“Bayangin, pas gue pergi dua hari yang lalu, itu tempat sampah udah hampir penuh. Emang sih, gue niatnya pengen ngebuang tapi udah tiga kali gue buang sampah dan itu sebenernya bukan waktunya piket. Dan lo tau apa yang terjadi pas gue pulang? Itu tempat sampah masih adem ayem, ngga berubah tempat sama sekali dari tempatnya bahkan sampahnya makin numpuk, ada belatungnya pula. Ih, sumpah. Anak-anak pada ngga peka.”

Yah, begitulah kalau temenku yang dari Jakarta lagi cerita dengan bumbu-bumbu omelannya yang khas. Hahaha… Aku sih cuma ketawa-ketiwi sambil bayangin raut wajahnya ketika lagi buang sampah dengan mulut yang terus komat-kamit. Entahlah, mantra apa yang sedang diucapnya.

Lucu plus miris mendengarnya. Iya juga ya, kok bisa dari sekian penghuni kos tidak ada satu pun yang tergerak untuk membuangnya. Apakah tidak tahu atau tidak mau tahu (?)

“Ah, biar si A yang buang sampah.” pikir si B.

Di satu sisi, si A berfikir yang sama

Advertisement

“Ah, paling nanti dibuang juga sama si B.”

Hoho, kalau semua penghuni kos memiliki pola pikir yang sama, ditunggu sampai lebaran pun ngga akan dibuang-buang. Kalau sudah begini nih, mereka sudah saatnya membutuhkan suatu formula untuk memantik kepekaan mereka. Menyulut peka. Saya mengambil istilah yang sering dipakai kak Sasa, si Master EYD, di Komunitas Soto Babat.

Ada rasa sebal dan marah ketika kita sudah memberikan kode-kode tapi ternyata yang dikode ngga peka-peka juga (pengalaman banget kayanya).

Bukan apa-apa sih, kalau urusan buang sampah mungkin memang masih bisa menanganinya tapi kalau sudah berulang kali kita terus yang melakukannya, ya ngga munafik juga, kita punya tugas-tugas lain yang lebih penting daripada sekadar buang sampah. Kebayang ngga, misal, kita pulang kuliah atau kerja dan melihat kondisi kos atau rumah yang acak kadul, apa yang kamu rasakan? Oke, ngga usah dijawab. I know you so well.

Pernah, temen sekosku abis makan, piringnya ditaruh di tempat cuci. 5 menit awal aku masih memaklumi. 5 menit kemudian, aku udah mulai resah dan gelisah. Karena waktu itu aku ada agenda di luar, aku tidak tahu di menit-menit selanjutnya. Aku pergi dari jam 08.00 sampai jam 20.00, ketika aku sampai kos-kosan, aku mampir ke dapur dulu, ngecek. Hmm.. and you know? Itu piring masih nangkring dengan manisnya di tempat cuci piring. Untuk piringnya dari plastik, kalau dari beling udah ku pecahin deh. Yaudah, akhirnya aku cuci itu piring dan urusan selesai. Namun, masih ada yang mengganjal,

“Kok bisa, ya?”

“Kok dia ngga merasa ada sesuatu yang aneh atau apa gitu, ya?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terus menyembul di antara ubun-ubun.

Ketidakpekaan selanjutnya adalah ketika saya berada di kereta menuju Jogja. Waktu itu kereta sedang berhenti di stasiun mana saya lupa, yang jelas ada seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya masuk ke kereta dan berdiri sekitar tiga meter di depan saya, kebetulan saya juga harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Pintu kereta tertutup dan kereta mulai melaju kembali. 10-15 menit si Ibu ini masih kuat berdiri. Setengah jam kemudian, saya melihat Ibu ini perlahan mulai menekuk lututnya dan duduk bersila tanpa alas apapun sambil memindahkan anaknya ke pangkuannya.

Apakah kau sudah bisa menebaknya? “Ya, no one cares!” Sama sekali. Sticker tentang siapa saja yang harus mendapat prioritas duduk sepertinya hanya jadi pajangan semata. Mas-mas yang masih segar bugar pun tidak bergeming sama sekali. Oh, Tuhan maafkan hamba juga yang tidak bisa membantu Ibu itu. Sebenarnya, aku bisa saja menegur salah satu penumpang dan meminta izin untuk menyedekahkan kursinya untuk Ibu dan anak itu. Hati ini berontak, tetapi entah mengapa mulutku kaku.

Alhamdulillah, tidak lama kemudian ada salah satu penumpang yang turun dan Ibu beserta anaknya bisa duduk. Alhamdulillah.. Lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama,

“Kok bisa, ya?”

Di mana kepekaan mereka? (saya juga). Apa yang salah? Apakah nilai-nilai luhur saling menghormati sudah tidak ada lagi? Apakah rasa empati, merasakan apa yang orang lain rasakan, atau memposisikan diri di posisi orang lain, sudah tidak berbekas lagi?

Saya tidak menuduh Anda atau siapapun. Tidak. Saya yakin yang membaca tulisan ini adalah orang yang peka. Buktinya ia mau berhenti sejenak dan membaca tulisan ini. Saya hanya mencoba untuk sedikit menyulut kepekaan untuk mereka yang kurang peka. Cobalah mengerti apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Cobalah untuk open our eyes, ear, and heart. Sepengetahuan saya sebagai pengamat manusia, hehe.. Orang yang memiliki kepekaan terhadap lingkungan akan disenangi oleh orang lain.

Contoh sederhana deh. Kita risih ketika melihat selokan-selokan di lingkungan kos atau rumah kita kotor dan menghitam. Nah, daripada mengerutuk kotorannya, mengapa kita tidak menjadi inisiatornya?

“Duh duh. Masnya ini udah mahasiswa, ganteng, peduli dengan lingkungan, ramah pula. Mampir ke rumah dulu, Mas.” Tuh kan…

Menjadi orang peka ngga ada ruginya kok. Karena bagi mereka yang peka, every single moment adalah suatu yang bisa dijadikan pelajaran bahkan ada sebagian orang yang sukses karena gercep (gerak cepet) dalam mengambil peluang yang ada.

Emm… Ngomongin kepekaan orang lain, jangan-jangan orang lain berfikir serupa lagi ke kita

“Ni orang kok ngga peka sih?”

Nah lhoh, makanya menyulut peka dan belajar menyulut kepekaan itu perlu karena angin akan terus berhembus meniup dan berusaha memadamkannya. Menyulut peka bukan berarti membuat kita menjadi pribadi sensitif, lemah atau menjadi mudah terbawa perasaan. Bukan. Justru dengan menyulut peka, mata kita dilatih untuk tidak hanya mampu melihat tetapi juga mengamati, telinga yang lebih terbuka untuk tidak hanya sabar dalam mendengar tetapi juga mampu menyimak, dan hati yang tidak hanya mudah terbawa perasaan tetapi juga membawa perubahan.

Jadi, ngga perlu pakai hashtag #KodeKeras #KodeBanter #KodeBanget lagi dong yaa.

Kamu, peka dong 🙂

Wah, kalau ini #KodeKerasBuatKamu. Huhuy..