Masuk pada usia dimana teman mulai sebar undangan pernikahan, media sosial berubah jadi katalog foto bayi-bayi lucu nan menggemaskan. Sedangkan kami masih menata hubungan, sama-sama meyakini diri yang ditenggelamkan serbuan pertanyaan. Perang diantara kami kian menggoyahkan kepercayaan selama ini.

Betulkah jatuh cinta satu-satunya jalan menuju pelaminan? Hanya cinta tanpa embel-embel, bisakah menua berdua dengan rasa yang sama serta bahagia begitu-gitu jua. Kurang lebih dalam setiap perang kami,

“Ku kira cuma ada dalam sinetron atau drama Korea. Sepasang manusia sebegitu sulitnya meraih restu orang tua, hanya karena dianggap beda.”

“Kita pasti bisa melewati berdua, asal masih ada cinta.”

“Justru karena itu, tujuan dari cinta bukan sekadar berdua, kemudian sudah begitu saja. Cinta sama dengan komitmen, tanggung jawab, kedewasaan pikiran. Cinta lambat laun adalah ikatan atau lepaskan demi masa depan.”

Tolong, jangan ditanya bagaimana sulitnya dua kepala yang sama kerasnya enggan terpecah pun mengalah pada masalah. Bagi dewasa mula, apalagi pasangan yang berusia tepat untuk sebuah pernikahan tentulah pernah berada pada titik jenuh kepastian hubungan yang harusnya sudah bukan lagi sekadar pacaran.

Pada akhirnya tiap-tiap pasangan mendapat keputusan dari Tuhan. Akan ditakdirkan berjodohan atau hanya jadi sebuah pelajaran kehidupan.

Advertisement

Lewat orang tua, Tuhan memberi jawaban, apakah sepatutnya dua jiwa dan raga dapat utuh dalam mahligai rumah tangga. Sayangnya, asam garam, manis getir, rupa-rupa suka duka membina tali perkawinan yang sudah dicicipi Ayah Ibu, membuatnya tegas bahkan kerap berselisih paham dengan anaknya.

Orang Jawa sendiri mengenal istilah “Bibit, Bebet, Bobot.”

Di suku lain tentu juga ada persyaratan yang mesti dipenuhi agar calon mertua luluh kemudian menyerahkan anaknya. Tujuannya bukan sebab mereka ingin mengotak-ngotakan status sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Atas nama kebaikan sang buah hati, mereka punya segudang daftar yang mesti terpenuhi.

Tingkat perceraian menyeramkan, rentetan akibat dari gagalnya pernikahan membuat Ayah dan Ibu kian memperketat seleksi calon mantu. Mereka kerap bergidik merinding, hingga berdoa agar anaknya menikah sekali seumur hidup, kemudian rumah tangga si anak mencapai bahagia. Tetapi, darah muda terlanjur bergejolak.

Impian memulai segalanya dari ‘nol’ bersama sang pujaan hati, bermodalkan perasaan membuat pasangan nekad melawan larangan. Tidak peduli dia siapa, pekerjaannya apa, orang mana, yang paling penting dia dan aku jatuh cinta bersamaan. Karena cinta terkadang gila, mau melakukan apapun demi yang dicinta.

Semakin lama, kentara bahwa cinta enggak pernah cukup untuk membangun rumah tangga. Seiring waktu yang dilewati bersama, cinta aja masih kurang pada saat nantinya ketika status berubah jadi suami istri, lalu beban berat mesti dipikul bukan hanya mengandalkan yang penting dapur ngebul.

Kemudian, intensitas seringnya pertengkaran meletup lewat jiwa yang menguncupkan bunga cinta bermekaran.

Perbedaan kadangkala jadi hal yang menyatukan, namun hidup selalu punya dua kemungkinan, antara iya dan tidak, baik atau buruk, dan kebalikan lain. Berkali-kali meyakinkan diri, untuk bersatu tidak selamanya satu. Magnet diciptakan berlawanan agar saling tarik-menarik, ada siang kemudian malam, perempuan dipasangkan bersama laki-laki.

Lamat-lamat pertanyaan terbesit, betulkan demikian,

Jika berbeda bisa bersama?

Ternyata, terlalu banyak hal yang berlawanan bikin cinta diliputi kegamangan.

Pengorbanan, perjuangan, dan berakhir pada kelelahan.

Mulanya kami berjanji membiarkan perbedaan jadi pelengkap dari kebahagiaan dan bukan salah satu hal yang perlu dipusingkan. Cinta tidak muluk-muluk, semua orang yang tengah dimabuk asmara sepakat kalau hati sederhana, cinta semudah mampu menerjang badai, melewati tiap ujian berduaan.

Cobaan seringkali melebihi angin topan, kekuatannya mampu melenyapkan bangunan kokoh dengan material beton sekali pun. Misi Tuhan mendewasakan seseorang tak pernah tertebak. CaraNya memperkenalkan manusia untuk menerima dan berlapang dada sungguh tidak terduga.

Cinta kita sama, Tuhan kita yang beda.

Cinta kita satu, tapi … kamu anak orang kaya raya, aku terbiasa hidup sederhana.

Cinta kita besar, pendidikan menggerakkan pola pikir, hingga yang tak sejajar merasa kerdil, terus mencari jalan keluar atas tiap pertengkaran pikiran.

Cinta kita perbedaan, etnosentrisme merubuhkan keragaman.

Seiring memutuskan ke jenjang yang lebih serius, cinta bukan lagi bicara aku dan kamu. Tapi aku, kamu, keluargaku, keluargamu.

Semisal tak sanggup melawan arus, sekali pun teramat cinta, baiknya mundur teratur agar hati sehat dan diri lebih kuat. Berlainan sejatinya dibutuhkan dalam sebuah hubungan, supaya bisa saling melengkapi, agar mampu menutupi ketidaksempurnaan pasangan. Tali cinta diibaratkan sebagai jalan, punya tujuan.

Pepatah bilang banyak jalan menuju Roma, apa mau dikata kalau orang tua telah membuktikan, terlalu luas jalan yang mesti ditempuh serta dicoba-coba membuat waktu, tenaga, dan kesabaran seseorang habis sebelum sampai tujuan. Pernikahan, tidak mutlak hanya dari perasaan. Pastikan partner untuk hidup kita, setidaknya punya mimpi, visi, misi, cita-cita yang bisa diintegrasikan biar hubungan enggak pacaran belaka, lalu bubar setelah bertahun-tahun dengan sia-sia.

Jika sudah tahu beda, tetap memutuskan untuk bersama, siapkan segalanya menghadapi perbedaan yang terlalu kontras. Andai keberatan, sejatinya hanya kerelaan untuk meninggalkan sebaik-baiknya hal yang bisa dilakukan. Jodoh itu tulang rusuk kita sendiri, sudah pasti Tuhan mengirim yang pas. Enggak terlalu tinggi, teramat rendah, lebih besar, pun ukurannya sangat kecil.