Beberapa hari yang lalu, saya menulis artikel di Hipwee.com, diberi judul “Pendapat Cowok dari 10 Negara tentang Definisi Hubungan yang Merdeka.”

Dari judul itu, seharusnya orang sudah tahu isinya, karena saya bukan tipe penulis artikel yang memberi judul bombastis, lalu menulis isi yang sama sekali tidak berkaitan.

Artikel itu disetujui oleh pihak Hipwee untuk dipublikasi pada 25 Agustus 2017. Empat hari kemudian, 29 Agustus 2017, seorang warganet (bahasa Inggris: Netizen), memberi komentar (bisa dilihat dalam foto). Apa yang ada dibenak kalian?

Kurasa kita punya pikiran yang sama.  Ya, warganet yang sengaja ditutup namanya ini, rupanya belum membaca isi artikel yang saya tulis—hanya membuka dan fokus pada 10 gambar yang saya unggah di artikel—tapi si warganet langsung bikin komentar, dan jika dikaitkan dengan undang-undang, mungkin dia bisa terjerat UU ITE atas dasar ujaran kebencian. Mungkin. Saya juga belum begitu tahu tentang batasan-batasan aturan di UU ITE.

Tapi setelah membaca komentarnya, ada dua hal berputar di otak saya:  (1) “Ini mau nunjukin kecintaannya sama Indonesia ya? Kok kayaknya jijik gitu lihat orang pakai bahasa Inggris?” (2) “Ini nih, contoh warganet yang sok kritis, yang sering muncul di kolom komentar situs-situs berita—yang belum paham isu tapi bersuara.”

Advertisement

Saya minta maaf jika dua hal itu terdengar jahat.

Ok. Yang pertama. Cinta Indonesia?

Oh, jadi ini yang namanya jiwa nasionalisme? Membela bahasa lokal dan anti negara asing? Helooooooo! Kita hidup di zaman globalisasi! Oh, jangan jauh-jauh ke globalisasi. Kita hidup dengan negara tetangga! Udah nonton SEA GAMES kan? Bayangkan kita ada di posisi atlet-atlet SEA GAMES. Bagaimana berkomunikasi dengan atlet lain dari Singapur, Thailand, dll, tanpa ada bahasa pemersatu?

Itu masih poin umumnya. Poin khususnya berkaitan dengan artikel yang saya tulis. (Saya pikir) judul artikel itu sudah cukup menjelaskan. Di sana saya menuliskan pendapat 10 laki-laki dari negara yang berbeda.

Pendapat-pendapat itu saya kumpulkan dengan bertanya langsung kepada 10 laki-laki itu melalui media sosial. Hasilnya saya screenshot, lalu diunggah di Hipwee bersamaan dengan penjelasan yang saya tulis sendiri (pakai bahasa Indonesia). Jadi, jelas yang pakai bahasa Indonesia di screenshot-an hanya satu orang, orang Indonesia. Tidak mungkin 9 teman saya yang lain, dari Polandia, Prancis, Cina, Brazil, Amerika, dll, saya paksa menulis dengan bahasa Indonesia.

Jadi, jika ingin disebut berjiwa nasionalisme, pakai dan cintai bahasa Indonesia, cintai produk lokal, dan berkarya untuk Indonesia. Jika ingin mengharumkan nama Indonesia di luar negeri, pelajarilah bahasa asing, cintai bahasa itu, jangan malah anti-asing.

Sekaligus berbicara tentang hal kedua: sikap kritis tidak dapat dikategorikan sebagai hal yang keren, jika kita hanya asal bunyi di kolom komentar. Jadi, baca dulu tulisannya, pahami, lalu tanggapi. Jadilah orang Indonesia yang cerdas bermedia!