Bukan tak mencintaimu, aku hanya ingin menjadi seorang anak yang baik.

Sejak kita dipertemukan di waktu yang salah, aku hanya berharap bahwa waktu akan menjadi benar untuk kita.

Kau yang datang belakangan, bukan berarti merusak apa yang telah ada. Pertemuan kita terjadi bukanlah sebagai sesuatu yang salah. Kau hanya mencoba memperbaiki hatiku yang rapuh. Aku menerimamu dengan segala kondisi, kau menerima segala keterbatasanku.

Sungguh mulia cinta kita, tetapi sayang kita ada di waktu yang salah. Aku sudah lebih dulu bersamanya. Dia yang sudah mulai pudar bahkan sebelum kau hadir. Ditambah lagi orangtuaku yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran ya, bahkan di saat aku sudah terbiasa tanpanya. Karena aku denganmu kini.

Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya berdoa kepada Allah agar semuanya menjadi baik untuk semua orang. Akhirnya aku harus memilih, menjadi anak yang patuh kepada orangtua, meski hatiku tak begitu saja ikhlas meninggalkanmu. Dan kau pun begitu sebenarnya.

Advertisement

Maafkan aku, karena pada akhirnya tempat untuk menyerahkan keluh kesah dan lelah adalah orangtua. Aku menghormati kedua orangtuaku bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku mencintaimu dengan cinta yang baru saja hadir lewat tatapan matamu.

Aku terlihat melepaskanmu, tetapi sesungguhnya aku menitipkanmu pada Ilahi di akhir pertemuan kita. Karena aku tau Ilahi tidak akan pernah menukar apa yang menjadi milikku.

Maafkan aku yang lebih memilih kedua orangtuaku. Aku menjagamu di dalam doa. Hingga bumi merestui kita.