Catatan Pelampiasan Sebelum Tidur

Seperti yang tertera di judul, tulisan ini memang hanya sebuah pelampiasan. Pelampiasan dari kantuk yang tak kunjung datang, sedangkan jam telah memeluk angka tiga pagi. Saya tidak heran sih, kuatnya mata melek ini disebabkan kopi yang saya sesap pukul dua belas tadi. Tapi, saya tidak pernah menduga sebelumnya jika dampaknya akan begadang selarut ini. Alhasil, sisa malam ini saya lalui dengan memutar musik ditemani dua sahabat yang senasib seperti saya. Namun, mereka lebih memilih membuat gambar tidak jelas untuk mengisi waktu luangnnya.

Malam ini tidak ada yang menarik. Tidak jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya. Berhubung sekarang hari Minggu, saya merasa tidak terlalu rugi jika bangun agak siang. Toh, juga lagi musim libur kuliah.

Saya yang sedari tadi duduk mengamati pola tingkah dua sahabat karib menggambar itu, hanya bisa diam menikmati alunan klasik rock dari Metallica. Paduan suara beat drum dan gitar listrik cukup membuat kepala kami bertiga turun-naik, angguk-angguk. Selain suara musik, sisa malam ini diiringi juga oleh ocehan mereka yang memutar kembali memori masa kecil. Cerita mulai dari permainan masa kecil, kekonyolan bersama teman, percintaan semasa SMP, hingga permusuhan. Semua itu, jika dilihat dari kaca mata sekarang, terkesan sangat lucu dan menggelikan.

Sepertiga sisa malam memang momen yang sering kali mengeluarkan memori masa silam. Jika anda terjaga di jam-jam seperti ini, sangat mungkin jika kenangan masa kecil akan muncul dalam ingatan. Tiba-tiba kita akan tertawa, sedih atau mungkin menangis jika mengenang momen tertentu. Bisa jadi momen itu menyenangkan atau sebaliknya, menyedihkan.

Advertisement

Jika mau lebih produktif, cobalah untuk menjalani sisa malam dengan sholat malam, membaca atau menulis. Bagi sebagian besar penulis hebat, menulis di sisa malam adalah kenikmatan tersendiri. Sebab, di waktu seperti ini ide dan imajinasi bagus akan muncul. Tidak heran juga ketika tengah ujian kita dusuruh untuk belajar sehabis sholat Shubuh, karena di saat itulah otak masih netral dan siap menampung apapun yang masuk.

Weslah, saya ingin mengakhiri catatan ini. Mata tampaknya sudah turun watt. Saya berencana segera tidur. Meski begitu, dua teman di depan saya ini tak kunjung menunjukkan mata ngantuk. Justru pembicaraan mereka semakin seru dan lucu. Malam ini serasa milik mereka berdua. Saya merasa seperti nyamuk yang mengganggu dua sejoli. Udahlah, ya. Bye.