Kau Pernah Berada di Posisi Ku Kini: Lupakah Jika Kau Pernah Tersakiti? Mengapa Kau Lakukan Hal Yang Sama Padaku?

Hei, bekas pacar. Tidakkah kau merindukan aku? Atau tidakkah kau sekedar ingin menjelajah kenangan saat kita bersama dulu? Sebentar saja. Meski kini kita tak mungkin lagi bertemu dalam mimpi yang sama, karena mimpimu bukan lagi aku. Kita hanya lah sekadar masa lalu yang bisa larut—seperti garam di laut, namun percaya lah rasa asinnya akan menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang. Terasa.

Dulu, kau mengemis cinta pada dia—mantanmu, kemudian kau menerima penolakan-penolakan yang pedih. Kemudian kau datang padaku, bercerita segala hal yang kau alami. Malam itu kau tak ingin pulang, dengan alasan kau ingin mencari ketenangan diri.

Aku tak bisa menolak sahabatku sendiri, aku tak mungkin mengusirmu untuk pulang. Tapi apa? Kau justru mengujiku untuk pembuktian cinta. Aku bisa apa? Aku memendam rasa cinta ini selama sepuluh bulan lamanya. Ya, aku menyimpan rasa cinta untukmu, sahabatku. Selama sepuluh bulan itu hari-hariku hanya dihiasi oleh cerita-cerita indah kau dan dia, yang selalu kau curhatkan padaku. Sakit. Perih.

Setelah semua terjadi aku merasa bahwa aku adalah manusia tertolol di dunia ini. Kau hanya mendung yang hadir kala hari sudah mau hujan. Kau tidak benar-benar mencintaiku, kau hanya melampiaskan rasamu dengan berpura-pura mencintaiku. Aku bodoh, aku tolol! Tak semestinya aku berpikir instan bahwa persahabatan yang selama ini kita lakoni, dengan mudahnya berubah menjadi sebuah rasa cinta—mustahil, itu hanya ada dalam cerita FTV.

Jika Kau Tak Bisa Mendengar Bisik Hatimu: Ijinkan Aku Untuk Membacanya Pada Mata Mu—Sebentar Saja

Kali ini aku tak ingin berbasa basi lagi dengan senandung malam yang pernah membuatku luluh, kemudian menghantam dinding hatiku dengan segera. Setelah sekian lamanya kau dan aku tak lagi saing menghubungi, aku hanya ingin menyampaikan kepadamu tentang keberhasilanku untuk tak lagi mengingat semua tentangmu.

Advertisement

Hmm, kali ini aku tak ingin menyebutnya 'melupakan', karena aku belum sepenuhnya melupakan pengkhianatanmu terhadap cintaku. Mungkin saja kali itu aku yang terlalu bodoh percaya akan kata cinta. Iya, aku tahu pengkhianatanmu itu hanya setipis lapisan-lapisan bawang yang kemudian membuat air mataku jatuh berjuntai.

Dear Pacar Orang: Buruan Berantem Abis itu Putusin, Agar Dia Juga Tahu Bagaimana Rasanya Jadi Aku

Kamu pernah menjadi orang terindah dalam hidupku, bahkan orang pertama yang dahulunya mengenalkanku pada arti sebuah kesetiaan. Yup, aku adalah sahabat bodohmu yang setia mendengarkan ceritamu. Hampir dua tahun kita jalani hari bersama, dan dengan mudahnya kamu menmengatakan cinta bohong padaku, kemudian kau berpaling pada cinta lama-mu.

Malam itu, iya malam itu aku sudah berpikir keras untuk mengikhlaskanmu. Merelakan mahligai cinta yang selama ini aku bangun bersama kata 'persahabatan' itu, hancur bersimbah dalam pengkhianatanmu. Lalu apa? Kau lakukan lagi—menyakitiku, meninggalkanku, kemudian dengan mudahnya kau ucapkan kata maaf? Dan kali ini aku minta maaf, karena aku bukan lah mbak Hanna yang selalu bersabar disetiap scan film CHSI.