Banyak masyarakat keliru menganggap anak-anak belum siap untuk diberi pendidikan tentang seks. Apalagi akhir-akhir ini banyak kasus tentang pelecehan seksual, masyarakat merespon bahwa anak-anak harus dijauhkan tentang hal yang bersifat seksual. Padahal, pendidikan seks sangat diperlukan oleh anak-anak, terlebih jika mereka telah memasuki usia remaja. Melihat banyak ancaman pemerkosaan, hamil di luar nikah dan seks bebas pada generasi muda di tanah air ini.

Berbicara tentang pendidikan sebagai wadah untuk membentuk karakter seorang manusia. Bukan hanya tentang pengajaran yang hanya memberi ilmu sebagai wawasan. Namun, pendidikan seks juga berupaya untuk membentuk karakter dan pribadi seorang anak tentang kehidupan yang baik. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tahu tentang pendidikan seks. Seperti ketika anak dihadapkan dengan sesuatu yang bersifat seks―bukan porno― misalnya sebuah acara di televisi menayangkan film anak-anak yang di dalamnya juga ada adegan ciuman, maka orang tua harus cepat merespon dengan memberi masukan yang bersifat saran dan larangan kepada anak, misalnya dengan mengatakan, “itu dilakukan setelah menikah dengan suami/istri, nak”. Bisa juga dengan kalimat lain yang mengarahkan dan sekiranya mampu dicerna oleh anak dengan baik.

Anak yang sudah menginjak umur kurang lebih tujuh tahun, akan lebih banyak ingin tahunya. Dia akan banyak bertanya tentang apa yang dilihatnya dan lebih peka terhadap apa yang ada di sekitarnya. Usia anak-anak akan menunjukkan anak lebih mudah meniru dan mengikuti apa yang direkamnya. Dalam hal ini, orang tua tidak perlu melarang anak mengetahui hal seputar seks. Cukup dengan memberi informasi yang tepat anak akan menangkap informasi dengan baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks dan bagaimana menyampaikannya kepada anak dengan baik.

Orang tua harus mulai peka melihat adanya media sosial dan lingkungan sekitar sebagai penyebab utama banyaknya kasus pelecehan seksual. Sekalipun dalam media sosial berupa liputan dan berita tentang pelecehan seksual, orang tua harus tetap ada mendampingi anak. Begitupun dalam lingkungan sekolah dan lingkungan luar anak memiliki pengaruh yang luar biasa. Melihat banyak remaja di luar yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan pacaran dan kencan yang berlebihan, juga akan menjadi kemungkinan anak akan mengingat dengan cepat, dan apabila orang tua tidak segera menanamkan pendidikan seks dengan baik, maka bisa jadi kemungkinan anak akan menirunya di kemudian hari.

Pendidikan seks yang baik dimulai dari lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Misalnya, dengan mendampingi anak sehari-hari, tidak harus mengikutinya setiap dia pergi, cukup menanyakan apa yang dia alami dan mendengarkannya dengan baik, itu akan membuat anak senantiasa terbuka kepada orang tua. Kemudian memisahkan tempat tidur anak dan orang tua, sehingga anak tidak akan tahu ketika orang tua sedang melakukan hubungan, tidak menunjukkan kemesraan antara orang tua di depan anak, tahu bagaimana pendidikan seks yang baik kepada anak, tidak melarang anak bertanya seputar seks, pengawasan terhadap media informasi dan lingkungannya, dan yang paling penting adalah pendidikan dengan agama. Karena dengan pendidikan seks berlandaskan agama, anak tidak hanya paham tentang ketuhanan, tapi juga tahu hubungan yang baik dan batas-batasnya antara laki-laki dan perempuan.