Aku masih ingat dengan jelas Kamu dan Dia bersama diwaktu yang salah. Salahnya dimana Aku dan Kamu telah saling mengikat. Saai itu Aku marah, sangat murka. Seperti anak kecil yang kehilangan mainan dari tangannya. Tapi, seperti si Dewan yang katanya hanya untuk masyarakat ternyata Kau juga begitu hanya untuk berusaha meyakinkanku.

Kau katakan "Dia bukan siapa-siapa sayang, Dia bukan masalah kita, hubungan kita baik-baik saja". Aku tak mengerti baik-baik saja bagaimana maksud mu. Tapi demi kemaslahatan bersama, Aku masih tetap mengikuti perjalanan cintamu untuk menjemputku. Selang beberapa waktu Aku merasa hanya ada Aku dengan cintaku padamu dan Kamu dengan kesenanganmu bersama Dia. Aku takut kau tak bahagia, berkali-kali Aku memberikan mu pilihan yang sama, meyakinkan mu semua akan diterima oleh mereka yang menyaksikan kita.

Kamu, Aku, Keluarga kita akan baik-baik saja dengan keputusan kita berdua. Apa kau masih ingat saat itu Kau harus memilih antara Diriku atau Dirinya. Itu bukan gertakan. Saat itu aku benar-benar sadar dalam logikaku. Ya, tak mengapa jika yang kau pilih ternyata bukan Aku. Sakit, kecewa sudah kurasaan saat Aku tahu kau lebih dari sekedar rekan kerja dengan Dia. Jadi ku pikir untuk melepaskanmu bersama cincin yang mamamu sematkan di jari manisku aku tak mengapa.

Karena dengan melihat mu bahagia walau alasannya bukan karena aku, ku rasa itu sudah cukup untuk yang namanya cinta *Picik ya, iya namanya juga cinta*. Aku masih ingat dengan jelas. Kala itu kau memilih Diriku beserta rencana-rencana besarmu yang didalamnya hanya ada Aku dan Kamu. Jujur Aku senang dengan pemikiran mu, rencana mu, mendengarnya saja aku bahagia. Kau terlihat lebih dewasa, seperti benar-benar siap membawa ku tua bersamamu.

Dan kita pun sepakat untuk meyakini hadirnya Dia adalah ujian dalam hubungan kita. Hubungan Aku dan Kamu kembali normal beserta persiapan-persiapan untuk pernikahan kita. Dan ketika keyakinan ku telah kembali sempurna. Di saat itulah Kau malah memilih cara yang berbeda untuk memutuskan ikatan kita.

Advertisement

Masih ku ingat dengan sangat jelas. Kala itu cara mu sempat membuatku tak sadarkan diri. Sungguh tega sekali kamu, tak mengabariku, lama, bagiku lama sekali. Mengkhawatirkan Kamu, terbangun setiap malam mendoakanmu agar Sang Maha melindungimu. Lucunya Kau tak merasakan kegelisahanku itu. Kau malah bersembunyi di belakang Wanita yang Aku tak peduli bagaimana kisah Kalian.

Tega sekali Kamu, tak Kau bagi Aku kesempatan untuk menatap mata mu, melihat senyum manismu, mengatakan apakah semua akan tetap baik-baik saja? Hingga pada detik akhir Kau mengabariku ternyata semua tak bisa baik-baik saja.