Istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu) sempat booming beberapa waktu yang lalu, namun demikian hingga sekarang pun istilah tersebut tampaknya masih sering dipakai. Secara umum, PHP dapat diartikan menggantungkan perasaan orang lain yang sepertinya memberikan sinyal bagus tapi tidak juga lantas segera di 'sah'kan atau kesannya seperti maju mundur. 

Lalu sebenarnya, siapa yang salah? Si pemberi PHP pastilah tersangka utamanya. Yakin dengan jawaban itu? Kalau aku punya pendapat yang berbeda. Populasi orang-orang gampang GR (Gede Rumangsa; dalam bahasa Jawa) yang dalam bahasa Indonesia artinya: punya perasaan yang terlalu berlebih, sepertinya kian bertambah atau zaman sekarang bahasa 'gaul' nya BAPER (bawa perasaan).

Ketika ada seseorang yang coba mendekati, respon apa yang diberikan?

Coba langsung respon buruk, tanggapannya:

"Sok kecakepan banget sih?!"

Advertisement

"Sombongnya…"

"Cantik baru segitu udah belagu."

Tapi jika di respon baik, seringnya respon baik tersebut disalah artikan jadi sesuatu yang dianggap 'lebih' daripada itu, dianggap lebih 'serius', dianggap 'menyetujui' hal yang belum jelas.

Semua demi kebaikan, demi kedamaian, maka tentu sebagai manusia normal akan memilih untuk memberikan respon baik.

Setelahnya, jika hubungan 'pertemanan' berjalan baik tiba saatnya orang-orang GR itu tadi bertindak lebih berani, mengungkapkan perasaan mereka misalnya.

Oh guys, sadar dong, ini zaman apa? 

Dan kalian sudah dewasa bukan?

Kenali lebih dulu orang yang sedang kamu kejar, gebetan atau apapun sebutannya versi kamu.

Jika orang tersebut memberi respon baik dengan:

1. Bersedia saling tukar kontak pribadi.

2. Membalas semua pesan-pesan kamu.

3. Aktif juga muncul di sosmed kamu (memberikan komen atau like, dsb).

4. Perbincangan yang terjadi enjoy, sepertinya yang kalian obrolkan cocok dan seru.

bahkan jika…

5. Bersedia diajak bertemu sekalipun.

So what?

Bukan lantas si dia bersedia menjalin hubungan tertentu yang lebih dari sekedar 'teman'. Sah-sah aja kalau dia menganggapmu cuma sekedar 'teman' bukan? Jangan langsung menuduhnya sebagai PHP. Sepertinya gak fair deh.

Karena…, 'cocok' itu bukan selalu menuju pada arah hubungan pasangan, ya…, seperti 'pacaran/kekasih'. Cocok bisa juga diartikan dengan cocok sebagai teman, cocok sebagai partner kerja, cocok sebagai saudara ketemu gede, dll.

Apa yang membuat cocok?

Banyak hal. Mulai dari gaya ngobrol yang seru, memiliki hobi yang sama atau dari almamater yang sama, dan masih banyak lainnya.

Bisa juga orang yang disebut sebagai PHP memang orang yang punya banyak teman, kemudian sikap baiknya itu juga karena dia sudah terbiasa bersikap seperti itu dan untuk semua orang. Parahnya, kamu malah BAPER! Duh, sedih deh…

Jadi salah siapa?

Maybe, dari kedua belah pihak memang sama-sama ada salahnya.

Dari sisi si GR atau baper: terlalu banyak berimajinasi, terlalu gampang menyimpulkan sesuatu, dan itu sangat tidak baik karena akhir-akhirnya menyakiti diri sendiri.

Dari sisi si PHP: mungkin terlalu 'baik' yang bisa disalahartikan tanpa dirinya menyadari hal itu dan akhir-akhirnya akan menyakiti orang lain.

Saran aja, jangan rusak pertemanan dengan hal-hal se-lelucon ini ya! 

Masih banyak ikan di laut kok, kalau si dia cocoknya cuma jadi teman ya sudah, pupuk saja hubungan pertemanan itu supaya awet sampai tua nanti dan cari lagi tambatan hati yang baru, mungkin ada si dia lainnya yang juga lagi nungguin kamu tapi kamu malah pakai nyasar dulu. Hehe…