Setiap orang yang lahir bukan untuk berjalan sendiri, dan waktu akan mengalir setiap hari, apakah dunia ini hanya berisi dengan tangisan dan kesendirian? Jawaban sekarang yang ada hanya YA.

Orang depresi sepertiku sangat paham apa artinya meminta kesendirian.

Mungkin semua orang selalu berfikir bahwa keramaian selalu berdampak pada suasana yang ramai pula, tapi tidak untukku orang yang sedang mengalami depresi, seramai apapun keadaan itu aku tidak benar-benar ada disana, pikiran kacau, hatiku patah, bahkan air mata ini sudah tidak bisa lagi keluar.

Orang yang depresi tidak selalu terdiam aku juga terkadang tertawa dengan yang lainnya, walaupun sebenarnya aku tidak pernah benar-benar tau tertawa tentang hal apa?

Keluar rumah hanya sebentar, lalu masuk kamar, tidur, guling-guling, nangis lagi, tidur, guling-guling begitu seterusnya. Duniaku hanya ini, hanya kamar yang jadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya aku tidak ingin bicara dengan siapapun hanya saja aku tidak tau siapa yang dapat dipercaya, dan kebanyakan dari mereka hanya sekedar ingin tahu, lalu meninggalkan begitu saja.

Advertisement

Di bayanganku, dunia ini sudah tidak bisa diubah lagi. Cinta, persahabatan, dan kasih sayang sudah mulai lenyap, bahkan aku bisa lebih mencintai hewan peliharaannku ketimbang teman, cinta, bahkan kasih sayang dari orangtua. Aku punya alasan tersendiri, mengapa anjing yang kucintai sejak aku mengalami depresi? Karena hanya anjing ini yang setia mendengar tanpa pergi melarikan diri, bahkan dia rela menungguku walaupun temannya sudah mulai menggonggong mengajaknya main.

Sendiri, sendiri, sendiri, seakan-akan gak pernah butuh siapapun. Kapok yang namanya jatuh cinta, capek yang namanya setia kawan, dan sudah mulai sulit nurut sama orangtua.

Aku bosan mendengar semua kata orang, dan mulai berfikir bahwa kepedulian mereka semua itu omong kosong, ada beberapa orang yang menasehati, tapi yang kudengar hanya sabar .Ya memang sabar jawabannya, tapi sabar bukanlah suatu hal yang dapat mengubahku lebih baik, ada pula yang berkata diriku kurang bersyukur “hei man, you dont know about it” aku mulai kebal dengan kata-kata tersebut, jawabannya yang terbaik kala itu hanya diam, apakah jika bicara mereka akan mengerti? Jangan harap, mereka akan menyalahkan aku sebagai pokok masalah utama yang ada, jika sudah terlanjur seperti ini, apakah aku harus mengulangi tangisan seperti kemarin, aku sudah patah semangat apakah harus dipatahkan lagi hingga tidak bisa disambung kembali? Aku mulai berhenti mendengar apa yang mereka katakan.

Mereka bilang aku egois, ya memang aku egois. Tapi mengertikah bila yang mereka lakukan punya dampak yang sangat besar untuk diriku? Bukan makian yang ingin kudengar, atau amarah yang meledak-ledak aku hanya mereka mendengar suaraku.

entah kenapa aku sudah tidak bisa mengenal diriku sendiri. Sekarang aku bukan hanya membenci mereka tapi juga hidupku

Apakah ada yang salah dengan diriku?

Sejahat itukah aku ?

Hingga jika bicara dengan diriku harus meledak-ledak, penuh amarah yang tertancap dari bibirmu, aku bukan penjahatat yang harus terpenjara dalam kata-kata

Asudah pergi ketempat-tempat dimana diriku bisa merangkul batin tapi semuanya sia-sia, seorang psikolog bahkan tidak bisa menolong apapun, aku mulai mendegar-dengar suara aneh dalam telingaku, pikiranku jenuh, dan aku sudah bingung apa yang harus kulakukan. Maaf bila diriku harus sebentar "melarikan diri" dari indahnya dunia seperti kata orang-orang. Aku cuman capek.