Siapa sih yang tidak suka barang gratis? Apalagi kalau barang gratis tersebut adalah barang kesukaan kita. Tentunya semua orang pasti senang bila mendapatkan barang gratis. Bagaimana dengan traktir? Traktir makanan, traktir nonton, traktir masuk ke tempat wahana permainan atau traktir dalam bentuk apapun. Pasti sama senangnya, karena ditraktir sama kondisinya dengan mendapatkan barang gratis. Tetapi bagaimana jadinya bila sedikit-sedikit kita diminta mentraktir atau diminta mentraktir?

Inilah yang kemudian saya amati menjadi budaya di Indonesia. Well, mungkin tidak semuanya, tetapi banyak lingkungan kehidupan yang menjadikan traktir sebagai budaya. Misalnya di lingkungan pekerja, begitu mendapatkan gaji pertama atau THR (Tunjangan Hari Raya) respon yang kita terima “ciee, gajian ni yeee, traktirannya dong”. Atau di lingkungan pertemanan, “ciee yang ultah, makan-makannya ditunggu yaa”. Budaya ini dimulai saat SMA, “cieee yang udah punya pacar, pajak jadian!). Dan berbagai peristiwa todong-menodong lainnya 🙂

Mungkin budaya ini berasal dari nenek moyang kita. Sejak lahir kita terbiasa dengan budaya “syukuran”. Syukuran 7 bulan kehamilan, syukuran ulang tahun, syukuran panen, syukuran rumah baru, syukuran pengantin baru, dan lain sebagainya. Hal inilah yang mungkin mendasari kita yang menjadi terbiasa dengan meminta atau diminta mentraktir sebagai simbol perayaan terhadap kondisi tertentu. Merayakan sesuatu yang baru dengan memfasilitasi makan orang lain dijadikan simbol rasa syukur kita.

Tetapi perlu kita perhatikan bahwa pribadi setiap orang berbeda-beda. Bila kita suka berbagi dengan mentraktir orang lain, belum tentu orang lain demikian. Perlu kita perhatikan kondisi dan cara pandang setiap orang berbeda-beda. Bisa jadi ada beberapa orang yang lebih memilih beramal dan menyumbang uangnya untuk orang yang membutuhkan dibandingkan mentraktir temannya. Ada juga yang lebih memilih menabung uangnya untuk keperluan yang lebih mendesak. Kita perlu menjadi teman yang lebih pengertian dalam hal ini. Meminta traktiran bukanlah sesuatu yang terlarang, tetapi juga harus kita perhatikan situasi dan kondisinya.

Demikian halnya dengan yang diminta atau “ditodong” traktiran. Bila memang ada rejeki berlebih dan memungkinkan untuk mentraktir teman, tidak ada salahnya berbagi kebahagiaan melalui makanan seperti yang selama ini menjadi budaya kita orang Indonesia. Tetapi bila kondisinya tidak memungkinkan dan kita diminta mentraktir, kita bisa menolak dengan halus dan menceritakan alasan kita kenapa kita belum bisa melakukan hal tersebut saat ini. Teman yang baik akan mengerti kondisi kita kok.

Advertisement

Jadi, traktir-mentraktir bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan. Bukan juga hal yang baik bila dilakukan secara berlebihan dengan maksud dan motif terselubung. Selama hal tersebut dilakukan dengan niat baik, semuanya pasti memberikan dampak baik bagi kehidupan kita dan kehidupan orang lain di sekeliling kita. Selamat traktiran!