Selamat datang kamu yang telah datang dan tinggal, dan kubiarkan tinggal. Kamu yang telah mencuri di waktu yang tepat dengan cara yang tepat pula. Mari berjalan bergandengan dengan menggenggam satu kata, "saling". Karena cinta itu berdua. Dua hati, dua keluarga, dua kenangan, dua pandangan, dan dua masa depan yang bersatu untuk satu tujuan.

Tujuanku bukanlah pernikahan. Sekedar bersanding bersalaman berfoto hingga larut malam. Tujuanku adalah, menggenggam tanganmu hingga napas tersengal dan tercabut. Entah siapa nanti yang duluan, aku harap itu aku. Tak sanggup berkenyataan bahwa jika nanti aku yang sendirian.

Selama ini aku telah sendiri dalam pencarian. Jujur, aku adalah petualang. Aku mencari dan terus mencari. Untuk siapa yang patut tinggal dan mengisi tawa keseharian. Merajut kebahagiaan hingga berkerut dan menutup mata. Seperti petualang, kadang merasa telah cukup dan akhirnya menemukan. Ternyata cukup itu bukanlah tujuan akhirnya kemudian berlari melompat lagi.

Kemudian di usia duapuluhan, si petualang sudah memiliki cukup bekal untuk mencari apa itu tempat tinggal, bukan persinggahan. Maaf dan terimakasih untuk pemberi pelajaran. Yang telah pergi atau kutinggalkan. Semua sakit yang pernah tercipta takkan menjadi luka. Membentuk sebuah formula, apa dan siapa yang kucari sebenarnya. Maaf jika aku pernah sengaja.

Itulah tuntutan karena hidup mencari kebahagiaan. Dan kebahagiaan, memiliki pembeda bagaimana meraihnya. Aku? Cukup dengan mendengarmu menyebut namaku. Aku mencintaimu. Mari saling mencintai. Kurasa itulah bahagia. Baiklah. Karena ini usia duapuluhan. Mari kita menyusun strategi. Aku akan sekuat tenaga menjadi apa yang seorang wanita bisa untuk membanggakan, membahagiakan, memberi senyuman kepadamu dan orangtuamu.

Advertisement

Poinnya, sekarang bukanlah saat mengenal tidak cocok dan tinggalkan. Sekarang, aku akan berusaha. Memanglah tiada yang sempurna, tapi kesempurnaan bisa didekati jika berusaha. Aku akan berusaha. Di usia duapuluhan, jangan lagi menyebut aku berusaha keras hanya untuk kebahagiaan orangtuaku. Kau dan orangtuamu tentu juga masuk daftar rencana masa depan dan untuk itulah kesusahan yang kudapat untuk menjadi lebih baik kutempuh dengan senang hati.

Untukmu yang telah kutemukan dan kubiarkan tinggal dan kutinggali hatinya. Peta si petualang sudah sampai di tujuan. Kuharap, jangan pernah khawatir akan segala kemungkinan. Berjuang bersama dan jadikanlah tujuan itu absolut dan bersilang merah dengan spidol marker. Menemukanmu adalah, hal yang sulit dan betapa lama aku menunggumu. Aku menetapkan hatiku pada hatimu. Akan kurantai kukunci sedemikian rupa karena kau adalah harta karunku.

Sebagaimana aku berteriak pada orang-orang akan betapa kehadiranmu membuatku mekar. Aku tak melakukannya pada mereka yang mendahuluimu. Itu bukanlah kesengajaan yang akan membuatmu tinggal dalam kepercayaan diri yang tinggi. Namun, tinggalah karena kau memiliki rasa yang sama.

Kamu adalah harapan. Satu-satunya harapan. Satu-satunya rindu yang akan selalu kurasakan. Cinta yang akan kucintai keberadaannya. Denganmu, kubelajar bagaimana mencintai dan dicintai yang aku cari. Engkau adalah kebenaran yang selalu aku semogakan. Aku akan menggenggam tanganmu. Kau akan tau bagaimana aku mencintai setiap bagian dari dirimu.

Hidup ini terjal, sayang. Bersamamu dalam genggaman membuatku yakin aku akan melintas dengan aman. Karena kau adalah ujung dari penantian dan pencarian.