Hei kamu, apa saat ini kamu sedang menunggu seseorang?

Apa rasanya?

Siang itu, aku sudah berada di Stasiun Tugu, salah satu Stasiun yang ada di Yogyakarta. Salah satu Kota Pariwisata yang nyaman dibalut dengan manisnya kenangan dan cita-cita yang diukir oleh siapapun yang pernah datang kesini.

Hari itu aku berencana pergi ke Ngawi, mengunjungi rumah nenek. Rasa rindu yang sudah tidak tertahan lagi, mengarahkanku untuk segera membeli tiket. Seusai membeli tiket, aku mengambil tempat diruang tunggu penumpang sambil menikmati roti, dan lalu lalang warga lokal serta turis yang juga ada disitu.

Lalu, ada seorang ibu-ibu yang tergopoh-gopoh duduk disampingku sambil menyincingkan kakinya. Aku perhatikan tak ada yang salah. Lalu si ibu tadi duduk, disertai dengan seorang ibu-ibu lain. Kutaksir umurnya 68-70 tahunan.

"Dik, mau kemana?" tanya ibu tersebut.

Advertisement

"Oh, saya mau ke Ngawi buk."jawabku sembari tersenyum

"Mau mengunjungi siapa, dik?" tanyanya lagi. Kali ini aku bersalaman dan berkenalan dengan beliau. Ibu Murti dan Ibu Harti.

"Saya mau mengunjungi nenek saya, buk"

"Oh, sendirian saja dik?" tanya Ibu harti.

"Iya buk, ibuk mau kemana rencananya?" tanyaku balik

"Mau ke Sragen dik, mau njenguk cucu" jawab bu Harti.

Dan obrolan hangatpun mengalir. Sambil terus menunggu jam keberangkatan kereta, karena keretaku berangkat jam 15:30 WIB, banyak hal yang kami obrolkan, mulai dari sejarah Yogyakarta, cerita anak mereka yang kuliah, kesukaan mereka akan makanan-makanan jaman lama, sampai pada cerita yang pilu.

Ibu Murti.

"Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, mbak. Punya lima anak yang alhamdulillah sudah mapan sekarang. Kehidupan saya tidak sesulit dulu. Dimana desingan peluru sering menghantui kepala saya saat saya tidur. Anak-anak saya ketakutan dan seringkali saya memeluk mereka sambil menangis. Saya menghadapi ini semua sendirian, mbak. Seringkali cemoohan dan hinaan kami dapatkan dari masyarakat jaman dulu"

Ya, dia istri seorang veteran di salah satu datasemen di Yogyakarta. Tugas suaminya adalah membela Tanah Air. Jelas bahwa ditinggal bukan hal yang mudah untuk wanita, tapi ibu Murti ini sangat kuat. Dari ceritanya, kuketahui bahwa dia benar-benar sosok yang sangat kokoh. Ditinggal bertahun-tahun bukan hal baru, menahan rindu, menjaga anaknya sendirian, menanam sayur-mayur dan berdagang di antara kepungan kaum Belanda yang saat itu menguasai pasar sekalipun. Tak jarang, godaan dari kaum penjajah ini didapat. Tapi dengan imannya yang kuat, ibu Murti menolaknya. Konsekuensinya? Ibu Murti nyaris ditembak. Tapi anak pertamanya melindunginya.

Di hari lain, tidak jarang rumahnya didatangi oleh Belanda, untuk dilacak apakah suaminya ada di rumah. dan biasanya pada saat kaum putih ini datang, seluruh anaknya diperintahkan untuk lari kerumah tetangga, takut jika ada apa apa. Ibu Murti sering mendapati anak-anak tetangganya dijadikan budak seks oleh kaum mereka. Pedih melihatnya, tapi Ibu Murti tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tetap wanita yang punya rasa takut.

Lalu bagaimana komunikasinya dengan suaminya? Jangan dibandingkan dengan kita yang dengan sepersekian detik langsung bisa tau kabar pasangan kita. Surat yang dikirimpun kadang tak sampai, uang yang dikirimpun kadang tak sampai. Jika sudah begini, Ibu Murti hanya bisa menangis dan memohon kekuatan dari Tuhan.

Suatu hari, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka, Ibu Murti mendapati sekelompok veteran Indonesia lain datang dan membawa surat sekaligus peti mati. Ada feeling tidak enak dalam hatinya, tapi ia masih saja berfikir positif. Dengan segenap kekuatan, Ibu Murti membaca surat tersebut. Isinya, adalah pemberitahuan bahwa suaminya meninggal. Pada saat ditugaskan ke Manado, saat Indonesia sedang mengadakan rencana gerilya, kubu Indonesia menang. Taktik mereka berhasil. Karena gembira, esoknya mereka mengadakan rehat total. Nah, pada saat itu, Belanda mengirimkan sekutu untuk menghancurkan pasukan tersebut. caranya? Dengan mengirim seseorang yang membawa pisang. Didalam pisang tersebut telah disisipkan granat yang kecil. Dan meledaklah granat itu, banyak yang meninggal, tidak sedikit yang luka.

Sedih, trenyuh, hancur dan rasanya ingin ikut mati, ujar Ibu Murti. Rasanya penantian bertahun-tahun sia-sia. Seperti kehilangan kendali, ibu ini menata hidup kembali perlahan dengan anak-anaknya. Menerima kenyataan, dan berusaha memperbaiki hidup (lagi) dengan anak-anaknya, membuat Ibu Murti menjadi sosok yang tegar dan tabah menghadapi setiap cobaan hidupnya.

Ibu Harti.

Seorang ibu yang tak kalah kuatnya. Sejak menikah, lalu hamil, ibu Harti sudah biasa mengecap pahitnya penantian. Kadang suaminya pulang, kadang hanya suratnya yang datang, kadang yaa cuma bisa dibayangkan saja. Ibu Harti yang sering berkumpul dengan organisasi ibu-ibu jaman dahulu, tidak begitu terbebani. Memang rindu itu tetap ada, tapi rasa setia pada suaminya mampu mengalahkan apapun.

2 Tahun berlalu dari penugasan, dia mendengar suaminya memiliki wanita lain di tempatnya bertugas. Dia masih tetap saja sabar, dan menganggap ini hanya cobaan kecil. Anak mereka sudah besar dan mulai bertanya kapan ayah pulang. Setiap pertanyaan itu datang, rasa bersalahnya menjadi-jadi. Ibu Harti sangat ingin suaminya melihat anaknya, setidaknya hanya untuk memeluk anaknya.

4 Tahun berlalu.

Ibu Harti masih setia, masih bekerja dengan giatnya untuk anaknya. Rindu bukan lagi hal yang istimewa, seiring waktu anaknya juga sudah mau mengerti akan keadaan perang saat itu.

5 tahun berlalu.

Sebuah surat datang. Petir rasanya menyambar tepat diatas kepalanya, remuk dan benci menjadi satu. Ternyata selama ini, ada hal yang disembunyikan. Suaminya telah meninggal 5 Tahun yang lalu. Tepat 6 bulan setelah penugasannya. Bisa dibayangkan? Rasanya merindukan sosok yang bahkan sudah tidak ada ditempatnya. Ibu Harti menangis berteriak sejadi-jadinya. Perasaan dibohongi dan dipermainkan pemerintah, setidaknya saat itu fikirannya, mengungkungnya pada satu fase dimana dia ingin bunuh diri. Tapi anak lelakinya yang masih kecil itu, memeluk kakinya dengan sangat kencangnya. Tangisan lirih seorang anak kecil yang masih polos, meluruhkan setiap sendi kebenciannya. Seiring waktu, ibu Harti mulai bangkit dan menjalani hidup kembali. Bangkit dari keterpurukannya.

Jam di stasiun menunjukkan pukul 15:10 WIB. Lalu lalang orang-orang distasiun itu masih saja ramai. Aku yang mendengarkan cerita mereka tertegun lama. Aku merasa malu, dan rasanya ada palu ghodam yang mengetuk naluriku dengan sangat keras. Yang aku keluhkan benar-benar tidak seberat yang mereka rasakan. Mungkin memang, kita tidak hidup di jaman perang, tapi mencoba pribadi yang miskin akan keluhan, dan mencoba memandang sisi positif dari sebuah bencana adalah hikmahnya.

"Apa ibu sempat dendam dengan keadaan?" tanyaku setelah mendengar cerita mereka.

"Tidak, dik. Untuk kami setia bukan untuk sekedar pujian. Mungkin dimata yang lain kami bodoh karena menanti sesuatu yang tidak pernah datang, tapi setia ini, kami tujukan untuk orang yang tepat"

Keretaku datang. Aku berpamitan. Sebelum aku menaiki keretaku, aku menoleh pada mereka. Terimakasih ibu Harti dan Ibu Murti, mungkin jika senja ini tidak menghantarkanku pada kalian, aku takkan pernah tahu betapa berharganya sebuah kesetiaan dan rasa syukur 🙂