Saya ada pertanyaan. Menurut kalian, jika ada remaja yang hanya memiliki ijazah SMP dan remaja dengan predikat Summa Cumlaude di jenjang universitas tinggi terkenal, manakah yang akan kalian pilih menjadi kepala suku atau leader?

"Tergantung mas, leader apa dulu."

"Ya udah, anggap saja leader dalam sebuah perusahaan bisnis."

Kira-kira, survey hampir 80% (Kalau ditanya pak Yusril, atas dasar apa survey itu? Jawabannya surveynya kira-kira, hee) orang lebih memilih sarjana daripada yang hanya punya ijazah SMP. Betul ndak? Kenapa? Karena mereka punya riwayat pendidikan yang jelas, tinggi, dan cari aman. Mereka dari universitas ini, itu, ini-itu dan seterusnya.

Sebagian besar penduduk Indonesia beranggapan berpendidikan (sekolah formal) yang dilalui hanya sampai jenjang SMP atau di bawahnya, dianggap sebagai warga yg berstrata rendah. Sehingga jarang mendapatkan kesempatan untuk berperan di publik hanya karena ijazahnya SMP.

Advertisement

Sayangnya bangsa ini terlanjur menganggap pendidikan adalah peng-sekolahan. Ya harus sekolah di tempat yang ada bangku, meja, absensi kelas, rapot, ruang-ruang ber-ac, slide via proyektor, bersepatu dan seterusnya.

Ada satu cerita, ketika Bude Susi Pudjiastuti menjabat Menteri Kelautan, salah satu komentar yang banyak bertebaran adalah, "Menteri kog hanya punya ijazah SMP. Ndak bakalan kompeten itu. Sekolahnya aja sampai SMP, ya sempat sih meneruskan ke jenjang SMA tapi di tengah jalan memutuskan berhenti. Ndoh lah, piye ikuu?" Kalau pengen menyusuri lebih dalam, Tante Susi juga sering mengikuti seminar dan kegiatan internasional yang berbau pendidikan di luar negeri, meski ijazahnya hanya SMP, iya SMP.

"School was just not my thing ". "Saya selalu punya keyakinan kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan , saya selalu percaya bahwa manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya." Jargon Bude Susi

Kemarin saya ketemu pakde baru, orangnya cerdas dan visioner. Lalu mengatakan ini pada saya, "Karena pendidikan itu sering diartikan peng-sekolahan saja, mereka yang tidak sekolah dibilang bodoh. Sayangnya lagi, persekolahan yang sering dibanggakan di bangsa ini cenderung pada peng-ijazahan belaka." Ndak perlu saya sebut jual-beli ijazah. Rakyat sudah mafhum kog.

Sentimen pemimpin wanita masih sering menjadi perbincangan hangat. Saya ndak akan bahas persamaan gender atau eman-eman wanita, lha memang gender wanita dan laki-laki itu beda, kalau disama-samakan saya takut dituduh aktifis LGBT yang mendukung cewek jadi cowok dan sebaliknya. Eh atau sekte baru ya, emm… atau ABC (Aktifis Banci Cucok), atau FBI, atau MIB, atau CIA atau EYD? hehe..

Becanda, becanda. Jangan serius gitu dong ekspresinya, nanti keliatan lho kamu anggota ABC ya, hayoo… wkekkeke…

Saya bantu inspirasi persamaan gendernya deh, setali dua uang. Ambil saja cerita Bill Gates yang harus DO (Drop Out) di semester awal kuliahnya dari Harvard University. Konon karena menekuni mainan barunya bersama tandem plek-nya, Paul Allen. Tuh, Bill Gates ndak lanjut cari-cari kuliah atau beli ijazah. Eh sekarang menjadi salah satu orang terkaya di dunia via Microsoft Windows-nya. Meski tidak pernah lulus, Om Bill dapet gelar Doktor Kehormatan dari Harvard, hemm, piye jal? Tapi Om Bill berpesan, sejujurnya ia menyesali kuliahnya yang ndak rampung. Jadi ojo mbok tiru DO-ne tok mbloo. Berkaryanya itu yang paling penting.

Yuk, kembali ke zaman "kegelapan", saat Mas Thomas Alfa Edison belum nemu keterangan (baca: lampu). Saat di usianya yang imut, kalau sekarang, ya awal SD (Sekolah Dasar). Kepala sekolahnya menulis surat untuk Ibunda mas Thomas. Gurunya berpesan agar surat ini hanya boleh diberikan pada Ibunya.

"Kami tak sanggup mendidik anak anda. Karena dia bodoh dan memiliki kelainan jiwa."

Kurang lebih begitu isi suratnya. Sejak saat itu, tak ada lagi sekolah yang mau menerima mas Thomas. Untung dulu belum ada Kak Seto, bisa ditegur tuh gurunya.

Mas Thomas penasaran, lalu bertanya pada ibunya, (dalam dialek jawa) "Mak, isi surate nopo?" "Le, dirimu iki kenemenen jeniuse. Sampek-sampek sekolahan ora sanggup muruki awakmu. Sekolah kuwi keciliken gawe kepinteranmu."

(Nak, kamu tidak bisa sekolah di sana lagi, karena kamu terlalu jenius. Sekolah itu terlalu kecil untuk potensimu yang sangat besar)

Nuhh… ibu lagi toh, cewek toh, perempuan toh. Belum tentu ketika surat itu diberikan pada ayah, bisa-bisa dikosek kuwi mas Thomas. Kadang bosan kalau berbicara tentang hebatnya wanita, hebatnya ndak karuan. Kanjeng nabi sampun dawuh, kalau ibu itu nilainya 3 kali lipat dari ayah. Jelas, ibu yg paling dimuliakan, artinya ibu lebih mulia dari ayah meskipun sama-sama wajib dimuliakan. Lha kog sekarang minta persamaan gender, itukan namanya dehidrasi, eh maksud saya degradasi.

Kemudian, Ibu Thomas yang memberikan sentuhan pendidikan pada masa kecilnya. Hingga dia menjadi tokoh fenomenal dengan penemuannya, bola lampu. Dahsyatnya ia mampu mempatenkan temuannya sebanyak 1.093, termasuk bola lampu listrik, gramophone, juga kamera film.

Kehebatan mas Thomas tidak bisa dipisahkan dari sentuhan ibunya. Seperti halnya sentuhan Bu Nyai Solichah sebagai orang tua tunggal pada sosok anak-anaknya, seperti Gus Dur dan Gus Sholah, yang menyebut ibundanya Par-Exelence (sempurna).

Ada yang menarik dari mas Thomas dalam mengartikan sukses. Saat tidak bisa atau (gagal) mengalirkan listrik pada sebuah tembaga dalam salah satu percobaannya.

Seperti begini, jika penghapus papan tulis dan pensil saya gabung menjadi satu, lalu dialiri listrik, dan ternyata tidak bisa. Apakah saya gagal? Tidak, justru saya sukses mengetahui satu ilmu, bahwa penghapus papan dan pensil tidak bisa dialiri listrik. Begitu seterusnya, hingga konon percobaan yang dilakukan mas Thomas mencapai ratusan sampai ribuan kali. Bahkan ia tidur 4 jam dalam sehari dan hanya makan dari makanan yang dibawa oleh asistennya ke laboratorium. Itulah kemudian muncul jargon, genius adalah 99% kerja keras.

Suatu ketika, mas Thomas orasi di salah satu kampus,

"Saya bersyukur karena memiliki hidup dengan tingkat kesuksesan 100%."

Mana mungkin hidup sukses 100%? Ini menunjukkan bahwa, sudut pandang menentukan dalam mendefiniskan arti sukses.

Dan yang terpenting, sentuhan ibu tidak pernah bisa dilepaskan dari kesuksesan anak. Itu ibu, wanita ya, emank ada ibu, pria?

(Tulisan ini hanya fiktif yang nyata)