Aku kira:
"Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros"

C.A

Beginilah aku, saat kamu berkunjung ke kota Jogja di mana aku menuntut ilmu. Masih seperti dulu, selalu merasa gugup saat di dekatmu. Selalu hanya bisa tersenyum saat kehabisan kata di depan candaanmu yang selalu berbunyi, "Mana kekasihmu? Ayo, kenalkan padaku!". Katamu sambil melemparkan pandangan yang tentu membuatku tersedot ke masa silam empat tahun lalu.

Aku bungkam. Empat tahun lalu. Masa putih abu-abu. Aku mengenalmu dalam satu ekskul karate sekolah. Kamu yang ceria dan selalu menghibur. Kamu yang selalu tampak tenang dan dewasa. Kamu yang pintar di kelas, sehingga wajar saja begitu banyak wanita cantik di sekolah yang mendekatimu. Sedangkan aku bukan wanita cantik yang bersinar di sekolah saat dulu.

Tanpa kamu tahu, diam-diam aku selalu memilih ekskul karate sebagai jadwal terfavoritku di sekolah hanya untuk bertemu denganmu. Itu berlangsung tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar, bukan? Semua itu demi menutupi perasaan mencintaimu dari jauh secara diam-diam, meskipun sebenarnya kita dekat. Tapi aku tak ingin kamu tahu perasaanku sebenarnya. Memang tak enak jadi seorang wanita, hanya bisa menunggu waktu.

Advertisement

Kamu semakin dewasa. Penampilanmu juga semakin berwibawa. Kita sama-sama menginjak usia 21 tahun. Kamu ingin bertemu denganku padahal kita telah lama lost contact karena aku pindah ke kota ini untuk menempuh kuliah. Kamu datang ke kota ini hanya untuk berlibur sekalian bertemu denganku. Sahabat yang diam-diam terus ingin dekatmu selama tiga tahun yang lalu. Meskipun saat ini enggan karena kamu sudah punya kekasih.

Kamu mengajakku ke komedi putar atau yang disebut pasar malam di kota kecilku. Naik bianglala kemudian naik ombak putar. Di saat aku ketakutan dengan putaran yang semakin tinggi, kamu malah memegang tanganku erat hingga 30 menit. Hingga putaran ombak putaran itu selesai.

Di saat mataku berkunang-kunang, sepintas kulihat serbuan cahaya hadir menyergap wajahmu. Senyummu masih seperti yang dulu. Tapi di saat itu, kamu malah tertawa memandangi wajahku yang pucat. Kamu selalu tahu kalau aku takut ketinggian.

Kita menghabiskan malam sampai komedi putar tutup. Sampai keremangan cahaya pasar malam mulai surut, kita mulai pulang. Di saat kita akan berpisah, barulah kamu berbisik pelan padaku.

Maafkan aku yang baru tahu perasaanmu enam bulan lalu dari sahabatmu. Anggap saja ini kencan pertama dan terakhir kita.

Aku menelan ludah. Semua terasa pahit karena di balik semua ini, ada campur tangan sahabatku dalam perasaannya saat ini.

Kamu baik. Kamu akan dapat lelaki yang baik pula.

Aku tersenyum kembali. Dalam langkah jalan menuju pulang, kita saling menunduk. Banyak sekali yang ingin kukatakan lebih dari ini. Misalnya, bagaimana aku dulu shock ketika melihatmu cidera saat tanding karate. Lalu aku mendoakanmu setiap malam menjelang tidurku. Lalu bagaimana aku berusaha mati-matian naik sabuk ujian karate agar kita bisa selalu sejajar. Bagaimana kekonyolan khayalanku dalam bermimpi berdua denganmu.

Tapi aku bisa apa. Lagu-lagu lawas yang selalu menggaungkan cinta tak harus memiliki memang terkadang benar adanya. Namun lebih tepatnya:

Ada banyak cara untuk mencintai seseorang yang kita sukai, meski dengan cara menyedihkan sekalipun. Sekalipun hanya sebagai sahabat.