Sejak kecil, saya selalu berusaha masuk ke dalam pergaulan mayoritas teman-teman saya. Mencoba untuk fit in.

Selama SD dan tinggal di desa, saya mencoba gabung ke tim sepakbola setiap ada pertandingan di kompleks. Sering saya enggak dikasih kesempatan main. Kadang dikasih masuk, itupun karena teman-teman kasihan sama saya. Mereka tahu saya enggak pandai main sepakbola. Setiap kali dapat operan, saya enggak ngerti cara ngegocek dan selalu panik saat dihadang musuh. Alhasil, tim yang saya masuki hampir pasti kalah. Mereka bisa menang kalau saya diganti pemain lain, atau saya tetap di lapangan tanpa memegang bola.

Saya enggak menyerah. Pas SMP di kota, saya coba gabung tim basket. Lagi-lagi saya jadi cadangan. Saya enggak bisa ngedribel bola tanpa melihat bolanya, itupun tetap enggak bisa luwes. Koordinasi saya buruk sekali. Mencetak angka? Wah, lupakan. Dari belasan anak cowok di kelas, kalau dibikin peringkat siapa yang paling jago basket, saya di posisi paling buntut.

Tetap, saya enggak menyerah. Pas SMA, saya masih mencoba untuk fit in. Kelas saya punya tim sepakbola dan basket. Sialnya, kali ini teman-teman saya lebih jago dari yang sudah-sudah. Ujungnya bisa ketebak. Tiap ada pertandingan basket dan sepakbola saat acara class-meeting, saya dicadangkan terus.

Semenjak itu saya berhenti mencoba. Jangan-jangan saya memang enggak bisa gabung dengan pergaulan mayoritas teman-teman saya. Tidak di bidang-bidang itu. Saya tidak punya kemampuan yang mereka miliki untuk bisa menonjol di sana.

Advertisement

Saya pun mencari kelompok lain.

Di SMA, saya gabung dengan klub debat bahasa Inggris. Walaupun terkenal sebagai "Mr. Text Man" karena tiap debat selalu baca teks yang udah saya tulis sebelumnya, tapi saya cukup berhasil. Di situ, saya bertemu anak-anak aneh yang juga gagal mencoba fit in dengan kelompok populer di sekolah.

Klub debat bahasa Inggris tidak sepopuler tim basket dan cheerleaders. Tapi di dalamnya kami merasa senang karena akhirnya menemukan tempat yang cocok bagi ketidakmampuan-ketidakmampuan kami, dan membuat kami menemukan kemampuan-kemampuan kami yang sebenarnya.

Ada anak-anak yang punya koordinasi dan ketangkasan dan daya tahan fisik yang bagus; mereka teman-teman saya yang jadi populer di tim basket dan sepakbola. Saya tidak punya apa yang dibutuhkan untuk jadi populer di sana. Saya menyingkir, mencari kelompok yang lebih kecil, lalu bertemu anak-anak yang lebih senang berkutat dengan pikirannya sendiri, menuangkannya dalam argumen tertulis, merangkai tulisan-tulisan.

"Di sini tempatku," saya bergumam senang.

Waktu masuk tim basket dan sepakbola, boro-boro mau berprestasi. Saya selalu jadi penonton di bangku cadangan. Setelah gabung dengan klub debat bahasa Inggris, saya jadi ketua, bahkan sempat membawa tim saya jadi runner-up di kompetisi debat bahasa Inggris antar-SMA di kota kami. Salah satu anggota tim kami dapat posisi best speaker. Saya bahagia sekali.

Sepanjang hidup saya selalu berusaha masuk ke pergaulan mayoritas teman-teman saya, mencoba untuk "fit in" dan selalu gagal. Ternyata saya hanya perlu sedikit menggeser arah pandang, dan di sana saya menemukan kelompok yang lebih cocok dengan jiwa saya.

Saya teringat lirik salah satu lagu kesukaan saya, “Cool Kids” dari Echosmith:

I wish that could be like the cool kids

‘Cause all the cool kids, they seem to fit in

I wish that could be like the cool kids,

Like the cool kids

Kami anak-anak yang socially awkward, tidak populer, dan jarang terlihat jika dibanding mereka yang berjaya dalam kelompok mayoritas dan dielu-elukan para penonton yang banyak sekali. Tapi kami bahagia dan tetap bisa berprestasi dengan hal-hal yang kami miliki. Kami tidak perlu menjadi cool kids. Kami akan mendefinisikan ulang arti cool kids itu dengan cara kami sendiri. []