Seorang pemuda atau pemudi yang tak punya pacar sering kali dilabeli dengan istilah jomblo. Jomblo, sebuah predikat yang kadang begitu menyakitkan hati kala dianggap sebagai orang yang tak laku-laku. Dianggap tak bisa menakhlukkan hati lawan jenisnya tuk dijadikan kekasih.

Contohnya seorang cowok jomblo itu dianggap tak bisa merayu cewek. Kalau bicara sama cewek gugupnya minta ampun. Di lain pihak kalau bagi cewek, dianggapnya cewek itu tak begitu menarik perhatian para cowok. Hingga dilirik pun tidak.

Ya begitulah yang terjadi, predikat jomblo begitu membumi bagi cowok atau cewek yang tak mempunyai pacar. Diberi predikat jomblo, bukan suatu masalah sih. Tetapi yang jadi masalah itu jika kita dianggap seperti diatas tadi atau yang paling parah itu, eh dianggap suka sesama jenis gitu. Padahal Jomblo itu bisa juga menjadi sebuah pilihan. Pilihan yang benar-benar telah ditekadkan dalam hati.

Kita harus bisa bedakan mana orang yang memilih menjomblo atau orang yang terpaksa menjomblo. Bedanya mudah, orang yang memilih menjomblo berarti dia tidak berusaha mencari pacar. Dia pun merasa bahagia dengan kesendiriannya. Sedangkan yang terpaksa menjomblo adalah dia yang mencari-cari pacar tapi tak pernah dapat. Orang yang seperti ini terlihat sedih galau karena kesendiriannya. Itulah perbedaan utamanya.

Seseorang memilih sendiri menjadi jomblo bukan berarti dia tak berani tuk mencintai seseorang atau berani mencintai seseorang tapi tak berani mengungkapkannya. Mencintai itu tak diwajibkan kok untuk menjadikannya pacar. Serta kita pun tak punya hak untuk memaksa orang lain mencintai kita. Pacaran pun bukan jalan utama tuk mengusahakan jodoh kita.

Advertisement

Mungkin sebagian orang beranggapan mencari pacar adalah salah satu cara mencari calon pendamping yang akan selamanya kita cintai. Namun dengan niat tersebut, justru dibaliknya kita berusaha menyeleksi orang yang telah kita pacari. Bukankah itu juga main-main dengan hati orang lain.

Bisa saja seseorang yang kita pacari itu terlanjur sangat mencintai kita, namun kita justru memutuskannya karena kita menganggap bahwa si dia tak pantas tuk dijadikan pasangan kedepannya. Saat itu juga berarti ada hati yang telah kita sakiti. Apakah seperti itu banyak terjadi?. Banyak lah, karena saat pacaran seseorang tak ada tuntutan tuk tetap bertahan. Setiap orang cenderung ingin mendapatkan yang terbaik untuk dijadikan pasangannya kelak.

Seorang wanita yang memilih menjomblo jangan dianggap dia tak menarik. Justru dia sangat menarik, karena begitu berkomitmen menjaga hatinya untuk tak mencintai sembarang orang. Bukan ia tak cantik, tapi ia tak mau memberikan kecantikkannya kepada orang yang asal bilang cinta. Bukan ia tak molek rupawan, tetapi ia menjaga tubuhnya tuk tak dijamah banyak orang. Bukan pula ia tak laku, karena sesungguhnya dialah wanita yang paling mahal harga dirinya.

Seorang pria yang memilih menjomblo jangan pula dianggap tak rupawan, dia hanya tak ingin menggoda para wanita dengan kerupawanannya. Jangan pula dianggap karena tak bermateri, justru dia menjaga rejekinya untuk tak dihambur-hamburkan. Bukan pula ia pria yang tak laku untuk dicintai. Justru ia adalah pria yang tak ingin bermain-main dengan hati orang yang dicintainya. Seorang pria yang bijak pun mungkin akan berkata,

“Sebenarnya aku ingin memberikan sebuah bunga mawar untukmu, memintamu tuk jadi pacarku. Namun alangkah mulianya cintaku, jika kuberikan cincin di jari manismu. Memintamu untuk menjadi istriku”.

Seorang perempuan bijak pun akan berkata pula,

“Sesungguhnya aku ingin menjadi pacarmu, seolah memastikanmu tuk mulai dari saat ini mencintaiku. Namun alangkah mengerti diriku, kau akan benar-benar mencintaiku saat kau berani meminangku jadi istrimu”.