Dulu waktu kamu masih mahasiswa pengen banget nikah umur 25, angka strategis saat kamu sudah cukup mandiri dan mapan dalam kehidupan. Tapi hari ini saat kamu melihat kenyataan umurmu telah memasuki angka 26, tetapi masih saja sendirian. Banyak orang disekelilingmu menguatkan dan bilang “Semua akan indah pada waktunya” . Faktanya, semua masih saja angan-angan. Saat kamu mengalami euforia ini, kamu harus faham tiga hal yang membuatmu sadar bahwa di titik hidupmu sekarang adalah bagian dari perjuangan.

Pertama, apa sebenernya jodoh itu?

Imam Ghazali dalam karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin juga membahas tentang jodoh, “Allah menciptakan sebuah jiwa dan dibelah oleh-Nya, jiwa-jiwa yang terbelah itu beterbangan dibawah Arasy (Singgasana-Nya), kemudian Allah akan mempersatukan kembali belahan jiwa tersebut di dunia dengan ikatan pernikahan sesuai dengan takdir yang tertulis di Lauhul Mahfuzh”. Dijelaskan juga dalam Quran Surat Ar-Rum Ayat 21 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Pada intinya kamu sudah terlahir dengan belahan jiwamu, memang kamu tidak tau “siapa” bahkan dalam perjalanan kamu bertemu yang salah. Tapi pasti jodohmu tidak akan tertukar, kamu yang lagi galau percaya saja kalau sudah waktunya tiba, belahan jiwamu akan diperjalankan hatinya oleh Allah untuk memperjuangkanmu hingga kalian dipersatukan oleh takdir.

Kedua, belajar dari filosofi janur kuning

Dalam pernikahan adat Jawa janur kuning menjadi salah satu simbol yang wajib ada. Makna dari janur adalah “Sejaning ing nur (Illahi)” yang artinya jalan menuju cahaya Illahi, lalu warna kuning memiliki filosofi “Kun-fayakun-Nya Allah” dan simbol dari “Kejernihan hati”. Filosofinya secara utuh “Dua jiwa yang satu dengan kejernihan hati, ditakdirkan berjalan menuju cahaya Illahi”. Dalam sebuah hadist juga dijelaskan bahwa dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Well, Setelah memahami filosofi ini, buat kamu yang segera ingin menikah, coba deh tanya dengan tulus sama dirimu “kenapa aku ingin menikah?”. Kalau jawabanmu masih berkutat “ Karena udah bosan sendiri, karena aku udah mapan, atau karena umurku emang udah waktunya”. Please, koreksi lagi dan tata niatmu, Kamu harus bisa membedakan niat kamu menikah adalah nafsu atau memang karena Allah. Pernikahan adalah ikatan yang sangat sakral karena tidak hanya hubungan dua insan atau dua keluarga, lebih dari itu pernikahan merupakan pertanggungjawaban pada Allah atas keluarga kecil yang akan kamu bangun nanti. Ketika kamu memasuki fase kehidupan baru dalam pernikahan ada banyak tanggung jawab dan amanah baru dalam hidupmu dan pasanganmu, pada saat itu kalian harus dewasa tidak hanya secara emosional tetapi juga spiritual.

Advertisement

Ketiga, doa yang hanya formalitas atau memang mendoakan

Banyak sekali diantara kita yang mengucapkan sakinah, mawaddah , warrahmah pada teman-teman atau kerabat yang baru menikah. Apakah itu hanya sekedar ucapan formal yang menjadi budaya atau benar-benar doa yang tulus. Saat kamu melafalkan doa ini untuk orang-orang di sekelilingmu, apakah kamu pernah juga berdoa untuk dirimu, mendoakan jodohmu, dan anak-anak yang kelak lahir dalam keluargamu. “Loh, emang bisa doa kaya gitu, kan aku belum nikah? Aku ngga tau jodohku siapa?”. Memang kamu belum nikah, kamu ngga tau jodohmu siapa. Tanpa kamu menyebutkan nama, doamu juga nggak akan kesasar, Allah maha mengetahui. Doa itu ibaratkan sebuah proposal. Kamu mempersiapkan jauh-jauh hari, membuatnya serapi mungkin dengan interface yang menarik juga. Kamu tulis semuanya dengan sistematis, logis, idealis,tetapi realitis. Nah, saat isi proposal disetujui dan ternyata kamu diberi lebih dari yang kamu minta, pastikan bahagianya nggak ketulungan. Ya, Itu cuma analogi sederhananya. mulai dari sekarang bahkan meskipun kamu belum ingin menikah nggak masalah, berdoa saja minta sama Allah jodoh yang sholih, sholihah, dengan kriteria yang sempurna, dan semoga dianugerahi keturunan yang bisa menjadi qurrota ‘ayyun (penyejuk jiwa). Satu lagi doa yang nggak boleh ketinggalan, semoga diberi kekuatan bisa membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah, perfect!. Ntah dikabulkannya nanti seperti apa terserah Allah. Kalau kata Bung Karno “Bermimpilah setinggi langit kalaupun engkau terjatuh, jatuhlah bersama bintang – bintang”. Intinya doa yang sempurna dan ikhtiar yang maksimal.