Ini Hidupku! itulah yang harus selalu kamu tekankan pada dirimu sendiri.

Kita tak sempurna, karena itulah kita tak selalu terlihat benar. Terkadang acap kali kita melakukan kesalahan, kesalahan yang sebenarnya tak berat namun selalu saja jadi buah bibir mereka si mulut nyinyir. Kita hidup dengan berbagai macam karakter manusia yang tak dapat dipahami, ada yang: Pemalu, pendiam, si aktif, si nyinyir juga si blablabla. Nah, yang terkadang bikin kita dongkol itulah si nyinyir. Siapa si nyinyir itu?

Si nyinyir itu ya mereka, mereka yang gemar menggosipkan seseorang. Mereka yang selalu update berita terbaru, juga mereka yang selalu giat membumbui berita-berita terbaru. Kalau si nyinyir gosipin orang si bodo amat kita, iya kan? tapi sialnya pasti aja ada saat dimana kita yang jadi bahan gosip si nyinyir itu, kita yang jadi topik empuk mereka. Penulis juga pernah tuh ada dalam posisi: Jadi bahan gosip para mulut nyinyir itu.

Gak usah ditanya soal rasanya, karena penulis yakin kita ngerasain hal yang sama. Kesal, kesal, kesal dan kesal iya kan? Siapa si yang enggak kesel saat kita gak tau apa-apa, tapi malah jadi buah bibir. Kadang kala ujaran, ucapan, cuitan si nyinyir itu bikin kita sakit memang. Bukan hanya sakit hati, tapi juga kepikiran yang berujung pusing. Penulis juga ngerasain hal yang sama kok, tapi itu dulu, dan enggak sekarang.

Iya dulu saat jadi buah bibir, santapan empuk obrolan si nyinyir aku selalu berujung kepikiran. Karena emang penulis tipe orang yang gampang kepikirannya, tipe orang yang apa-apa dimasukin kedalem ampela, eh enggak deng hati maksudnya. Tapi sekarang udah enggak tuh, sekarang si penulis bodo amat mereka mau ngomongin apa tentang penulis juga, ibarat kata kalau kata anak muda zaman sekarang mah egp. Iya egp, emang gue pikirin. Sekarang aku selalu tekankan dalam diriku sendiri, INI HIDUPKU!

Advertisement

Yah, ini hidupku.

Mereka mau bicara apapun itu bodo amat, emang gue pikirin. Ini hidup aku gitu, aku yang jalanin, aku yang rasain, aku yang nikmatin, dan yang, yang yang lainnya. Ibarat sebuah film, mereka itu cuman penonton, penonton yang duduk dideretan bangku bioskop. Penonton yang hanya bisa duduk manis, penonton yang cuman bisa komentar, komentar tanpa tau gimana si suka-dukanya ngejalanin proses syuting itu.

Para nyinyir itu hanya bisa berkomentar, menilai ini dan itu dari pengamatan mereka yang sesaat. Sesaat? Oh ya, tentu saja. Para nyinyir itu tak tau kalian lebih dekat, mereka tak kenal kalian lebih dekat, mereka mungkin hanya tau nama, hanya tau kalian tinggal dimana. Lantas, apa pantas kita dengar kata mereka yang tak kenal benar kita? Sementara kita abaikan kata hati kita sendiri, kita abaikan diri kita sendiri.

Tidak, dan tidak bukan?

Tidak seharusnya kita abaikan kata hati sendiri, hanya karena kata mereka yang tak kenal benar kita. Abaikanlah kata mereka, kata-kata mereka yang tak bermanfaat sama sekali untukmu. Dengarlah kata hatimu, kata luar biasa yang masih tetap bisa kamu dengar ketika kamu tak lagi dapat dengar kata yang lainnya. Abaikan semua ucapan buruk, perkataan buruk yang mereka katakan tentangmu. Angaplah apa yang mereka katakan itu bagai angin lalu, angin lalu yang hanya lewat tanpa memberi manfaat.

Percayalah pada dirimu sendiri, katakan pada dirimu AKU BISA. Yah, apapun itu yakini pada dirimu sendiri kalau AKU BISA. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Dengar lalu buang, jangan buang-buang waktumu hanya untuk pikirkan apa kata mereka yang belum tentu benar. Sekali lagi, yakinkan pada dirimu AKU BISA. Karena kita tak bisa menutup mulut si nyinyir, maka yang harus kita lakukan hanya menutup kuping kita.

Atau ibarat kata mah, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Bodo Amat, ini hidup gue. Itu yang selalu penulis katakan pada diri penulis sendiri, ketika jadi buah bibir, santapan empuk si mulut nyinyir itu. Ini hidupmu, maka kamu bebas lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Jangan buat hidupmu merana, hanya karena si nyinyir. Maka baiknya kamu abaikan saja kata si nyinyir yang sekiranya tak bermanfaat bagimu, untuk apa kamu dengar jika hanya akan menghambat kreativitasmu. Bukankah ada ungkapkan yang, katakan: Ambil yang baik, dan buang yang buruk.

Yah, itulah yang harus kamu lakukan. Salam Damai.