini pastinya akan mempengaruhi semua aspek dalam diri seseorang.

So, ada baiknya kamu pikirkan lagi baik-baik untuk melakukannya sebelum menikah. Jikalau pun kamu udah menjalaninya tidak ada kata terlambat untuk mengakhirinya sebelum kamu menyesal di kemudian hari, ini demi kebaikan kamu juga.