Awalnya, saya menduga bahwa jatuh cinta adalah kesalahan terbaik untuk bahagia. Namun, saat menuju puncak bersamamu, saya menyadari itu salah. Salah karena, kembalI jatuh kedalam cinta yang sama. Maksud saya, senyum yang sama”

Perihal sebelum kenangan ini, tepat saat pijakanku masih berada di puncak terendahnya hatimu. Aku sama sekali tak pernah menemukan jalan untuk meninggalkan jejak sepatuku disetiap jalan yang kulalui dengan petunjukmu. Jalan yang kutemui hanya jalan-jalan yang dipenuhi belukar, pohon-pohon yang rentah, tanah yang lebam akibat bekas hantaman embun-embun yang satu demi satu jatuh dari pucuk matamu saat rapuh ketika termarahi hari dan masa lalu.

Pelukan langit kepada awan semakin mencerahkan pagi dan juga kita. Sedikit pun endapan air yang menjelma kristal kekecewaan beberapa bulan yang lalu sedikit mengubahnya menjadi benih bahagia yang berharga. Yang akan tumbuh berbuah senyum atau mungkin murung. Semenjak jari dan hatiku ikhlas mengabadikanmu kedalam sebuah buku sederhana, aku tak punya lagi cara bertemu denganmu dalam satu jalur yang menyamakan tujuan.

Yang kumaksud bahagia itu, bukan saat segala yang kau impikan ada pada mimpiku yang belum sempat kubagikan padamu yang berkemas nyata dalam angan serta nyatamu. Atau mungkin saja Tuhan tidak sengaja mempertemukan pertemuan kita menjadi berharga atas karena pilihan; tak ada lagi jalan. Mungkin saja.

Sekian lama, sekian sabar sedikit demi sedikit gugur dihantam oleh rongrongan perasaan yang begitu lama dan dalam yang tengah bersemayam, sendiri. Mengapa masih saja mencintai sosok perempuan berkening lebar itu? Bukankah cinta tak selamanya mesti menunggu atau ditunggu. Seolah-olah tubuhku dipenuhi kebodohan yang memuncak hingga menutupi wajah lalu mataku, tuk menyaksikan keindahan dan merasakan jatuh cinta kepada perempuan yang lain.

Advertisement

Bukan karena aku menyukaimu sejak dulu, atau karena hatiku selalu merasa sendiri melihat banyak keramaian didepan mata. Namun, karena aku tidak mampu menciptakan sebuah kalimat puitis yang tersiratkan alasan yang dapat menjawab kata mengapa itu. Bagaimana jika saat hatimu yang masih dirajai oleh sosok yang begitu tangguh dan penuh kenang dalam kastil cintamu disebuah lembah yang kusebut kenangan?.

Harapan terjungkal. Mimpi tuk mewujudkan mimpi bersama mulai terbangunkan. Senyum itu meng-iyakan pertanyaan di dalam hatiku. Sebelumnya, pintaku sedikit merasakan pahitnya ragu saat menyeruput jawaban atas pertanyaanku yang sebenarnya berniat ajakan. Wajahmu menerbitkan fajar yang begitu pagi dan hangat saat baru saja bangun meninggalkan mimpi; berlari mewujudkannya.

Kemudian, saat lekas meninggalkan, wajahmu kembali membenamkan sebuah senja yang sangat cantik. Secantik saat kau lelah menapaki permukaan gunung bersamaku yang terus-menerus mematahkan permukaan yang datar; sedatar perasaan, mungkin. Senja yang menggambarkan sebuah penyesalan-penyesalan masa lalu yang berbentuk kepingan air mata saat engkau menceritakan semuanya.

Namun, hingga detik ini, wajahku belum mengerti akan wajahmu yang mengapa dan bagaimana aku dapat jatuh cinta kembali kepadamu. Demi waktu, kau tak mampu lari dari hatimu sendiri kan? Makanya, saya amat sangat mencintai waktu. Sebab hanya waktu yang bisa menyatukan kita. Mungkin, cinta masih belum mampu.

Setidaknya kau pahamkan dengan maksud hatiku yang mencoba mapang dihadapanmu yang bersahaja? Sudah kau layangkan, beberapa lisanku mungkin sulit kau pahami. Manakala kau menarik-ulurnya dengan ketidaksadaran, saya tidak akan pernah selalu merasa “tersakiti” oleh dewasamu. Mengapa? Karena senyumanmu selalu menghantarkan tubuhku ketempat yang tak pernah kuimpikan.

Tuhan selalu punya cara menyatukan manusianya dengan membuatnya mengerti mengapa ia tak disatukan. Seperti air dan api, yang selalu tak pernah menyatu. Namun, saling membutuhkan untuk satu unsur yang merasa tercintai-dicintai. Bersama saat menuju puncak. Menyaksikan keindahan dan gambaran alam Tuhan yang begitu hebat dan luar biasa, indah.

Angin menjilati kulit kita, hingga merinding. Menghempaskan rambut. Aku meminjamkan sebuah penutup kepala agar rambut indahmu tak melulu diganggu oleh colekan angina. Wajahmu kembali mengumpankan senyum tepat di hadapan wajahku yang semestinya lelah.

“Aku takut ketinggian, tapi hatiku ingin menuju puncak”

“Tak perlu takut, hatiku akan menjagamu dari ketakutan. Puncak akan bahagia melihat kau menyenyuminya dengan senyummu yang terpagarkan behel yang lucu”

“Betulkah?”

“Langkahkan keberanianmu, tinggalkan ketakutanmu tepat di telapak tangamu. Genggam tanganku, aku akan memberimu keberanian dalam dekapan ketenangan segala yang keikhlasanku bisa”

“Terima kasih, hatiku masih belum bisa melupakan kenangan. Jangan memaksaku membuatnya indah kejadian ini ya”

“Iya”

Aku merasa dapat mencintaimu karena dua alasan; pertama, saya tidak mampu menciptakan kalimat yang menjawab itu, dan kedua jawabanku akan selalu mentah sebelum menemui matang, saat waktu masih belum mampu menyatukan kita.