Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menyayat hati di dalam hidup ini. Banyak sekali pendapat orang lain yang tanpa sengaja turut andil menyesakkan otak dan perasaan kita. Seperti pertanyaan-pertanyaan basa basi klasik yang dilontarkan setelah pertanyaan apa kabar.

Misalnya, “Kapan wisuda?”, “Kapan menikah?”, “Kapan punya anak?”, “Kok anaknya masih satu? Kapan nambah lagi?”, dan banyak lagi pertanyaan “Kapan” lainnya dalam hidup ini, yang bagi beberapa orang pertanyaan tersebut sungguh berat untuk dijawab.

Orang yang bertanya“Kapan wisuda? Sudah semester akhir tapi gak lulus-lulus ya, makanya lebih rajin lagi kerjainnya”, tidak pernah berpikir seberapa terlukanya orang yang ingin wisuda namun tengah dipersulit jalannya oleh sang Dosen.

Orang yang bertanya “Kapan menikah? Udah usia segini loh?” Tidak sempat berpikir seberapa tersayatnya orang yang sudah ingin lekas-lekas menikah namun Tuhan masih belum mendatangkan jodoh yang tepat padanya.

Orang yang bertanya “Kapan punya anak? Masa’ bikin satu aja gak bisa?” atau dengan pertanyaan, “Kapan nambah lagi? Saya aja sudah empat loh anaknya, masa kamu masih satu aja?” Tidak ingin berpikir lebih dalam lagi, seberapa sakitnya orang yang tengah menanti-nanti datangnya momongan namun Tuhan belum juga percaya padanya.

Advertisement

Jadi sudahlah, jangan dengarkan begitu dalam prihal pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang perlu kita lakukan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah, tersenyum. Jangan menjawabnya dengan emosi berapi-api. Sabar. Bukankah Tuhan selalu mencintai orang-orang yang sabar?

Bukankah hidup ini kita yang menjalani? Bukankah hidup kita ini bukan didedikasikan untuk orang lain? Bukankah dalam hidup kita juga tidak diwajibkan untuk menjadi jawaban yang mampu memuaskan pertanyaan-pertanyaan mereka? Bukankah kita menjalani hidup untuk menjawab pertanyaan pertanyaan hidup dari diri kita sendiri? Jadi tersenyumlah, biarkan orang bertanya dan kau memberi senyuman. Supaya kita sedikit memberikan kelegaan pada sang penanya.