Saat dilahirkan, kita tidak bisa memilih siapa yang nantinya yang akan jadi orang tua kita. Kita tidak bisa memilih akan menjadi anak seorang presiden, anak seorang menteri, anak seorang jendral, anak seorang pengusaha atau pun jabatan lainnya yang mempunyai harkat dan martabat yang lebih tinggi. Sebagai seorang anak, yang kita lakukan hanya untuk berbakti kepada orang tua dan membahagian mereka. Menghargai orang tua kita dan membalas budi mereka adalah cara terbaik agar kita tidak dicap sebagai seorang anak yang durhaka kepada orang tua.

Seburuk apapun sifat orang tua kita, mereka tetap orang tua kita. Seberantakan apapun kehidupan kita, kita tetap harus menghormati mereka. Meski kadang perkataan ataupun tingkah laku dari orang tua kita menyakiti dan melukai perasaan, kita mesti legowo dengan semua itu.

Dalam sebuah keluarga masalah keuangan merupakan masalah yang rentan dalam hal merusak ataupun menghancurkan sebuah hubungan. Uang memang bukan segalanya, uang tidak bisa membeli cinta, uang tidak bisa membeli waktu, uang tidak bisa membeli kehormatan namun dengan uang kita dengan mudah mendapatkan itu semua. Dengan uang, cinta yang begitu sulit digapai akan dengan sendirinya mendatangi kita, waktu yang berjalan begitu cepat akan terasa lambat, kehormatan yang dibangga-banggakan akan hilang seketika ketika uang sudah mulai berbicara.

Anak merupakan korban pertama dari pertengkaran kedua orangtua. Mungkin tidak bisa dilihat secara langsung, tapi yang berubah dari anak tersebut dapat dilihat dari segi prilaku mereka yang pasti akan lebih perasa dan tempramental. Banyak dari mereka lebih memilih meninggalkan rumah dan merantau ke lain tempat daripada harus melihat pertengkaran orang yang mereka sayang. Hal ini juga dapat mempengaruhi kedewasaan dari seorang anak.

Orangtua kadang egois, hanya mementingkan diri mereka sendiri dengan dalih untuk kebahagian keluarganya. Padahal hanya untuk mengejar karir yang hanya sementara sampai mereka beranjak tua nanti. Saat mereka tua, anak-anak mereka mempunyai kehidupan sendiri dan jarang bertemu satu sama lain. Menyesal di kemudian hari dan meminta agar waktu bisa terulang, namun uang ataupun kedudukan takkan mampu untuk melakukan itu semua.

Orangtua egois atas apa pilihan mereka terhadap anaknya. Memaksakan yang mereka anggap benar terhadap anak mereka. Menjadikan mereka seperti seorang diktator yang memerintah dengan tangan besinya. Namun seberantakan apapun kehidupan kita, kita harus mensyukurinya. Mudah sekali melakukan rasa syukur itu, cukup kalian menoleh ke pinggiran kota, lihatlah beberapa anak kecil yang mungkin hidupnya lebih berantakan dari kita, lihatlah orang tua renta yang mungkin ditelantarkan oleh anak-anaknya, lihatlah para remaja yang mencari sedikit penghasilan dengan cara mengamen di pinggir jalan karena orang tua mereka yang sudah tak perduli dengan pendidikan mereka.

Cintailah kehidupan kalian meskipun itu berantakan, karena kalian tidak tahu di luar sana lebih banyak orang yang mempunyai kehidupan yang lebih berantakan dari kehidupan kalian sekarang.