Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan yang paling mulia dibanding dengan ciptaan lainnya. Saya pikir, jika dilihat dari derajat hidupnya, setiap manusia di muka bumi adalah sama. Satu hal yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya mungkin hanyalah iman dan itupun hanya Tuhan yang tahu.

Entah bagaimana, tapi saya pikir salah satu kecenderungan umat manusia adalah membentuk kelompok. Yah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan dia membutuhkan orang lain untuk membantunya di dalam kehidupan sehari-hari. Individualitas manusia menciptakan ego yang sangat luar biasa dalam dirinya namun hebatnya, meski begitu manusia tetap ingin membentuk kelompok.

Kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok didasari oleh kepentingan yang berbeda-beda. Zaman dahulu kala misalnya, manusia membentuk kelompok sebagai cara untuk mempertahankan hidupnya dari ancaman kelompok lain. Pada zaman itu manusia-manuasia akan mencoba membentuk kelompok dengan jumlah anggota yang besar, dengan tujuan bahwa semakin besar jumlah anggota dalam kelompok itu maka akan sulit dikuasai oleh kelompok lain. Hal inilah mungkin yang memicu kerajaan-kerajaan zaman dahulu kala saling beradu memperluas daerah kekuasaannya, agar anggota kelompoknya semakin besar sehingga, jika ada kelompok lain yang menyerang, maka kelompoknya itu dapat memenangkan perang.

Di zaman modern sekarang ini, kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok mungkin sudah sedikit bergeser dari tujuan dari zaman dahulu kala. Membentuk kelompok bukan hanya sekedar untuk melindungi diri pada ancaman yang semata-mata menyerang fisik saja, tapi lebih luas lagi dari itu.

Sekarang-sekarang ini banyak sekali organisasi dalam kehidupan bermasyarakat, meskipun sudah ada negara sebagai wadah terbesar yang melingdungi hak-hak sebagai warga negara, manusia masih merasa perlu mendirikan organisasi-organisasi lain. Katanya, organisasi adalah wadah untuk kumpulan orang-orang yang memiliki satu tujuan bersama, yang memiliki visi dan misi yang sama pula untuk mewujudkan tercapainya tujuan yang diharapkan tersebut.

Advertisement

Tidak ada yang salah dengan mendirikan organisasi atau membentuk kelompok, selama itu tidak menyalahi undang-undang negara, norma agama, norma adat, dan norma-norma lainnya yang tidak menyalahi kebenaran. Yang menjadi penting menurut saya adalah, bijaklah memilih dan masuk dalam organisasi atau dalam suatu perkumpulan kelompok. Masuklah ke dalam organisasi atau kelompok yang dapat mengembangakan diri kita lebih baik, mengembangkan kelompok atau organisasi lebih baik dan yang berdampak baik pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, negara dan yang lebih penting adalah dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam kehidupan remaja dan anak muda, selain organisasi resmi, biasanya para anak muda cenderung untuk membentuk kelompok dalam pergaulannya sehari-hari. Kembali lagi pada prinsip bahwa orang-orang yang memiliki tujuan bersama dan dengan cara bersama juga ingin mencapai tujuan tersebut melalui kelompoknya.

Yang membanggakan dan menyejukkan hati dan mata adalah ketika sekumpulan anak muda membentuk kelompok yang memang memiliki tujuan yang baik dan mulia, contonya melihat sekumpulan remaja atau mahasiswa yang aktif dalam kelompok keagaaman sedang duduk bersama di bawah pohon rindang di atas rumput hijau, saling bercengkrama, sharing tentang ilmu agama dan hal-hal baik yang terkait dengan agamanya dan merencanakan kegiatan-kegiatan sosial yang akan mereka lakukan untuk waktu-waktu yang akan datang.

Wahhh… serasa hawa surga merembes ke bumi. Atau mungkin melihat para anak muda yang tertarik pada suatu teknologi atau pengembangan ilmu pengetahuan tertentu, sedang sharing dan berdiskusi tentang hal-hal termuktahir mengenai minatnya itu. Wahh… mereka nantinya mungkin akan menciptakan sesuatu yang baik dengan tujuan untuk memudahkan hidup manusia di bumi. Jika dipikir-pikir, masih banyak contoh kelompok-kelompok anak muda lainnya yang memiliki aktivitas yang baik dan memberi dampak baik untuk dirinya sendiri, keluarga, lingkungan belajarnya, lingkungan masyarakat, bahkan memberi kebaikan kepada negara dan karena tidak menyalahi nilai-nilai kebenaran, saya pikir masih bisa dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Seperti halnya di dunia material, bagaimanapun tidak akan ada kristal yang sempurna di muka bumi ini, pasti memiliki defect. Begitu juga dengan kelompok-kelompok yang diciptakan oleh anak muda. Saya lebih suka membahas tentang kelompok anak muda karena saya pikir, karena kita muda maka kita harus berkarya dan produktif. Dengan harapan, keproduktifan kita seharusnya kita arahkan kepada semua hal yang baik. Dalam kehidupan kita, ternyata tidak semua anak muda membentuk kelompok dengan tujuan yang baik.

Miris rasanya melihat banyak anak muda yang membentuk kelompok dengan tujuan yang tidak baik, contohnya adalah anak muda yang membentuk “genk-genk “ dengan tujuan melakukan kekerasan atau bully kepada anak muda lainnya. Entah bagaimana, hal seperti ini sangat marak terjadi di Sekolah Mengengah Atas atau sederajat. Di media elektronik misalnya: tv, berita online, radio dll dan bahkan di media massa, kita seringkali disuguhi dengan berita tentang sekelompok anak sekolah atau anak muda yang melakukan kekerasan terhadap temannya. Yang tidak kalah populernya lagi adalah sekelompok remaja/anak muda bahkan yang notabene seorang siswa membentuk kelompok yang kita kenal dengan sebutan “Begal”. Kelompok ini sangat sadis, bahkan demi merampas dan merampok, mereka tidak segan melukai korbannya dan yang lebih parahnya lagi tidak segan untuk membunuhnya.

Saya pikir, maka itulah pentingnya bijak dalam memilih teman. Bagaimanapun, kita memang tidak bisa hidup sendiri di bumi, tapi bijaklah memilih teman, karena pertemanan adalah dasar dari terbentuknya kelompok. Pertemanan atau persahabatan yang baik, akan membawa kita melakukan hal yang baik pula. Bukan untuk membeda-bedakan manusia atau tidak boleh berteman dengan sembarangan orang.

Pilihlah teman yang baik ilmu agamanya, yang hormat kepada orang tua dan para pendidik, yang memiliki etika baik, sopan, rajin belajar, berjiwa sosial yang baik, rajin menabung, suka kebersihan, dan yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik lainnya. Sedikit banyak seseorang akan ikut terpengaruh dengan pola hidup orang yang ada disekitarnya. Nah, jika kamu berteman dengan orang yang memang baik seperti contoh yang telah disebut tadi, maka sedikit banyaknya juga kamu akan ikut terpengaruh olehnya. Pengaruh baik dari teman yang baik ditambah dengan kemauan dari diri sendiri akan menjadikanmu baik. “Baik” itu memang relatif, tapi nurani setiap orang pasti mengetahui mana yang baik dan benar atau sebaliknya. Jika kita tahu mana yang baik dan benar, mengapa tidak melakukannya saja?

Memilih teman, tidak hanya terfokus pada teman yang baik saja. Saya pikir, jika seseorang sadar akan dirinya dalam artian menyadari dirinya tidak akan terikut atau terpengaruh pada kebiasaan buruk orang lain, dan bahkan dapat menuntun seseorang yang dianggap tidak baik menjadi baik, maka tidak salah berteman bahkan dengan orang yang “relatif tidak baik” tersebut. Kenapa? Karena kalau kamu dapat membawa seseorang pada kebaikan dan kebenaran untuk kemudian hidup bersama dan berkembang di dalamnya, kenapa tidak? Itu artinya kamu punya nilai lebih dan dampakmu semakin bernilai.

Kembali kepada tentang kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok, dalam cakupan terkecil yakni pertemanan dan persahabatan, maka bijaklah memilih teman atau sahabat. Dalam persahabatan yang sehat, seorang sahabat bisa lebih akrab dari saudara. Sahabat yang baik akan menuntunmu pada perkembangan yang baik, bukan sebaliknya. Yang benar-benar teman adalah yang menasehatimu secara langsung demi kebaikanmu, meski pahit tetap berkata jujur kepadamu, bukan sebaliknya membicarakan keburukanmu di belakangmu kesana-kemari tanpa memberi penyelesaian bagaimana mengatasi keburukanmu itu.

Intinya, teman yang baik akan membawamu berkompetisi pada kebaikan, membuatmu mengembangkan dirimu lebih baik, memotivasimu untuk lebih berdampak baik pada dirimu sendiri, keluarga, teman, lingkungan, masyarakat dan bahkan akan mengajakmu lebih dekat kepada Tuhan.

Dalam keindividualitasanmu, bersosiallah! Berkelompoklah dengan orang-orang yang memiliki tujuan mulia, yang membuatmu berkembang dalam semua kebaikan, dan bersama-sama memberi dampak baik kepada semua aspek kehidupan.