Hidup itu keras kawan.

Bisa jadi slogan model begitu yang bikin banyak orang punya orientasi hidup harus diukur dari kalah-menang. Pokoknya, pilihannya cuma kalah atau menang.

Kalah atau menang. Gila-gilaan. Edan.

Wajar kalo makin kemari, makin banyak orang sikut-sikutan. Senggol-senggolan. Lihat aja yang terjadi di jalanan, di dunia kerja, di lingkungan rumah. Semuanya bersaing, berkompetisi. Dan semuanya pengen MENANG, gak ada yang pengen KALAH. Lha iya lah, siapa sih yang gak pengen menang.

Kalah atau menang.

Advertisement

Bikin orang makin gila. Sudi jadi apa aja, lakukan apa aja. Hanya untuk ambisi meraih kemenangan. Dukung-mendukung, euforia, penuh intrik. Agar bisa menang. Gak peduli lagi sama soal perasaan orang lain yang kalah. Karena hidup itu keras kawan…

Kita sudah hampir lupa. Ada pepatah bilang "kalah jadi abu menang jadi arang". Artinya, yang kalah dan yang menang sama-sama gak ada untungnya, semuanya rugi. Terus, kenapa masih pegang prinsip hidup "kalah menang". Anehhh.

Masih ingat ama Perang Bubat gak?

Itu salah satu perang saudara paling dahsyat yang terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia. Perang antara pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada vs pasukan Kerajaan Pasundan.

Gajah Mada MENANG. Lalu Hayam Wuruk bangga. Tapi sayang, pasca kemenangan itu, Gajah Mada malah menjadi seorang yang terkucil. Hayam Wuruk pun menderita patah hati karena ditinggalkan untuk selamanya oleh Puteri Sunda Dyah Pitaloka yang ternyata sangat dia cintai dan kagumi. Menang, tidak menjadikan seseorang makin hebat, tidak pula bahagia. Dari peristiwa ini, konon Majapahit makin menurun pamornya, dan menjadi sebab keruntuhannya.

Belajar dari itu, hidup gak harus kalah menang. Karena hidup juga belajar bertanggung jawab, bertahan dalam kesulitan, dan berusaha bangkit dari kejatuhan. Dan yang terpenting, menyikapi realitas.

Kalah atau menang. Gak ada untungnya.

Lalu untuk apa, bertikai bertengkar atau berselisih? Apa yang dituju? Tiap kemenangan pasti ada yang kalah dan terluka. Di balik kekalahan pun pasti ada orang yang tersenyum gembira. Kalo udah begitu mau apa lagi?

Kalah menang, harusnya gak selalu begitu.

Menang kalah itu bukan mutlak. Tapi mungkin. Mungkin menang, mungkin kalah. Jadi, kalah menang lagi-lagi bukan mutlak. Karena setiap ikhtiar berkemungkinan berhasil atau gagal, mungkin menang atau kalah.

Lalu apa yang PASTI, bukan MUNGKIN?

Satu hal yang pasti, kita harus punya KEBEBASAN HATI. Atau hati yang besar. Orang yang tetap ikhtiar tanpa perlu emosi. Hati yang gak perlu berambisi atau terobsesi kemenangan. Dan dapat realistis saat mengalami kekalahan. HATI yang siap menang, siap kalah. Karena kalah menang. Tidak ada yang abadi. Keduanya hanya sementara dan semu, dapat berubah. Kalah menang bisa datang dan kemudian pergi. Siapapun, orang yang menjadikan KALAH atau MENANG sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu.

Sejatinya, hidup bukanlah soal kalah atau menang. Karena hidup bukan perlombaan, bukan pertempuran. Hidup bukan Ia bukan mengejar ambisi. Bukan pula usaha menghindari kegagalan.

Hidup itu emang gak harus kalah atau menang. Kita lebih butuh HATI yang BESAR, hati yang lapang dan mampu menyikapi setiap kenyataan yang terjadi. Kamu gak usah peduli soal kalah menag.

Tapi buatlah diri kamu menjadi orang yang memiliki 10 ciri orang yang berhati besar, orang yang membebaskan hati dari soal kalah menang.

1. Ketika merasa menang, tidak angkuh.

2. Ketika merasa kalah, tidak takut.

3. Ketika sukses, tidak sombong.

4. Ketika gagal, tidak frustasi.

5. Ketika dipuji, tidak besar kepala.

6. Ketika dikritik, tidak sakit hati.

7. Ketika berbeda, tidak memusuhi.

8. Ketika pintar, tidak membodohi.

9. Ketika bermasalah, tidak mengeluh

10. Selalu mandiri dan tawakal

Kawan, hidup itu tidak selalu keras.

Karena kamu tidak bisa menang, kecuali jika kamu belajar bagaimana untuk kalah.

You can't win unless you learn how to lose.

Kawan, hidup gak harus kalah atau menang.

Tapi hidup butuh kebebasan hati. HATI yang membuat kita melampaui kalah atau menang. Hati yang mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi tanpa rasa takut.

Karena hidup itu milik kamu dengan skenario Allah. Tak perlu takut saat kalah, tak perlu sombong saat menang. Hidup tak lagi keras, kawan.